A Head Full of Dreams (2015); Album Coldplay Lepas dari Melankolia

A Head Full of Dreams (2015); Album Coldplay Lepas dari Melankolia
A Head Full of Dreams (2015). Sumber gambar: coldplay.com

Coldplay tidak memberi napas begitu panjang pada penggemarnya untuk menikmati album  Ghost Stories dengan kembali meluncurkan album baru A Head Full of Dreams di tahun 2015, tertinggal 4 Desember. Terhitung begitu singkat, band Inggris yang memproses albumnya lebih banyak di Amerika Serikat ini tidak luput melibatkan sejumlah musisi besar dan tokoh dunia, sebut saja Beyonce, Khatia Buniatishvili, Gweneth Paltrow, Noel Gallagher, Tove Lo sampai Presiden Barack Obama.

Chris Martin, Will Champion, Jonny Buckland dan Guy Berryman lewat album A Head Full of Dreams sepertinya ingin memberikan kesegaran yang tidak main-main untuk bisa didengarkan setidaknya selama 45 menit. Setiap track dalam album A Head Full of Dreams jangan pernah ditanya apakah lebih mendayu ketimbang Yellow, The Scientist, Clocks, Fix You, Shiver. Coldplay ingin menampakkan wajah penuh keceriaan hampir di sepanjang album A Head Full of Dreams, entah apakah benar jika itu disebabkan sang vokalis yang berhasil melewati masa-masa suram dan berhasil move on dan dibuktikannya dengan munculnya sedikit suara Gweneth Paltrow di track Everglow. Ini adalah salah satu lagu manis yang bisa didengarkan dengan sedikit memunculkan kekhasan ala kemuraman Coldplay.

 

I know you might be gone, and the world may know

Still I see you celestial

 

Like a lion you ran

God his hero

Like a eagle you circle

Perfect of all

 

So how come things move on?

How come cars don’t slow?

When it feels like the end of my world

When I should but I can’t let you go

 

Denting piano dalam lagu ini memang memaparkan isi hati yang begitu hancur akibat perceraian. Pasangan ini tidak pernah diterpa gosip, sebab Gweneth Paltrow seakan menutupi kehidupan pribadinya dengan pindah ke Inggris. Padahal paparazzi Inggris sama hebohnya dengan di Amerika dalam hal mencari-cari bahan pemberitaan.

Album A Head Full of Dreams, menurut Chris dalam wawancaranya dengan huffingtonpost.com, menyebutkan kemungkinan album ketujuh mereka ini sekaligus sebagai album terakhir mereka, seperti halnya novel serial Harry Potter. Menyamakan Coldplay dengan Harry Potter adalah sesuatu yang membuat kening berkerut mencari letak benang merah, kecuali angka tujuh. Melankolia Coldplay sepertinyalah yang akan diakhiri, bukan karier bermusik masing-masing personelnya. Kita tunggu saja, sebetah apa mereka lama-lama menjauh dari studio rekaman dan menikmati hari-hari dalam tur yang panjang. Selamat berhibernasi, Coldplay.

 

Jogja, 11 Desember 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response