Aku dan Peranku; Kisah Epic si Remaja Puber dan Sabun Muka Impiannya

Aku dan Peranku; Kisah Epic si Remaja Puber dan Sabun Muka Impiannya
Aku dan Peranku. Sumber gambar: pixabay.com

Pembahasan cerpen Aku dan Peranku karya Mufidatun Fauziyah adalah penutup dari maraton bahas cerpen Antologi Kampus Fiksi Emas 2017. Ini adalah cerpen keenam belas dan artinya tidak lama lagi siapa yang menjadi juara 1 akan diketahui oleh para pembaca.

Mengangkat kisah dari tragedi 98 memang terbilang sulit. Ini adalah kejadian yang tidak ingin diingat-ingat kembali, apalagi diceritakan dengan detail kisah-kisah yang tidak hanya diketahui tidak hanya oleh bangsa ini, tapi juga kalangan internasional. Tidak ada kisah yang manis, sebab itu mungkin berarti menutup-nutupi apa yang terjadi sesungguhnya.

Aku dan Peranku menampilkan tokoh yang juga menjadi bagian dari kerusuhan, seorang gadis remaja puber yang polos harus berjuang akan eksistensi diri di balik bayang-bayang sang kakak yang “sempurna” dalam parameter orang-orang.

Dalam hidup ini, aku baru mengerti, ternyata manusia sudah diberikan perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai tokoh utama. Dia begitu cantik, dikagumi oleh semua orang, dan memiliki tingkat kecerdasan yang membanggakan. Ada pula tokoh sampingan yang memiliki peran berkebalikan dengan tokoh utama. Dia buruk rupa, wajahnya berjerawat, tidak memiliki teman, bahkan tidak dianggap eksistensinya.

Semakin tokoh Aku berkisah tentang sang kakak, semakin kita tahu betapa keduanya ibarat langit dan bumi.

Kak Ani akhir-akhir ini jarang pulang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh seorang mahasiswi semester awal sampai-sampai jarang pulang ke rumah. Kalau pun pulang pasti malam hari. Katanya organisasi. Aku memang masih duduk di bangku kelas 1 SMP, jadi aku tidak tahu-menahu tentang kegiatan organisasi. Yang kutahu pasti adalah kakakku selalu ribut ke sana-ke mari mencari berita.

Belum lama ini dia meributkan harga bahan makanan serta bahan bakar yang melambung tinggi. Ibu dan Bapak ikut bergabung di ruang makan. Mereka mengobrol panjang lebar hingga bersahut-sahutan dengan suara radio.

Kak Ani seorang mahasiswi yang disibukkan oleh kegiatan organisasi yang menyita waktu. Dia cantik, pergaulannya luas. Kulit wajahnya mulus. Apa lagi yang kurang dari semua itu? Kontras dengan si Aku. Yang serba tidak tahu apa-apa. Di SMP tentu saja sudah ada OSIS, namun dengan pembawaannya kurang percaya diri, membuat cakupan pengetahuannya akan dunia luar sedemikian sempit.

Sebutlah Kak Ani memiliki passion untuk memperjuangkan keadilan. Tipikal mahasiswa idealis yang memandang dari sudut pandang hitam putih belaka. Kak Ani tidak sendiri, kawan-kawan seperjuangannya pun berpikiran sama. Naiknya bahan makanan dan bahan bakar adalah pertanda tidak baik. Krisis moneter akan menekan rakyat kelas bawah.

Gara-gara obrolan itu, Ibu mengurangi jatah uang sakuku yang tidak seberapa menjadi jumlah yang amat-sangat kecil. Padahal, aku mempunyai tekad kuat menggunakan seluruh uang sakuku untuk ditabungkan. Aku ingin membeli sesuatu yang bisa mengubah penampilanku. Tentu saja agar aku bisa menjadi peran utama seperti yang kuinginkan selama ini.

Banyak orang bilang, mungkin aku anak yang tertukar, atau anak yang ditemukan di tong sampah. Sedih sekali rasanya ketika mendengar kata-kata menyakitkan itu.

