Alibi di Hari Pembunuhan Pak Menteri

Alibi di Hari Pembunuhan Pak Menteri adalah sebuah cerita pendek tentang seorang istri Pak Menteri yang meminta seorang seniman tato membuat gambar di tubuhnya demi menghilangkan kecurigaan atas pembunuhan suaminya.

Di pusat kota, ada sebuah jalan, di kiri dan kanannya berdiri studio-studio tato. Bangunan-bangunan satu lantai, pintu-pintunya tertutup. Buka sejak pagi hingga sembilan malam. Turis-turis datang dari negara-negara Eropa, kulit putih kemerahan-menggelap cokelat. Lelakinya bercelana pendek, perempuannya bersarung pantai menutupi bagian tubuh yang kata tuan rumah tak pantas diumbar-umbar jika matahari masih terang. Mereka menyusuri jalan, sampai menemukan studio yang sesuai selera atau rujukan pegawai penginapan. Para pemilik studio adalah para seniman dengan pengalaman juara adu menggores kulit di sana-sini, dalam-luar negeri. Seniman-seniman kurang modal mengabdikan hidup mereka sampai pundi-pundi cukup, atau alasan pertemanan dengan si pemilik studio membuat mereka tak berpikir pindah.

Alibi di Hari Pembunuhan Pak Menteri
Sumber gambar: ewallpapers.eu

Mobil Pak Menteri yang hitam mengilap berhenti di depan sebuah studio kecil. Di depan studio, meja-meja persegi dan kursi besi tanpa punggung jika dihubungkan dengan garis imajiner, membentuk segitiga sama sisi. Pengawal Pak Menteri turun lewat pintu depan. Menengok penasaran para turis dengan kedatangan dua mobil kaca gelap, dengan sejengkal celah di kaca depan. Mobil pertama plat biasa, mobil kedua mobil pemerintah. Mereka tak mengenal Pak menteri.

Istri Pak Menteri menjejak jalan aspal mulus-rata, setelah satu pengawal membuka pintu belakang. Tinggi menjulang tegak. Kulitnya cokelat gelap dibalut blus merah katun rayon, rambut merah menyala jatuh sampai batas bahu yang sempit, bahu kanannya lebih naik dari yang satunya. Tumit sepatu merahnya tinggi nyaris sejengkal tangan. Tajam di bagian ujung. Sepatu itu membuat pinggulnya melenggok ala model runway di TV kabel. Usia Pak Menteri lima tiga, istrinya dua tiga. Jabatan bergengsi di pemerintahan membuat Pak Menteri masih menarik minat gadis-gadis penyuka lelaki-lelaki tua banyak harta. Kepalanya botak licin mengilat. Matanya sudah pernah dioperasi katarak. Gigi-giginya yang hitam keropos telah diganti dengan gigi-gigi palsu putih sampai geraham paling belakang. Senyumnya mirip serigala lapar ketimbang ayah yang penyayang. Tubuhnya gemuk, perutnya menonjol bulat. Undangan-undangan perjamuan menyediakan menu-menu berlemak tanpa serat. Telapak tangannya kasar pecah-pecah bawaan lahir. Saat berjalan, ia seperti kapal besar di tengah samudra yang dikurung badai hebat.

Sebelum istri Pak Menteri masuk studio, dua pengawal merangsek tanpa mengetuk pintu. Lima seniman tato bersarung tangan karet hitam mengangkat wajah. Pejabat dan pengamanan konyol seperti biasa, memangnya ini gudang teroris? sinis mereka. Klien-klien mereka mengumpat dalam hati, mengira ada razia turis tanpa visa. Jarum-jarum dalam pistol berbungkus plastik kembali menotol-notol kulit manusia dalam ritme statis, digerakkan adaptor listrik persis cara kerja mesin jahit Singer. Di paha, telapak kaki, sela-sela jari tangan, leher, payudara kiri. Si Pemilik Studio mengisap mariyuana di ruang pribadinya, tangan yang satu menggores-gores kertas dengan pulpen tinta hitam. Asap berembus panjang ke udara.

Istri Pak Menteri mencium bibir sang suami dari jendela, mengusap kepala licin Pak Menteri yang gelisah tergesa berangkat lagi. Hampir telat menghadiri rapat tertutup dengan Pak Presiden. Sisa satu pengawal yang menjaga istri Pak Menteri. Laki-laki itu menunggu di luar. Berdiri seperti patung. Semua kursi penuh. Turis-turis dengan botol-botol bir dingin dan rokok-rokok mengepul tak ada yang ambil pusing. Di balik celana katun si Pengawal berkumis tipis lulusan sekolah martial art, terselip sepucuk pistol. Di baliknya jasnya melekat rompi antipeluru.

