5W+1H dalam Fiksi; Menulis Fiksi Tak Berbeda dengan Menulis Berita

5W+1H dalam Fiksi; Menulis Fiksi Tak Berbeda dengan Berita 2
5W+1H dalam Fiksi. Sumber gambar: pixabay.com.

Mengeksplorasi teori-teori kepenulisan fiksi tidak akan pernah ada habisnya. Ada dinamisasi dari masa ke masa yang memberikan kemudahan bagi siapa pun yang ini menulis karya fiksi. Teori hanyalah alat bantu bagi yang merasa bingung harus menulis dari mana. Teori bukanlah aturan yang sepenuhnya harus ditaati saat penulisan sebuah karya. Banyak penulis yang bahkan mengabaikan teori dalam praktiknya.

Setiap penulis bahkan bisa melahirkan teori menulis ada dirinya sendiri dan disebarkan pada forum-forum komunitas, media, dan sebagainya. Lalu manakah teori menulis yang paling manjur menghasilkan sebuah karya fiksi yang baik? Tidak ada. Teori bukan penentu dari segalanya. Bahkan teori sastra yang telah mendarah daging pun, dipelajari bersemester-semester di kampus sastra, lagi-lagi hanyalah parameter yang sifatnya fleksibel.

Aplikasi-aplikasi dari karya kepenulisan merupakan tingkatan tertinggi. Novel, cerpen, novelet, cerita bersambung, dan sebagainya, jika diotopsi dengan pisau-pisau yang tepat, maka memperlihatkan kekayaan-kekayaan yang mencengangkan, baik itu sifatnya baru, modifikasi, atau sangat klasik. Bulan depan, tahun depan, pasti ada hal-hal baru lagi yang muncul di permukaan. Jadi, jangan takut menulis sesuatu yang baru karena dengan begitu kesusasteraan dunia akan abadi.

Seminggu lalu saya diundang sebagai pembicara di sebuah SMA negeri di Jogja. Kalau tidak salah di hari terakhir orientasi sekolah. Semua anak baru harus mengikuti acara yang dirancang oleh dedengkot ekskul jurnalistik. Saya bingung sebenarnya dengan acara ini. Saya tidak berkecimpung dalam dunia jurnalistik murni. Walaupun saya tahu dasar-dasarnya.

Dari proposal kerja sama yang mereka kirimkan, di mana titik tekan mereka adalah agar anak-anak baru ini memiliki spirit menulis fiksi yang baik,  dan tentunya tidak melupakan komposisi utama dalam penulisan karya jurnalistik yaitu berita, saya buatlah coret-coretan garis besarnya. Mereka juga telah mengirimkan sampel karya mereka sesuai dengan permintaan saya.

5W+1H dalam Fiksi; Menulis Fiksi Tak Berbeda dengan Berita
5W+1H dalam Fiksi. Sumber gambar: pixabay.com

Kenapa saya minta, karena alangkah sia-sianya jika saya menyampaikan sesuatu yang sebenarnya mereka sudah tahu. Dari tulisan, setidaknya memberikan contoh-contoh mikro yang kemudian bisa saya bahas di depan mereka. Sebenarnya saya mengharapkan mereka mengirimkan contoh tulisan nonfiksi. Menganalisisnya lebih mudah ketimbang fiksi. Bagaimana mereka merangkaikan data-data yang ada menjadi sebuah satu paket bernama berita. Tapi, dengan waktu yang sangat terbatas, 90 menit, saya harus bisa memanfaatkan apa yang ada di hadapan saya.

Materi saya berjudul 5W+1H dalam Fiksi. Saya ingin mereka semakin paham bahwa pada dasarnya menulis fiksi tidak jauh berbeda dengan penulisan berita yang sehari-hari kita baca di koran-koran. Ada 6 poin yang harus masuk dalam penulisan berita. Ibarat syarat sahnya pernikahan, tidak ada mempelai maka tidak akan ada pernikahan, demikian pula berita. Ketika mereka merasa sudah mapan dengan penguasaan penulisan untuk keperluan jurnalistik, masuk ke ranah fiksi tidak akan menjadi beban lagi. Atau sebaliknya. Ketidakpuasan dalam ranah fiksi, sangat sah menjadi alasan seseorang masuk ke ranah jurnalistik. Sama halnya dengan seorang pelari yang ingin pindah ke cabang bersepeda. Intinya mengandalkan kekuatan kaki.

Ada tiga kesamaan antara berita dan karya fiksi, semisal cerpen. Pertama, berita maupun cerpen ditulis berdasarkan data-data. Berita mengambil data-data di lapangan. Fiksi menggunakan data-data dalam ranah imajinasi yang dibentuk oleh si penulis.

Kesamaan kedua, berita maupun cerpen ditulis untuk menyampaikan sebuah informasi kepada pembaca tentang sebuah kejadian. Berita lelayu sekalipun juga ditujukan agar orang-orang sekitar tahu bahwa baru saja malaikat maut datang buat menjalankan tugas mencabut nyawa lalu pergi tanpa diantar. Cerpen tidak hanya berputar dalam imajinasi-imajinasi yang mengambang. Ada pesan dalam bentuk metafora, misalnya, yang bisa diterjemahkan secara semiotik dan berbagai cabang linguistik lainnya.

