A Job A Future; Masa Depan Bekerja di Penerbitan

 A Job A Future

Apa sih masa depan seorang yang bekerja di penerbitan? Jadi orang kaya dan punya penghasilan di atas 10 juta per bulan? Nonsense. Saya bisa bilang begitu karena saat ini, berada di posisi itu. Jika gajinya memang nggak sebesar dokter atau general manajer di sebuah perusahaan bonafide, buat apa bertahan di sana?

Hm, saya pun sering menanyakan hal itu dan seiring dengan berjalannya waktu, jawabannya gampang. Seseorang bekerja memang untuk orientasi uang, tapi bukan semata-mata mencari uang. Toh kalau saya punya uang, akan saya habiskan juga.

Ada hal lain. Ada tempat untuk belajar dan mempunyai pengalaman yang banyak. Ketika saya pertama kali menerima tawaran pekerjaan sebagai editor, saya merasa sejak saat itu juga hidup saya akan stagnan. Bertemu sebuah naskah mentah, mengolahnya, sampai jadi naskah dengan cita rasa. Dulu, satu-satunya jabatan lebih tinggi di kantor saya adalah pimpinan redaksi, dan sangat kecil kesempatan saya untuk berada di posisi itu. Saya hanya seorang pekerja yang lebih suka diam sambil bekerja. Saya tidak menonjol soal disiplin, dan saya tidak punya kedekatan dengan atasan, si pemilik perusahaan. Saya mulai bekerja di kantor itu sejak tahun 2009.

Setahun kemudian, saya diberi tambahan tugas. Megang akun sosial media. Tapi saya sepertinya bukan orang yang tepat. Saya orangnya terlalu “dingin” pada orang lain. Dan saya pun sulit bagaimana mengubah karakter itu. Saya bahkan cenderung menampakkan sikap rebel dan memilih “bolos” karena pusing dengan begitu banyaknya hal yang harus saya lakukan.

Di awal 2012, ada semacam perubahan di kantor. Banyak jabatan “teras” yang tiba-tiba harus diisi. Kursi 1 pimred, menjadi 5. Ditambah posisi manajer yang tugasnya samar-samar.

Saya, diberikan posisi untuk memimpin divisi teenlit. Hanya karena pada awalnya men-support atasan saya yang mulai memikirkan soal pengadaan naskah teenlit. Kami banyak bertukar pikiran lewat email (saya tidak begitu suka banyak bicara dan hanya email media yang saya anggap paling diplomatis untuk menyampaikan saran-saran pada dia).

Semua itu berawal di medio September 2012. Saya memberikan usulan yang cukup panjang. Saya ingat waktu itu kami bertukar email sembari saya jalan-jalan naik motor. Setiap kali email masuk, saya akan menepi dan membaca, lalu membalas dengan email. Inti ide saya satu, independensi. Saya tidak tahu apakah ide itu dia anggap terlalu revolusioner atau tidak. Bagi saya, ketika dia menerima usulan itu, syukur. Kalau ditolak, nggak masalah.

Lalu mulailah kami berdiskusi dan pikiran kami mulai searah. Dari situlah, bibit novel-novel teenlit mulai tumbuh. Butuh waktu memang untuk memperkenalkan teenlit agar dikenal banyak orang.

Hingga akhirnya, di awal tahun, resmilah divisi teenlit ini didirikan. Independensi sepenuhnya masih jadi keinginan utama saya, dan saya rasa setiap divisi pun menginginkannya.

Tapi proses itu tidaklah mudah. Saya memang harus lebih dulu memberi sesuatu yang besar sebelum mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang sudah ada. Begitu rule yang diberikan atasan saya.

Tugas-tugas saya memang seabrek, tugas-tugas yang sama sekali tidak pernah saya pegang sebelumnya, mulai dari mengevaluasi naskah, mengurusi nego MoU dengan penulis, mengatur jadwal editing, mengecek cover, blurb, sampai mengirimkan sampel buku. Di sisi lain, profesi sebagai editor masih saya jalani.

Apakah saya lalu kaya mendadak?

Ya. Relasi baru adalah kekayaan yang lebih mahal dari gaji seorang dokter bedah. Menjadi seseorang yang mulai suka bicara juga nilai yang tinggi. Jika saya memiliki obsesi semata-mata pada kenaikan gaji sekian kali lipat setelah berada di tahap ini, saya akan sangat lalai bersyukur. Tuhan tahu saya nggak butuh terlalu banyak uang. Buktinya, uang untuk traveling selalu ada, dan saya tidak menyukai hal lain yang akan menghabiskan dana besar. Saya tidak terobsesi keluar negeri kecuali Praha, dan saya yakin mampu untuk menabung sedikit demi sedikit untuk setidaknya berada seminggu di sana.

Dan saya menganggap, punya pekerjaan apa pun itu ada masa depannya. Tergantung apa yang ada dalam benak kita soal definisi masa depan. Apakah jadi orang kaya atau jadi orang yang punya banyak pengalaman hidup?

My room, Yogyakarta, 30 Mei 2013, 21.36

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response