Pintu ruangan si Pemilik Studio cukup digeser ke kanan dengan satu tangan. Istri Pak Menteri mengipas pelan di depan wajahnya, aroma kuat dari rokok lintingan sendiri menyerang hidung runcing hasil bedah plastik dokter pribadi Pak Menteri. Hampir terbatuk, ditahannya kuat-kuat, matanya dibuat berair. Si pemilik studio beranjak, rokok masih bertahan di sela jarinya. Dia mendongak, menyalami tangan istri Pak Menteri yang dingin. Pucuk kepalanya jauh dari bahu Istri Pak Menteri. Digesernya pintu menutup. Duduk di sofa kulit. Istri Pak Menteri canggung. Berdeham pelan. Ruangan pengap, memabukkan pula. Si Pemilik Studio membawa asbaknya ke meja sofa. Asbak di sana sudah penuh puntung rokok pabrikan. Abunya berceceran dibiarkan. Tubuh si Pemilik Studio sebut saja kanvas hidup. Ada The Beatles di lengan kanan, bersebelahan dengan si jambul tinggi Elvis Presley. Di jari tangannya berjejer simbol-simbol agama, dominan merah darah. Tiga tahun lalu dia mendatangi seorang seniman tato untuk melukis satu segmen kecil relief Lalitavistara di sekujur punggungnya. Tato terindah yang akan dibawa sampai mati kelak. Istri Pak Menteri belum sempat menyimak tato tribal Polynesia di kedua kakinya, buatan seniman keturunan suku Maori.

“Gambar atau tulisan apa yang terpikir olehmu?” Si pemilik studio menyiapkan kertas polos HVS. Mereka berkenalan beberapa minggu silam tanpa sepengetahuan Pak Menteri, dan endusan kecurigaan pengawal-pengawal yang selalu menjaga jarak dengannya. Si Pemilik Studio diundang untuk sebuah wawancara televisi setelah sekelompok anak muda membuat film dokumenter tentang para seniman tato perempuan. Istri Pak Menteri seperti mendapat ilham. Perempuan bersuara berat dan berpipi cekung itu bisa membantu keinginannya. Dia merasa yakin saat itu juga.

Istri Pak Menteri duduk gelisah, seakan sofa si Pemilik Studio berisi penuh air. Pandangannya berpindah dari satu bingkai ke bingkai foto yang mengisi tiap-tiap jengkal dinding gothic kelam. Tidak ada nama-nama. Hanya si Pemilik Studio yang tahu, lengan siapa, kaki siapa, leher siapa, tengkuk siapa, dahi siapa, pantat siapa yang diabadikan. Kertas-kertas desain milik si Pemilik Studio dan para seniman disimpan rapi dalam album-album. Mereka memilih beberapa desain untuk diperbesar dan dipasang di ruangan utama. Di meja kerja si Pemilik Studio, ada beberapa bingkai foto kecil, dirinya dengan para selebriti. Sebagian disimpannya dalam laci.

Istri Pak Menteri menggaruk tengkuk. “Aku belum memikirkannya. Apa menurutmu yang cocok untukku?” Sorot tajam mata si Pemilik Studio menyeretnya terselimuti canggung yang asing, terlontar jauh ke masa sebelum dia hadir dalam kelas-kelas pelatihan komunikasi yang membuatnya selalu percaya diri di hadapan orang. Menelan ludah menarik napas panjang. Sekadar informasi, dia tak mengidap asma.

“Studio ini tidak menyediakan tato temporer. Apa yang akan ada di tubuhmu, tidak akan hilang kecuali dihilangkan dengan rasa sakit yang tak pernah kamu rasakan seumur hidup. Tinta-tinta tato mengandung racun berat, takkan bisa diganggu sel-sel darah putih. Suatu saat bisa menjadi penyebab kematianmu sendiri.”

“Aku membaca peringatan itu di pintu masuk. Buatlah apa saja, asalkan kamu bisa menahanku di sini sampai nanti malam. Gambarlah apa pun yang kamu suka,” bergetar tiap kata yang meluncur dari mulutnya. Keringat menetes dari belahan rambutnya. Jatuh ke wajahnya. Malu rasanya mengerut seperti bocah sekolah dasar.