Kesamaan yang ketiga, berita dan cerpen itu dibuat untuk dibaca. Demi kelangsungan pengetahuan, maka kedua jenis karya manusia ini tidak boleh tidak, harus ditujukan untuk terakses manusia. Karena dua unsur yang terkandung dalam dua poin sebelumnya. Manusia hidup dalam gelimang data-data yang terus datang dan pergi. Tanpa itu, kita akan kembali dalam abad kegelapan, di mana matahari tidak bersinar selama setahun penuh. Bukan itu juga kali ya definisi abad kegelapan.

Saya bahas satu per satu kesamaan berita dan cerpen dengan melibatkan si 5W+1H demi membuktikan bahwa saya tidak sedang mengada-ngada.

5W+1H dalam Fiksi; Menulis Fiksi Tak Berbeda dengan Berita 3
5W+1H dalam Fiksi. Sumber gambar: pixabay.com.
  1. What (Apa)

Apa sih yang ingin ditulis dalam cerpen? Tahap “apa” serupa dengan pemilihan tema dalam dunia fiksi. Tema merupakan bibit, akar, tunas, inti dari sebuah cerita. Tema bisa saja datang dari diri sendiri, orang lain, fenomena, kasus viral, bisikan gaib, dan sebagainya. Ada yang bilang ide. Kurang lebih sama. Idealnya ketika menulis, pastikan sudah memegang tema yang jelas. Dari situ, kita akan tahu, amunisi apa yang dibutuhkan untuk mematangkan tema menjadi cerita yang utuh.

  1. Why (Mengapa)

Kenapa adalah pertanyaan yang sering diajukan orang-orang yang cerdas. Kenapa akan memancing munculnya penjelasan-penjelasan ilmiah. Kenapa beda dengan kepo. Kepo adalah keingintahuan pada hal-hal yang kadang tidak penting. Karena begitu sudah tahu, mulut kita hanya akan berkata, “O.” Jangan terlalu sering kepo.

Oke, kita sudah nemu tema. Kita harus punya alasan mengapa itu tema yang kita pilih dari sekian juta tema yang tersebar di jagad. Kenapa tema lagi-lagi tema cinta segitiga bak Tunggul Ametung-Ken Dedes-Ken Arok? Boleh jadi, itu merupakan hal yang lazim terjadi di lingkungan sekitar dan membuat kita cemas, terlebih kita menjadi korbannya.

Adanya alasan akan melahirkan pula keinginan untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sampaikanlah bahwa cinta segitiga akan membawamu kepada penderitaan. Atau cinta segitiga berjuta rasanya. Ingat, sebuah cerita harus ada pesan moral. Makan kerupuk kerupuk saja ada pesan moralnya: jangan makan kerupuk kalau takut batuk sebab minyaknya sudah sehitam oli bekas. Apalagi itu cerpen. Pesan moral bisa eksplisit, bisa juga implisit. Karya-karya klasik banyak yang pesan moralnya disampaikan secara terbuka. Sementara karya kekinian agak gengsi kalau terlalu ceramah sehingga akhirnya disampaikan implisit dan kadang malah tidak sampai ke pembaca yang awam.

  1. Who (Siapa)

Dari contoh-contoh karya murid yang dikirimkan kepada saya, seluruhnya memakai tokoh manusia sebagai penggerak cerita. Saya memaklumi itu. Boleh jadi pengaruh bacaan mereka memang belum sampai ke karya sastra surealis. Tidak masalah. Tidak harus kok kita membaca semua jenis karya sastra biar dikira hebat. Dan jika alasanmu membaca buku Danarto dan kawan-kawannya sesama penulis realisme magis hanya untuk dipamer-pamerkan, berhentilah dari sekarang. Kamu hanya akan terlihat kurang cerdas. Yang namanya pamer adalah perbuatan yang tidak menyenangkan. Apa pun objek yang dipamerkan.

Saya sempat mengatakan kepada audiensi, tokoh bisa berupa apa pun juga. Yang pasti dia bernyawa. Maaf kurang tanda kutip. Penulis bisa menghidupkan benda apa pun dalam imajinasinya. Ponsel yang menyimpan banyak rahasia si empunya, laptop yang banyak menyimpan film bokep, lidah yang sering menjilati atasannya biar disayang terus, matahari yang diskonan 20%+50% tiap weekend.

Tokoh juga memerlukan karakter. Bisa berupa sifat, gestur, mimik, status sosial, status pernikahan, dan sebagainya.

  1. When (Kapan)

Kapan dalam penulisan berita, setara dengan pemilihan setting waktu sebuah cerita. Ada banyak alternatif setting waktu yang bisa digunakan. Tidak melulu harus menyebutkan tanggal dan jam seperti halnya berita. Boleh semacam ini: di penghujung musim kemarau, tak lama setelah matahari tenggelam, di hari takziyah, di hari kiamat, seratus tahun setelah Revolusi Industri.

