Addicted to you; Jika Kecanduan Itu Wajar

Percaya nggak sih lo kalau manusia itu hidup dengan beribu addicted feelings yang kadarnya bermacam-macam? Dan itu ada sebagai salah satu media untuk survive. I’m not talking about addicted to alcohol, drugs, sex, or anything else negative. Yang simpel aja deh, misal addicted to music, jejaring sosial, cinta, atau apa deh. Sesuatu yang dilakukan berulang kali dan ada kepuasan di belakang.

Gue termasuk orang yang addicted sama gadget, bukan ke bendanya, tapi apa yang bisa dihadirkan sebuah gadget itu yang pingin gue bahas. Oke, sebutlah sebuah BlackBerry. Si ponsel sejuta umat tapi sering eror tanpa sebab. Ini yang sebenernya semacam buah simalakama. Satu sisi bisa jadi pleasure, sisi lainnya jadi toxic. Taruhan deh ya, elo yang punya BB, dalam sejam, berapa kali elo nyentuh tu hape cuma gara-gara satu bunyi notifikasi, bisa jadi BBM, twitter, facebook, atau yahoo messenger, etc. Seberapa sering elo menomorduakan orang yang ada di depan elo dan sibuk sama benda yang cuma segenggaman tangan itu. Ngaku deh lo.

Gue pun lama-lama mulai merasa, gue kayak kehilangan kepemilikan atas diri gue sendiri gara-gara BB, hebat ya? Atau dengan kata lain, tolol ya gue? Gue baru deh sadar, batas comfort zone gue ini udah sering terlanggar sama BB. Maksud gue, sama orang-orang yang merasa memiliki gue dan bisa mengganggu gue sesukanya tanpa kenal waktu.

Maka, dua hari terakhir ini gue sedang terapi diri gue sendiri. BB yang bisa berfungsi sebagai pengganti laptop gue fungsikan cuma sebagai alat komunikasi telepon, SMS, sama radio. Udah nggak ada bedanya sama hape murahan yang minim fitur yang pernah gue pegang beberapa tahun lalu.

Dan, gue ternyata bisa hidup tanpa BBM yang suka kurang ajar dan nggak kenal waktu dan jejaring sosial yang sama brengseknya. Hmm ternyata nggak ada hilang dari diri gue, nggak ada sama sekali. Toh gue masih bisa dihubungi.

Addicted to you; Jika Kecanduan yang Wajar-Wajar Saja
Sumber gambar: wisperink.deviantart.com

Sebagai bonus, gue kembali merasa bahwa 24 jam itu bukan waktu yang singkat. Gue merasa bisa punya waktu buat baca buku, buat nulis, buat nyuci baju, nyeterika, belanja, jalan-jalan keliling kota, banyak deh.

Buat gue, ngelepasin diri dari sesuatu yang mengikat itu bukan hal sulit.

I was addicted to coffee, tapi ketika melihat kakak gue nggak mengonsumsi kopi dengan pertimbangan blablabla (lebih ke alasan medis pastinya karena dia seorang dokter, ya gue ikut-ikutan). Cara paling gampang ya just say, you wanna quit. Tapi jangan menjauhi orang yang minum kopi apalagi menasihati biar stop minum kopi. Tujuannya bukan buat membuat orang lain nggak minum kopi kok, tapi buat kebaikan diri sendiri. Itu aja dulu.

Hal yang sama juga gue lakukan ketika gue punya kesempatan smoking. Asal elo tahu, gue nggak beneran jadi perokok bukan karena dilarang-larang orang, tapi gue nggak nyaman asapnya masuk mata n rasa nggak enak di tenggorokan. Padahal itu rokok kelas cetek yang logonya huruf A pake mild (healah malah kesebut merek). Soal temen-temen gue tetep merokok, itu bukan urusan gue.

Beside that, I was kinda naughty person tapi gue terlalu pinter untuk menyembunyikan itu. Temen-temen di masa gue masih kuliahan itu adalah orang-orang yang asyik. Mereka banyak tahu gue orang yang seperti apa tapi mereka nggak terus jadi sosok yang berlomba-lomba mengubah gue supaya back on the right track. Di antara mereka bahkan ada yang tahu dengan siapa gue pernah pacaran dan hubungannya sepeti apa. Mereka enjoy-enjoy aja, toh gue juga selalu in control kok di tempat publik, udah jinak (haha). Dan pilihan hidup itu sebenernya udah jadi bagian dari takdir? Nah lho jadi berat deh bahasannya.

Yang pasti, sesuatu yang berlebih-lebihan sampe ke taraf addicted itu nggak akan baik di belakang. Ketika elo memikirkan sesuatu lebih sering dari elo memikirkan Tuhan yang udah superbaik sama elo, coba deh elo pikirin lagi. Hati-hati, Tuhan juga bisa cemburu, biasanya kalo udah gitu, apa yang elo cinta banget tuh bakal dicabut gitu aja tanpa ampun, tanpa ada intro. Gue pernah mengalami itu dan butuh waktu buat mengembalikan itu ke titik semula. Cinta sih cinta, tapi nggak usah segitunya juga kali. Kata temen gue, hiduplah dengan rasional karena kadang hati itu sulit ngasih batasan logis. So, wanna think about it?

 

My room, Jogja, 10 Februari 2013, 22:19

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response