10 Novel Favorit; Sebuah Tantangan untuk Memilih yang Terbaik

Di facebook beredar sebuah virus mematikan yang membuat kita harus berpikir keras untuk mengatasinya, namanya Top Ten Most Favourite Novels. Saya bercanda kalau itu adalah virus, sebenarnya hanya permainan berantai menantang teman menyebutkan 10 novel favorit. Permainan ini sudah menjalar di teman-teman sekantor saya. Mereka sepertinya betul-betul serius dan kemudian berlomba-lomba menyebutkan 10 judul buku-buku berat favorit. Berat dari konten, berat secara fisik bukunya. Saya pribadi, pada dasarnya membaca buku apa saja, menyelesaikan jika suka, meninggalkan jika tidak suka. Dan bisa saya bilang, selain memfavoritkan novel, saya pun memfavoritkan penulisnya.

1. Biru

Masa kuliah saya boleh dibilang diperkaya dengan bacaan novel-novel populer, termasuk buku-buku karya Fira Basuki. Julukan Sastra Wangi memunculkan banyak nama, terkadang julukan ini dimaknai sinis, dengan kesan eksploitasi seksualitas dan tema yang hanya seputar perempuan. Fira Basuki punya gaya yang berbeda. Saya mengaguminya sampai sekarang. Saya suka dia, mulai dari kecerdasannya, pemikirannya, ide-ide ceritanya. Semuanya. Fanatik, Sayangnya Fira tidak punya fanbase seperti artis zaman sekarang. Selain Biru, trilogi Jendela, Pintu, Atap, juga saya baca tuntas.

2. Gerhana Kembar

Bahwa sastra LGBT identik dengan hal-hal porno, terbantahkan salah satunya oleh Clara Ng. Di sisi lain, hubungan kedua perempuan itu lebih dari sekadar sahabat sangat jelas ditunjukkan. Novel ini tidak menyajikan hal baru, tapi ada penggalian substansi yang belum pernah ada sebelumnya. Cerita mengalir dengan sebegitu natural, konflik dimainkan dengan apik, hingga klimaks yang membuat pembaca menahan napas sejenak.

3. Oteba

Marga T., seorang penulis yang legendaris. Kesabarannya dalam bercerita membuat saya mencintai dia dan karyanya. Erotisme adalah lazim dia tampilkan, tapi dalam kadar yang tidak berlebihan. Bukan untuk menggiring pembaca sampai tahap terangsang hasrat seksualnya. Dokter adalah tokoh yang sering muncul dalam novelnya. Katar belakang pendidikannya memang kedokteran. Tokoh protagonis dan antagonis novel ini ditampilkan dengan karakter kuat. Jalan cerita pun dibuat sesulit mungkin untuk ditebak. Baca sampai akhir, saya rasa itu yang akan dia katakan pada pembacanya.

4. Dimsum Terakhir

10 Novel Favorit; Sebuah Tantangan untuk Memilih yang Terbaik
Novel Favorit karya Clara Ng. Sumber gambar: getscoop.com

Konflik keluarga kali ini yang diangkat oleh Clara Ng. Empat bersaudara yang sama-sama sibuk lalu harus menyingkirakan ego untuk menemani orang tua mereka yang mulai tua dan sakit-sakitan. Tokoh-tokoh utama sudah dibekali dengan perwatakan yang kokoh sehingga pembaca dengan mudah mengenali kehadiran mereka di dalam cerita. Clara Ng memasukkan satu tokoh transeksual female to male bernama Rosi.

5. Sebuah Cinta yang Menangis

Yang saya sukai dari novel ini adalah tokohnya, sulit buat saya untuk berhenti membayangkan jika dia ada Herlinatiens. Ah mungkin saya kurang waras, tapi itulah yang saya rasakan. Saya tidak tahu bagaimana pendapat pembaca lainnya. Bisa jadi berbeda. Ending dari novel ini menyesakkan.

6. Harry Potter 1-7

Novel fantasi karya JK Rowling menurut saya memang layak disebut fenomenal. Seluruh dunia membaca buku ini, menunggu-nunggu satu demi satu seri si penyihir berkacamata bulat dengan tanda petir di dahinya.

7. Maria Tsabat

Sosok pemain biola dengan aura sensualitas. Itulah Maria Tsabat, tokoh utama yang dihadirkan Herlinatiens dalam novel terbarunya. Diksinya yang susah luar biasa ditiru orang memang menjadi ciri khasnya. Puitis, terkadang bermain di ranah seks, kadang penuh misteri. Gaya itu terjaga semenjak terbitnya Garis Tepi Seorang Lesbian hingga sekarang. Saya acungkan jempol.

8. Nayla
Penulis fenomenal dan seksi, Djenar Maesa Ayu. Dia tampil dengan gaya tulisan yang sangat terbuka, seputar daerah selangkangan, jorok kata orang, apa adanya kata saya. Seorang penulis bebas kan tampil mau dengan kesan apa? Meski sudah punya dua anak, Djenar di mata saya tetap seksi dan menggoda. Seniman memang punya kebebasan dan tidak semua orang bisa menjadi seniman.

9. Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Dee atau Dewi Lestari adalah seorang penyanyi. Tapi jangan salah, dia muncul sebagai penulis di luar faktor aji mumpung. Dia memang sangat pandai bercerita. Sangat menguasai filosofi. Sangat berani menampilkan sesuatu yang akan berbuntut kontroversi. KPBJ memang tidak seberat novel-novel dia yang selanjutnya. Saya tidak kuat untuk melahap filsafat dan mengibarkan bendera putih meski dibayar mahal untuk itu.

10. Perempuan di Titik Nol
Saya mulai akrab dengan feminisme semenjak kuliah. Feminis sering dianggap sebagai pemberontak, liberal, lesbian yang mencari pembenaran, dan banyak lagi. Tapi jangan salah, feminis ada yang dari kaum lelaki. Nawal adalah penulis yang sangat memperhatikan betapa diskriminasi terhadap perempuan di Arab itu sangat memprihatinkan. Tradisi-tradisi yang masih dipertahankan jauh sebelum masuknya Islam. Hey, Arab ya Arab. Islam ya Islam. Islam terlalu moderat untuk bisa mengubah pola pikir orang Arab. Dan orang Arab pun tidak mau semua tradisi mereka diubah. Lihatlah orang Arab sekarang yang bermegah-megah. Itu sama dengan bangsa Arab yang sering memakai baju hingga menyeret-nyeret di tanah. Dan perempuan, adalah kelas dua. Kelas yang diatur, kelas yang tidak dianggap mampu mensejajarai lelaki. Memang, lelaki dan perempuan berbeda, tapi soal hal-hak hidup, apa iya tidak bisa sama? Nawal adalah feminis Arab yang juga banyak mengkritik pemerintahan yang berkuasa. Dia masuk penjara gara-gara itu, Tapi itu tidak membuatnya bungkam. Dia penulis yang luar biasa berani. Saya kagum, dan skripsi saya pun membahas salah satu cerpennya.

Nah, 10 novel favorit saya. dari 8 penulis perempuan. Lagi-lagi, saya katakan, saya menuliskan ini tidak dengan keseriusan tingkat tinggi. Saya suka dengan cerita-cerita populer dan that’s the way I am.

Lalu, apa novel favorit kamu?

 

Jogja, 10 September 2014