  1. Where (Di Mana)

Setting tempat adalah sebuah unsur wajib juga dalam cerita. Ada dua cara juga penyebutan setting tempat. Dengan menyebut nama tempatnya, atau mendeskripsikannya. Penyebutan nama misalnya, Tugu Jogja, Stasiun Lempuyangan, Teluk Bayur, pesawat Qantas jurusan Paris.

Dengan deskripsi biasanya digunakan oleh penulis yang punya daya ingat visual yang baik akan sebuah tempat. Pernah berada di sana, ingin berada di sana, atau tidak ingin berada di sana.

Misalnya: Sebuah ruang sempit di bawah tanah dengan satu jendela kecil berkaca buram. Kadang cahaya matahari masuk lewat sana, kadang juga tidak. Kadang dedaunan kering membentuk siluet sebelum diterbangkan angin. Mainan anak-anak tertumpuk dalam kardus-kardus. Sepeda mini penuh karat. Kardus-kardus baju bayu berlubang digigit tikus-tikus yang bersarang di sebelah. Sesekali datang mencari apa saja yang bisa dimakan.

Si penulis tidak mau langsung menyebut itu sebagai gudang penyimpanan barang karena ingin memunculkan efek dramatis. Orang juga akan ikut membayangkannya. Itu belum sampai pada kalimat: tulang-tulang manusia berserakan di bawah tangga. Hih! Apa deh.

  1. How (Bagaimana)

Selesai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan, maka kita butuh plot agar tokohnya tidak hanya diam seperti mannequin challenge. Dia harus mengalami sesuatu dalam kehidupannya, menjadi saksi sebuah peristiwa, atau menjadi korbannya bahkan. Lalu bagaimana kelak cerita diklimakskan hingga di antiklimaks pada ending. Plot bisa berupa penceritaan maju. Ibarat menulis diary, kita menuliskan kejadian yang kita alami hari ini. Variasi plot lainnya adalah mundur ke masa lalu, atau maju jauh ke masa depan. Tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk masuk ke ranah masa depan. Sebab fiksi tidak memiliki batas ruang dan waktu.

5W+1H dalam Fiksi; Menulis Fiksi Tak Berbeda dengan Berita 4
5W+1H dalam Fiksi. Sumber gambar: pixabay.com.

Plot juga mengandung benih-benih konflik. Konflik tidak perlu selalu dimaknai sebagai keributan, perang mulut, perang saudara, KDRT, dan sebagainya. Konflik bisa berasal dari rasa penasaran seorang hakim terhadap salah seorang saksi di persidangan yang dipimpinnya. Bisa berasal dari rasa bersalah seorang pemuda yang menolak cinta seseorang dengan melempar kue tart ke mukanya.

Perlu saya kasih contoh untuk plot dan konflik? Nggak perlu? Ha? Yakin? Kasih ya.

Misal:

Lena adalah sebuah hape yang suatu hari mendapati dirinya berbaring di lantai kamar pemiliknya. Sesuatu yang ajaib telah terjadi semalam, Tiba-tiba petir menyambar dan mengenai dirinya yang sedang dicas oleh si pemilik. Kamar yang awalnya gelap gulita seketika penuh dengan cahaya putih menyilaukan. Setelah itu Lena tidak ingat apa-apa. Hanya ada dia di kamar itu. Punya menyimpan semua memori di dalam kepalanya. Tentang orang-orang di sekolah si pemilik. Tentang gosip anak-anak populer dan pesta-pesta terlarang mereka. Tentang seorang siswa yang sejak tahun pertama menjadi korban bully. Lena diam-diam menyelidiki rumor demi rumor hingga akhirnya rumor tentang si pemilik. Dalam waktu yang sangat terbatas, sebelum keajaiban itu hilang, dia harus mencegah kejadian buruk yang akan menimpa si pemilik hape. Atau segalanya akan terlambat, dia kembali menjadi sebuah hape yang hanya bisa menjadi teman sejati si pemilik hape yang kesepian.

Dari gambaran ringkas, maka tugas mulia berikutnya adalah mulai menuliskan cerita sesuai dengan gambaran inti cerita. Dalam perjalanannya, sah-sah saja dikembangkan dengan adanya tokoh-tokoh lain. Dengan catatan, kita mampu memberi porsi yang sesuai. Maksud saya, jangan sampai si pemeran utama hanya terlihat seperti tokoh numpang lewat, dan tokoh tidak penting menjadi sangat sering muncul.

Abaikan terlebih dahulu keinginan untuk menyunting dalam tahap penulisan karena merasa ada bagian yang janggal. Ketika cerita telah menjadi utuh, barulah kita mulai melakukan pengecekan berdasarkan logika-logika cerita. Itu akan lebih baik meskipun boleh jadi banyak bagian yang akan kita rombak lagi.

Nah, itu tadi kurang lebihnya penerapan 5W+1H dalam cerpen. Dan sekarang, silakan mulai mencoba.

 

Jogja, 30 Juli 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response