A Copy of My Mind (2015), Gadis yang Selalu Dibangunkan Azan Subuh

A Copy of My Mind (2015), Gadis yang Selalu Dibangunkan Azan Subuh

A Copy of My Mind (2015). Sumber gambar: IMDBA Copy of My Mind adalah film Indonesia pertama yang saya tonton di tahun 2017. Diproduksi pada tahun 2015, masuk bioskop pada tahun 2016, dan saya lupa alasan kenapa film ini masuk ke flash disk. Kalau tidak salah ingat, film ini menjadi bahan perbincangan karena ada adegan intim antara Sari (Tara Bastro), seorang terapi di salon murah yang berusaha menaikkan level hidupnya dengan melamar ke sebuah salon eksklusif namun tidak kunjung diberikan kesempatan menangani klien secara langsung, dengan Alex (Chicco Jerikho) seorang penerjemah film bajakan dengan kemampuan menerjemahkan teks jauh di bawah standar.

Sebenarnya adegan intim itu buat saya biasa saja. Tidak begitu mengesankan, barangkali karena saya terbiasa menonton adegan yang jauh lebih menggairahkan dari film-film produksi barat yang diarahkan juga tata lampu yang tepat.

Mendapatkan 7 nominasi Festival Film Indonesia 2015, untuk kategori Penata Musik Terbaik, Penata Suara Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Pemeran Wanita Utama Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Terbaik. Untuk Film Terbaik FFI 2015 direbut oleh film Siti. Joko Anwar, Tara bistro, dan Hikmawan Santosa berhasil menyelamatkan 3 piala FFI.

Film ini mendapat banyak pujian, termasuk juri FFI sendiri. Jadi, ketika saya merasa film ini sangat lambat dan ada sejumlah pertanyaan, sayalah yang boleh jadi kurang bisa memahami seni dari sebuah film.

Fokus dari A Copy of My Mind jujur saya tidak paham mau ke arah mana. Percintaan antara Alex dan Sari, ataukah perkara skandal suap anggota dewan yang terekam kamera. Ya bebas saja memang si penulis cerita mau menyampaikan apa, tapi bukankah di sebuah film akan ada cerita intinya?

Sari berkenalan dengan Alex karena kualitas subtitle yang dibuat pria tanpa identitas itu sangat buruk. Maklum, hanya memakai bantuan mesin penerjemah yang tidak paham dengan konteks. Anehnya, Sari, yang pastinya sudah berkali-kali membeli film bajakan, tidak bisa memilih mana film dengan terjemahan yang bagus dengan tidak. Dia tahu terjemahannya jelek, bukahkah itu berarti dia paham dengan bahasa Inggris? Lagi pula, jika film yang ditontonnya bukan yang sejenis A Beautiful Mind yang rumit dan kosa katanya rumit, masih bisa dinikmati, bukan?

Yang menjadi pertanyaan saya pula, dengan pekerjaan sebagai penerjemah film, masak iya si Alex ini sama sekali tidak punya bekal bahasa Inggris? Setidaknya untuk percakapan mudah, seharusnya tidak menjadi masalah. Apalagi dia dibayar cukup lumayan untuk 1 judul film.

Kegusaran Sari pada Alex hilang begitu saja ketika mereka berkenalan. Malah keduanya dalam waktu singkat sudah bercumbu dan tidur bersama. Sementara itu, Sari mencoba peruntungan di sebuah salon eksklusif dan wajib menjalani masa pelatihan selama beberapa minggu. Sari hanya menjadi penonton seorang terapis senior memakai berbagai alat canggih. Saya sih tidak melihat alat canggihnya apa saja. Mungkin penonton lain juga tidak. Dan menjadi pertanyaan saya adalah, untuk kelas salon mahal, mengapa begitu mudah memasukkan orang baru yang tidak membawa surat rekomendasi dari tempat sebelumnya. Sebab, Sari masih status karyawan di salon yang lama. Mungkinkah ini terjadi?

