After Laughter (2017); Album Paramore dengan Musik Pop Dance 80-an

After Laughter (2017); Album Paramore dengan Musik Pop Dance 80-an
After Laughter (2017). Sumber gambar: pinterest.com

Sebelum mendengarkan 12 lagu yang dihadirkan Paramore untuk album terbarunya, tidak ada salahnya membuka youtube dan mengingat-ngingat kembali lagu-lagu hits mereka dari album All We Know Is Falling (2005), Riot! (2007), Brand New Eyes (2009), dan Paramore (2013). Saya suka dengan beberapa lagu hits dari band bervokalis Hayley Williams ini, sebut saja Brick by Boring Brick, crushcrushcrush, Decode (OST Twilight), Ignorance, Misery Business, Monster, The Only Exception, Still into You. Hayley punya karakter vokal yang tepat untuk musik rock yang disukai pendengarnya yang usia 20-an. Ditambah lagi dengan komposisi musik Zac Farro dan Taylor York yang ceria dalam lingkup genre pop punk dan alternative rock.

Namun Paramore mengambil arah yang lain di album kelima yang diberi judul After Laughter. Video klip perkenalan Hard Time dan Told You So. Jangan kaget karena mereka memasukkan unsur pop dance 80-an, sehingga kita tidak lagi diajak ber-head banging, tapi joged-joged sesukanya. Saya salah satu penggemar Paramore yang sempat melongo ketika mendengarkan Hard Times dan melihat video klipnya di Youtube.

Serius nih? Ya, lebih dari kata serius. Tidak ada rasa musik dengan kecenderungan gitar elektrik dan drum, tidak akan ada bahkan yang senada dengan Decode dimunculkan oleh mereka. Namun, kita bisa mendengarkan ballad manis seperti The Only Exception pada lagu 26.

 

Reality will break your heart

Survival will not be the hardest part

It’s keeping all your hopes alive

All the rest of you has died

So let it break your heart

 

Lagu ini berkisah tentang seseorang yang tengah mengejar mimpi-mimpinya hingga datang seseorang lain dalam kehidupannya, mengubah banyak hal, meski itu seolah menghalangi mimpi-mimpi yang tengah dikejarnya. Mungkinkah lagu ini ditujukan untuk suami Hayley, Chad Gilbert? Mereka menikah Februari tahun lalu.

Selain 26, Hard Times, dan Told You So, coba deh dengerin Rose-Colored Boy, Forgiveness, Fake Happy, Pool, Grudges, Caught in the Middle, Idle Worship, No Friend, Tell Me How. Tapi jangan hanya di dalam kamar. Dengarkan sambil joging keliling kompleks, tapi jangan sampai keasyikan dan tidak hati-hati di jalan. Soal lirik memang tidak banyak yang berubah, masih penuh dengan kejujuran, kritikan, dan sindiran-sindiran seperti di album-album sebelumnya.

Keputusan untuk mengubah genre musik boleh dibilang sebuah pertaruhan besar. Paramore ingin mencobanya. Barangkali jika sukses akan diteruskan pada album selanjutnya. Jika tidak. Bisa jadi mereka akan kembali mengajak pengemarnya ber-head banging ria.

Saya jadi teringat dengan Diana Krall dan Seryl Crow yang baru-baru ini mengeluarkan album juga. Diana Krall dengan Turn Up The Quiet, Sheryl Crow dengan Be Myself. Keduanya barangkali merasa lebih nyaman dengan musik akar mereka. Saya sih pengin mendengarkan Diana Krall sedikit melenceng dari jazz, atau Sheryl Crow mencoba memasukkan unsur electronic music dance seperti yang banyak dilakukan penyanyi-penyanyi baru agar cepat mendapatkan pengemar. Nyatanya itu seperti pungguk merindukan bulan. Mereka bertahan dengan idealisme masing-masing. Yah, mau bagaimana lagi? Musik bukan sesuatu yang main-main.

Video Hard Times:

Jogja, 1 Juni 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response