13 Reasons Why (2017): Serial TV 13 Alasan Seorang Remaja Bunuh Diri

13 Reasons Why (2017): Serial TV 13 Alasan Seorang Remaja Bunuh Diri
13 Reasons Why (2017). Sumber gambar: IMDB

Antara remaja dan tindakan bunuh diri, terdapat data-data statistik yang membuat orang tua perlu lebih waspada kepada anak-anaknya. Seberapa parah sih sebenarnya kecenderungan tersebut sehingga menjadi salah satu alasan ditayangkannya serial 13 Reasons Why oleh Netflix?

Saya kutip sejumlah statistik yang cukup menyedihkan versi jasonfoundation.com tahun 2015, bahwa:

  • Bunuh diri merupakan penyebab utama kedua kematian remaja usia 10-24 tahun.
  • Lebih banyak remaja yang mati karena bunuh diri dibandingkan dengan sakit kanker, jantung, AIDS, stroke, dan komplikasi penyakit lainnya.
  • Diperkirakan, setiap hari rata-rata 5,240 kasus percobaan bunuh diri di kalangan anak muda usia 7-12 tahun.
  • Empat dari lima kasus percobaan bunuh diri dilakukan dengan memberi tanda-tanda yang jelas.

Bunuh diri, di negara kita, menempati peringkat kedelapan. Thailand berada di peringkat pertama menurut data yang dimiliki oleh WHO. Miris ya kan? Saya tidak akan berpanjang-panjang membahas penyebab seseorang bunuh diri, apalagi caranya. Siapalah saya? Gelar saya hanya sarjana sastra, dapat selempang cum laude pun gara-gara pihak jurusan salah nulis angka IPK.

13 Reasons Why mengangkat sebuah kasus seorang murid setara SMA, high school di luar negeri sana, bernama Hannah Baker. Seorang murid pindahan yang memilih untuk mengakhiri hidup karena merasa beban hidupnya sudah terlalu berat. Sebelum melakukan aksi bunuh diri, dia meninggalkan semacam kenang-kenangan untuk orang-orang yang dianggapnya memiliki keterkaitan dengan alasan dia melakukan itu. Tiap-tiap orang dikiriminya rekaman suaranya yang perlahan-lahan membuka rahasia-rahasia orang-orang terdekatnya.

Termasuk Clay Jensen. Jika mengira dia adalah orang pertama yang tahu, agak keliru juga. Rekaman-rekaman itu sudah sampai ke beberapa orang namun saling menutup mulut sebelum Clay-yang dipanggil Helmet oleh Hannah karena memakai helmet sepeda (sudah, penonton tidak usah protes)-mendengarkan sisi demi sisi kaset itu.

Jangan tanya sama saya mengapa di zaman penyimpanan cloud yang tanpa batas, masih ada yang memakai kaset. Asal tahu saja, kaset itu adalah barang rapuh yang mudah rusak, kalau keseringan dipercepat atau diputar ulang, pitanya bakal nyangkut di pemutarnya. Kita harus menggulungnya sampai rapi kembali dengan pensil (jangan pakai yang 2B karena itu buat ngisi jawaban EBTANAS lagipula ujungnya mudah patah kalau jatuh ke lantai keramik, biasanya kalau diserut lagi pasti patah lagi, mendingan pakai pisau cutter. Ini apa sih?) atau pulpen Pilot.

Masih ada yang menggunakan kaset di tahun 2017 sementara seabrek paketan itu harus dikopi beberapa kali agar tiap orang yang menjadi penyebab bunuh dirinya tahu dan paranoid? What a wasting time!

Clay setahap demi setahap napak tilas dengan jejak-jejak keberadaan Hannah, turut merasakan suasana yang pernah dialami Hannah. Bagaimana dia dipermalukan teman sekolahnya, dia merasa asing di sekolah baru, mendapat teman baru tapi ternyata tidak bertahan lama karena ada cinta dan kecemburuan, skandal-skandal dalam keluarga. Jujur, saya awalnya bosan. Bukan dengan ceritanya, tapi eksekusi sebuah plot yang sebenarnya bagus menjadi sangat datar. Saya tidak mengenal satu pun pemainnya. Adegannya mirip dengan adegan-adegan sinetron yang tayang tiap hari dan pemainnya mukanya putih pucat kena lighting kamera yang berlebihan plus polesan BB cream impor Korea Selatan. Tidak mencerminkan kulit mayoritas orang Indonesia.

Di episode kedua, ada semacam “paksaan” untuk tetap penasaran rangkaian demi rangkaian yang menghubungkan antara satu tokoh dengan lainnya. Pasti ada sesuatu hingga rating di IMDB-nya 8,6. Maka, saya pun mengenyampingkan perkara akting yang garing dan monotonisme: putar kaset-flashback-putar kaset flashback. Saya akan sabar menunggu sampai kepingan-kepingan puzzle itu terlengkapi seutuhnya. Itu kalau saya belum berhasil dapat film-film bagus sih.

Trailer 13 Reasons Why:

Jogja, 9 Juli 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response