A Copy of My Mind tidak hanya membahas tentang Sari, seorang warga pendatang di Jakarta yang tinggal di kosan besar berpenghuni hampir 100 orang dengan kamar mandi hanya 10 hingga setiap hari harus mengantre mandi, makan sering hanya mi instan, terbangun di pagi hari dengan bantuan suara azan yang berganti-gantian dari masjid di sekitarnya, dan seorang penggemar film. Ketegangan cerita dipicu ketika suatu hari Sari mencuri sebuah kepingan DVD yang rupanya berisi rekaman transaksi penyuapan dengan beberapa anggota dewan untuk mengegolkan sebuah proyek pembangunan resor. Tahu bahwa dirinya salah mencuri DVD, Sari berusaha mengembalikannya. Sayangnya, itu tidak mudah dilakukan.

Ada pihak yang menyadari bahwa Sari bisa menjadi orang berbahaya, maka dia pun menjadi target. Sayangnya, saya tidak terpancing tegang sedikit pun. Alex menjadi korban. Dia diculik lalu disiksa demi mengatakan keberadaan Sari. Seolah, Sari ini susah betul dicari. Padahal, dia berada di tempat-tempat umum, dia tidak mengurung diri di suatu tempat yang susah diketahui orang banyak. Mengapa dia tidak tertangkap? Padahal untuk kasus orang-orang hilang, mereka sudah berusaha menghilangkan jejak dengan berpindah-pindah tempat. Lagi-lagi mungkin karena saya terlalu berpikir kritis.

Ada ganjalan juga yang saya temui dari film ini. Tentang ponsel Sari. Bagaimana ceritanya hingga ponsel itu ada di tangan ibu kos Alex. Ponsel Sari, terakhir dipegang Alex lalu dibuang pot tanaman di balkon kamarnya. Apa yang terjadi hingga ponsel itu berpindah tempat? Dan Sari selama Alex menghilang, tidak merasa aneh dengan ketiadaan ponselnya. Padahal suara ponselnya itu cukup keras. Dan Alex, terakhir kali memegangnya, tidak menonaktifkan ponsel itu.  Masak iya selam sekian hari tidak pernah ada yang menghubungi nomor tersebut? Bukankah dia tinggal jauh dari keluarga?

Rekaman transaksi bisnis antara Mirna dan para anggota dewan menurut saya juga aneh. Apa tujuan rekaman itu dibuat? Mengapa Mirna menyimpan benda seberbahaya itu di dalam sel tahanan? Jika itu bisa membahayakan dirinya, mengapa tidak dimusnahkan? Mengapa bukan rekaman suara? Seolah ingin menunjukkan bahwa Mirna melakukan transaksi bukan dengan sembarang orang, bahwa orang itu berkeliaran dengan bebas dengan uang haram di sakunya.

Lagi, ketika Sari dipilih sebagai terapis yang akan sering bolak-balik rumah tahanan demi melayani Mirna, bukankah dia masih dianggap belum memenuhi standar yang diinginkan atasannya? Saya rasa Mirna adalah klien istimewa yang seharusnya mendapatkan pelayanan berkelas pula, bukan dari seorang calon pegawai yang masih training. Bagaimana mungkin si atasan tidak berkomunikasi terlebih dahulu dengan Mirna perihal ada terapis baru menggantikan terapis lama yang entah ke mana? Dan jika Sari bisa masuk kamar tahanan Mirna tanpa izin Mirna (karena di adegan, Mirna kaget dengan kedatangan Sari), mengapa di saat berikutnya Sari tidak diizinkan masuk oleh petugas? Bagaimana sebenarnya sistem izin masuk ke dalam kamar tahanan?

Alur A Copy of My Mind terbilang lambat. Banyak satu adegan yang diambil dengan durasi terlalu panjang. Sehingga durasi 2 jam, terasa begitu membosankan. Saya membaca beberapa ulasan film ini dan mengeluhkan hal yang sama. Minim dengan dialog-dialog yang berisi. Bukan berarti harus dialog berat, namun menjadi nyawa dalam cerita setidaknya mempererat chemistry antara tokoh dengan penonton.

Trailer A Copy of My Mind:

 

Jogja, 22 Januari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response