A Frozen Flower (2008); Kecemburuan sang Raja pada Pacar Lelakinya

A Frozen Flower (2008); Kecemburuan sang Raja pada Pacar Lelakinya
A Frozen Flower (2008). Sumber gambar: IMDB.

A Frozen Flower berjudul asli Ssang-hwa-jeom. Meraih penghargaan Best Actor di ajang Baek Sang Art Awards 2009, Orient Express Section Special Jury Award di ajang Fantasporto 2010, dan Best Art Direction pada Grand Bell Awards, South Korea 2009.

Film ini bisa mampir ke laptop kesayangan karena termasuk dalam salah satu film LGBT Korea yang banyak direkomendasikan untuk ditonton. Setting ceritanya adalah saat Dinasti Goryoe berkuasa. Goryoe kemudian dikenal menjadi Korea. Terima kasih Wikipedia atas bantuan informasinya. Kekuasaannya berlangsung sejak tahun 1270–1356 M.

Jika benci dengan film LGBT ber-ending sedih, lupakan saja untuk menontonnya. Tontonlah yang lebih hore-hore semacam Will & Grace musim terbaru. Tapi jika ingin melihat film Korea bernuansa tradisional, dengan pria-pria berambut ala gadis Sunsilk, kendaraan masih mengandalkan kuda, perpustakaan dengan buku-buku masih tulisan tangan, perselingkuhan dalam istana, semuanya ada di sini.

Siapa yang berselingkuh dalam cerita ini? Oke, ada 3 tokoh yang memegang peran menonjol. Raja, Pengawal, dan Ratu. Si Raja adalah seorang lelaki. Itu pasti. Dia punya pasukan khusus yang dilatih sedari mereka-mereka itu kecil. Dia dan prajurit istana yang turun ke lapangan dan mengajarkan ilmu bertarung. Mereka menjadi prajurit yang patuh dan bersedia mengorbankan nyawa untuk sang raja. Di antara bocah-bocah lelaki itu, ada satu yang berlatih lebih keras dan menarik perhatian sang raja. Saat itu, Raja belum dijodohkan dengan sang Ratu. Si bocah ini di kemudian hari menjadi kepala prajurit khusus juga teman tidur sang raja. Sudah menjadi pembicaraan di kalangan istana bahwa ketiadaan pewaris kerajaan salah satunya karena si raja cinta mati sama si Pengawal. Ya, si Raja juga tidur dengan sang Ratu. Hanya saja tidak kunjung membuahkan hasil.

Si Pengawal memang tampan. Tapi pengawal-pengawal lainnya juga ada yang lumayan sih. Apalagi dengan rambut mereka yang tanpa riak tanda airnya dalam. Loyalitas si Pengawal pada sang Raja tidak perlu dipertanyakan lagi. Kepada sang Ratu, ya biasa saja. Secara Ratu dilayani oleh dayang-dayang. Sang Ratu juga tidak menyukai si Pengawal karena tahu bahwa suaminya lebih cinta si Pengawal.

Kembali ke pertanyaan siapa yang selingkuh. Ketiganya melakukan itu. Kalau dalam konteks mengkhianati sebuah hubungan loh ya. Adanya orang ketiga berarti menguatkan tudingan perselingkuhan. Si Pengawal dan sang Raja menjalin hubungan, lalu muncul di Ratu. Itu selingkuh. Raja dan Ratu menikah, lalu si Pengawal jatuh cinta pada sang Ratu, itu juga selingkuh. Semuanya salah karena tidak setia. Dan pihak yang terkhianati merasa cemburu.

Antara si Pengawal dan sang Ratu seharusnya tidak akan terjadi hubungan cinta sejati jika si Raja tidak melakukan ketololan besar. Dengan dalih agar punya keturunan, maka dia menitahkan si Pengawal untuk tidur dengan sang Ratu. Tapi ini atas kesepakatan istana lho. Seperti kisah The Handmaid’s Tale ya. Hampir mirip. Antara Offred dan Nick. Masih ingat?

Si pengawal dalam hubungannya dengan si Raja, dia menjadi bottom, yang diperlakukan seperti perempuan deh, kalau nggak paham. Maka wajar, ketika dia harus meniduri perempuan, canggungnya setengah mati. Bisa sih bisa, tapi gimana gitu. Sang Raja tidak sedikit pun mengubah perintahnya. Nah, keadaan berbalik. Ketika si Pengawal mulai menemukan sisi kemaskulinannya, hubungan dia dengan sang Ratu menjadi hubungan yang berdasar cinta. Kalau adegan percintaan sang Raja dengan si Pengawal hanya sekali disorot, giliran si Pengawal dengan sang Ratu itu ada sekitar lima atau sekian, lah. Dengan benar-benar telanjang. Ada yang di kamar tidur, ada yang di perpustakaan, berbagai gaya.

Konflik lain yang dihadapi sang raja adalah ancaman pembunuhan atas dirinya. Dan setelah pengintaian demi pengintaian diketahuilah bahwa ada beberapa orang dalam istana yang terlibat, termasuk kerabat sang Ratu. Tanpa ampun, sang Raja menyuruh pasukannya menghabisi para pengkhianat. Salah satu adegan sadis di antara adegan-adegan sadis yang memuncratkan darah. Merinding memang untuk orang sekelas saya. Tapi dibanding Kingsman The Golden Circle, ini masih mendingan kok.

Bagian penutup adalah klimaks penuh kejutan. Kecemburuan akhirnya berujung pada kebencian yang membutakan akal sehat. Terlebih cinta yang belakangan datang ternyata lebih kuat dan dalam. Cinta yang bertahun-tahun itu tidak mendapat pengakuan. Sakitnya sangat luar biasa. Liku-liku cinta yang tidak mendayu-dayu sepertinya menjadi alasan mengapa film ini sukses dalam festival-festival film. Tonton deh.

Jogja, 1 Oktober 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response