A Single Man (2009): Film Kesendirian Setengah Mati Seorang Gay Melankolis

A Single Man (2009). Sumber gambar: IMDB

A Single Man masuk dalam folder LGBT di laptop saya. Tidak begitu banyak produk layar lebar bertema gay saya tonton, yang satu ini saya tahu pun dari berbagai rekomendasi situsweb film LGBT. Disutradarai oleh seorang mantan desainer untuk brand Gucci, Tom Ford, berkisah tentang seorang pria Inggris, George, (Colin Firth-Kingsman, The Railway Man, Dorian Gray) yang begitu kehilangan pasangan hidupnya, Jim (Matthew Goode-Imagine Me & You, The Imitation Game) karena sebuah kecelakaan di musim dingin.

Melankolisme George memang menjadi-jadi. Bayangan Jim selalu muncul dan membuatnya sulit menerima jika kekasihnya itu sudah tiada. Terkadang dia berusaha membawa kesedihannya pada sahabat terbaiknya, Charley (Julianne Moore-Freeheld, The Hours, The Kids are All Right), dahulu mereka sempat dekat juga. Tapi kesedihan bukanlah seperti debu yang mudah terhapus oleh air.

Beberapa pria mencoba mendekatinya, Kenny (Nicholas Hoult-Jack The Giant Slayer, Warm Bodies), murid dari kampus tempatnya mengajar. Seorang pemuda yang penuh rasa penasaran dan menyukai tantangan. Serta Carlos, pemuda Latin yang cool tapi mudah diajak ngobrol.

Melankolisme George menjadi tidak sehat ketika keinginan bunuh diri menghampirinya. Beberapa kali dia mencoba, Mati sepertinya obat dari sebuah penderitaan panjang. Ada sepucuk pistol yang dimilikinya. Dengan benda itulah dia ingin mengakhiri hidup. Tapi terkadang, takdir itu jauh lebih menentukan. Setiap orang pasti mati, tapi bagaimana proses menuju kematianlah yang tidak pasti.

Tom Ford (Nocturnal Animals) membawa nuansa melankolis film ini terkesan mendalam, dengan beberapa kali kilasan-kilasan kenangan George dan Jim, bagaimana mereka pertama kali bertemu, pembicaran-pembicaraan keduanya, rasa cinta yang begitu kuat. Bahkan seolah kematian Jim hanyalah sebuah mimpi belaka dan cukup membuka mata dan semua kembali seperti semula.

Trailer A Single Man:

Jogja, 29 September 2015