Tokoh Aku merasa bahwa solusi rasa percaya diri yang rendah adalah sesuatu yang bisa membuat wajahnya menjadi secantik bidadari, dan dunia akan menyambutnya penuh sukacita. Padahal, pubertas adalah hal wajar dialami setiap remaja. Banyak perubahan, tidak hanya perkara hormonal, tapi juga kepada fisik. Sayangnya, krisis kecemasan yang dihadapi si Aku tidak dibaginya dengan siapa pun. Tidak kepada orang tuanya, kakaknya, atau teman-temannya. Akhirnya dari situ, dia akan mencoba-coba sendiri. Mencari tahu sendiri. Mudah untuk termakan iklan.

Sesuatu benda yang ingin kudapatkan itu bermula pada saat keluargaku tidak berada di rumah. Aku mendengarkan radio lagu-lagu yang biasa didengarkan kakakku. Kulakukan itu agar aku bisa nyambung mengobrol dengan teman-temanku. Kemudian kudengarkan iklan tentang suatu benda yang khasiatnya seperti sulap.

Benda itu dapat mengubah seseorang menjadi cantik jelita seperti bidadari. Dengan wajah bersih, mulus, dan bersinar, seseorang akan mudah bergaul dengan teman-temannya.

Lebih sering mana, melihat iklan yang memperlihatkan realitas, atau yang menjual “yang bagus-bagusnya saja?” Iklan obat jerawat seolah mampu menghilangkan jerawat dengan cepat, tanpa menitikberatkan perkara efek yang bisa ditimbulkan karena ketidakcocokan. Iklan sampo memperlihatkan gadis-gadis berambut panjang penuh kemilau, padahal itu hasil smoothing bukan samponya, yang malah bisa menimbulkan ketombe dan kulit kepala yang mengelupas. Tidak kalah lucu, mi instan yang di iklankan penuh dengan lauk pauk dan sayuran, pada kenyataannya hanyalah mi dan bumbu-bumbu kimiawi pemicu kanker. Bagi orang dewasa, iklan-iklan televisi boleh jadi tersaring lebih dahulu. Tapi bagaimana jika langsung sampai pada generasi muda yang masih polos dan mudah dibuat percaya?

Beberapa minggu kemudian setelah aku mendengar iklan itu, benar-benar suatu kebetulan! Kakakku membeli benda ajaib itu.

“Ini sabun cuci muka namanya!” Kak Ani memberi tahu ketika kutanya. Dia lalu meletakkan sabun itu di kamar mandi dan akan memakainya saat mandi pagi serta sebelum tidur.

Hadirnya si sabun muka menjadi sebuah kabar membahagiakan. Kak Ani yang membelinya walaupun diceritakan, dia tidak berjerawat seperti sang adik. Harapan si Aku untuk bisa menjadi seperti Kak Ani yang cemerlang, makin kuat. Sayangnya, sabun muka itu bukan miliknya. Si Aku pun merasa dirinya perlu memiliki sabun muka itu, demi mewujudkan cita-citanya. Dia menabung dari uang jajannya. Tapi apa jadinya jika uang jajan saja dikurangi akibat krisis ekonomi?

Aku dapat info dari kakakku bahwa di toko sebelah rumah sebenarnya ada, tapi aku tidak tahu harganya. Aku takut masuk ke sana karena katanya, kalau menyenggol barang pecah belah dan jatuh, sama saja kita harus membelinya.

Sabun muka itu dijual di salah satu toko milik keturunan Cina, bernama Koh Yadi. Di sini, si pemilik toko digambarkan galak, hingga si Aku sampai merasa takut masuk ke toko tersebut. Kesan galak pada pedagang keturunan Cina memang sudah bukan hal baru sehingga berbelanja kepada mereka rasanya kurang nyaman, kecuali memang kepepet atau supermarket terlalu jauh. Tapi, buat apa mencari yang jauh jika yang dekat ada? Tahun segitu, toko online belum masih dalam angan-angan. Si Aku hanya perlu tahu harga sabun muka itu untuk mulai menabung. Tidak ada dialog antara si Aku dan Koh Yadi untuk memperkuat kesan galak si pemilik toko. Hanya kata orang-orang. Mungkin juga sengaja dilebih-lebihkan.

