12 Years a Slave (2013); Film Kesialan Seorang Pria Kulit Hitam

12 Years a Slave (2013); Film Kesialan Seorang Pria Kulit Hitam
12 Years a Slave (2013). Sumber gambar: IMDB

12 Years a Slave kuat dengan nuansa penyiksaan, pembunuhan, mandor yang sok berkuasa, dan pekerjaan yang dibayar secara tidak layak. Inilah gambaran Amerika sekitar tahun 1800 dan layak jika menjadi primadona dalam Golden Globe dan Academy Awards 2014.

Solomon Northup harus merelakan 12 tahun dalam hidupnya menjadi budak kaum kulit putih sebelum akhirnya bisa merasakan kembali kebebasannya. F

ilm yang diadaptasi dari kisah nyata Solomon Northup ini membuat saya pedih sendiri. Sekarang memang sudah tidak ada perbudakan, tapi yang namanya human trafficking nggak ada habisnya.

Pada awalnya, Solomon Northup adalah seorang violinis yang tinggal di Saratoga, New York. Memiliki seorang istri dan dua anak yang masih kecil. Suatu hari, dia bertemu dengan 2 lelaki kulit putih dan menawarinya pekerjaan di kota lain. Solomon sama sekali tidak curiga karena toh ia hanya akan pergi di saat istri dan kedua anaknya keluar kota. Ia pun dijamu dan dibuat mabuk. Ketika terbangun, ia sudah berada di dalam sel dengan kaki dan tangan terikat. Tidak hanya itu, ia pun diperlakukan layaknya tahanan yang disiksa dan dipaksa mengakui sebagai budak pelarian dari Georgia.

Ia da beberapa budak lain pun dibawa ke bagian selatan dengan kapal lalu dijual ke kaum kulit putih. Nama Solomon berubah menjadi Platt. Di pasar budak, ia kemudian dibeli oleh Mr. Ford yang sebenarnya baik hati, tidak sekejam majikan Platt yang setelahnya, Edward Epps.

Dengan Epps, Platt dipekerjakan di perkebunan kapas. Pekerjaan di sana sangat keras. Hasil panen kapas setiap budak selalu ditimbang oleh Epps. Bagi yang bisa memanen paling banyak, ia bisa bebas dari tugas selanjutnya. Satu-satunya yang selalu bisa melampaui target adalah seorang budak wanita bernama Patsy. Epps ini buka cuma menjadikan Patsy budak kesayangan, tapi juga sebagai tempat pelampiasan hasrat seksualnya. Jangan harap ada adegan romantis antara budak dan majikan ini, namanya juga tempat pelampiasan. Padahal Epps memiliki istri yang cukup cantik meski terkesan otoriter.

Platt juga sempat berganti majikan, Judge Turner, ketika perkebunan Epps sedang dilanda hama ulat dan gagal panen. Tapi, nggak lama, dan Platt kemudian dikembalikan pada Epps.

Apakah Platt tidak berusaha mencari pembebasan atas dirinya? Tentu saja di berusaha, tapi tidak gampang. Ia pernah meminta bantuan seorang budak kulit putih pemabuk bernama Armsby untuk mengirimkan sebuah surat untuk relasi Platt di Armsville, tapi gagal karena Armsby malah menyampaikan niat itu pada Epps. Sebelum tertangkap tangan, Platt segera memusnahkan surat itu. Untuk melarikan diri pun tidak mungkin ia lakukan karena bagaimana pun juga, ia berada di bawah kepemilikan Epps.

Orang yang membuat Platt memiliki keinginan untuk bebas adalah Bass (Brad Pitt memerankan tokoh ini dan tampil hanya beberapa scene, peran kecil tapi cukup berpengaruh dalam cerita). 12 tahun kelam itu akhirnya berakhir dan pertemuan kembali Plat alias Solomon dengan keluarganya menjadi bagian klimaks yang amat mengharukan.

Trailer 12 Years a Slave:

Yogyakarta, 7 Februari 2014
Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response