Setelah kutemukan dengan sabun yang kumaksud. Aku lumayan kaget melihat harganya. Itu uang sakuku selama dua minggu. Kalau dipikir-pikir lumayan berat juga. Aku jadi tidak bisa jajan.

Menabung bagi kalangan menengah ke bawah artinya menyisihkan sedikit uang dari yang hanya sedikit. Dulu saya waktu SMP selalu dibawakan bekal. Saya iri sama teman-teman saya yang beli nasi bungkus di jam makan siang dan bisa jajan lain-lainnya. Uang jajan dari ibu saya tidak sebesar dari bapak saya. Itu sebabnya saya senang jika ibu saya sedang menengok kakak yang sekolah di Jawa, dan tinggal bersama Bapak. Uang jajan berlimpah, makan pun lebih sering di luar. Masakan bapak saya tidak buruk kok. Dibandingkan saya yang megang daging mentah saja merinding, gimana bisa masak? Sementara menjadi vegetarian seperti tidak pernah merasa kenyang sehabis makan. Tapi kesan beli makan di luar itu memang lebih menarik ketimbang bawa bekal seperti anak TK saja. Sampai pada akhirnya saya sekarang pun sadar, makanan di luar sana tidak semuanya higienis. Bawa sendiri itu lebih sehat dan murah.

Si Aku kemudian tahu, berapa uang yang dia butuhkan hanya untuk satu sabun muka yang belum menjanjikan pasti akan membuat jerawatnya hilang. Dia sudah mengunci satu objek ke dalam target jangka pendek. Setidaknya menahan diri untuk tidak jajan selama dua minggu. Sangatlah butuh keteguhan diri.

Namun, belum sempat keinginannya terwujud, dampak krisis mulai memancing ketidaknyamanan keturunan Cina yang tinggal di sekitar rumah keluarga si Aku.

Aku keluar rumah dan bertanya pada Ci Emi, tetanggaku yang hidupnya hanya duduk-duduk saja di teras rumahnya. Namun kali ini dia absen duduk-duduknya. Dia justru sedang membawa koper dan seperti siap-siap pergi jauh.

Aku melewati toko milik Koh Yadi. Sepi, tidak ada orang, namun pintu masih terbuka lebar. Dan kali ini, toko itu tampak berbeda dengan biasanya. Ada tulisan “Milik Muslim” di kaca toko itu.

Ci Emi, Koh Yadi, dan lainnya mulai bergegas pergi. Toko-toko mereka tinggalkan secepat mungkin. Ci Emi yang tidak punya toko saja memilih angkat kaki, apalagi Koh Yadi yang mungkin telah mendengar desas-desus adanya penjarahan.

Bagian menarik dari cerpen Aku dan Peranku adalah ketika si Aku berperang dengan batinnya sendiri. Memilih antara memiliki sabun cuci muka ataukah menghindari perbuatan tercela, di saat kesempatan terbuka begitu lebar.

Aku hanya akan masuk sebentar, tidak kurang lebih dari tiga menit. Aku sudah hafal betul letak sabun cuci muka itu berada. Maka detik itu juga, aku langsung berlari dan masuk ke dalam toko. Setelah kudapatkan aku segera keluar toko.

Tapi apa bedanya mencuri sabun muka yang harganya hanya 10 ribu dengan beras sekarung? Apa bedanya mencuri ayam dengan uang triliunan milik negara? Tidak ada bedanya. Sama-sama pencuri namanya. Sama-sama berdosa, sama-sama ditunggu malaikat di neraka sana. Apakah demi menjadi sempurna, harus dinodai dengan kecurangan? Kalau bisa sih jangan.

 

Jogja, 22 April 2017

Leave a Response