  Si Pemilik Studio menyodorkan rokok ke dekat bibir istri Pak Menteri. “Isap sekali saja.” Tangannya tergantung. Gelengan kepala dianggapnya basa-basi. Dimajukannya lagi, sampai jemarinya menyentuh ujung bibir istri Pak Menteri. Dia tahu, istri Pak Menteri pasti pernah mengisap ganja. Barang murah untuk kantong publik figur papan atas. Dia tersenyum puas saat melihat perempuan itu mulai melepaskan topeng kecanggungan dan tersenyum sambil mengangkat alis. Kepalanya terangguk-angguk. “Aku pernah berjanji pada Pak Menteri untuk tidak menyentuhnya lagi.” Poni yang terjatuh ke dahi disingkirkannya.

“Pak Menteri tak ada di sini.” si Pemilik Studio menanyakan lagi desain tato yang akan dibuatnya untuk istri Pak Menteri. “Tato memiliki dua rasa, kebahagiaan dan kesedihan. Kita bisa menangis karena tawa. Tawa di ujung tangisan. Manusia hidup bukan untuk menjadi depresi, tapi depresi adalah musuh yang mengintai titik lemah kita. Tunggu sebentar.” Si Pemilik Studio mengambil dua album desain dari ruangan utama. “Kamu datang dengan kesedihan. Surat-suratmu sedih. Aku tidak menyukai kesedihan berlarut-larut disimpan tahun demi tahun.”

“Bisakah kau menggambarkan kejujuran?” Istri Pak Menteri membuka halaman pertama, menutupnya kembali tanpa minat. Lawan bicaranya sepuluh tahun lebih tua. Bercelana pendek denim, tank top putih-longgar. Rambutnya pendek, diwarna toska ber-highlight abu-abu. Bibirnya tebal-hitam. Di dagunya ada belahan tipis dihiasi tindikan seperti paku dua ruas jari telunjuk tangan orang dewasa. Di usia belasan, si Pemilik Studio adalah anak populer di sekolah. Dia menusuk pemuda depan rumah yang berniat memerkosanya. Pulpen menancap telak ke jantung, patah di dalam tubuh pemuda kurang ajar itu. Polisi meringkusnya. Keluarga pemuda itu menuntut hukuman berat. Kehidupan mengubahnya jadi kriminal. Masih labil, dia masuk tahanan dewasa. Tumbuh dengan temperamen liar orang-orang di sekitar. Direkrut satu geng yang sering merusuh. Sampai dia merasa jenuh dan mulai belajar tato sebagai penenang jiwa. Si Pemilik Studio membuat tato pertama di kaki sendiri, keinginan terbesarnya saat itu. FREEDOM. Tangannya belum banyak berlatih memegang mesin. Dia meringis-ringis saat darahnya keluar dari kulit yang tertusuk dalam. Sang mentor tak menghentikannya. Lebih baik darahmu yang keluar seperti ini ketimbang darah klienmu kelak. Terngiang-ngiang. Dari tangan itu terbentuklah rasa.

Si Pemilik Studio menepuk paha. “Ayo kita coba,” goresan naik ke atas, turun ke kiri, diulanginya garis yang pertama. Istri Pak Menteri memanjangkan leher, satu alisnya terangkat, hampir saja tergelincir dari kursi yang didudukinya. Si Pemilik Studio hanya pemanasan dengan menggambar Pak Presiden dan jenggot lebatnya. Kertas baru menyingkirkan kertas itu.

“Selalu jujur atau pernah berbohong?” tangannya menunggu. Kepalanya miring ke kanan, membaca rahasia yang kuncinya ada di mata istri Pak Menteri.

Istri Pak Menteri berkedip. “Aku pernah berbohong. Manusia mana yang tidak pernah berbohong?”

Si Pemilik Studio melanjutkan goresan. Dia menggambar perempuan yang tidur menyamping. Seniman Rambut Jabrik masuk dan menyodorkan lima lembar uang di atas meja. Pergi membawa serta sebotol tinta berwarna oranye dari rak dekat meja kerja Si Pemilik Studio.

“Kebohongan apa yang terakhir kamu lakukan?” Goresan berlanjut. Dia mengisap rokok, menyodorkannya lagi pada Istri Pak Menteri.

“Aku berbohong di persidangan Pak Menteri. Kasus penipuan yang melibatkan lima menteri sejawatnya.” Dia terkekeh. Diisapnya lagi dalam-dalam. Si Pemilik Studio mengambil alih rokok itu, meletakkannya di asbak. Terlalu banyak mengganja pun tidak baik.

“Kenapa kamu lakukan itu? Melindungi Pak Menteri?” Si pemilik studio mengganti pulpen yang kehabisan tinta. Dilemparkan jitu ke dalam tong sampah lima langkah dari tempatnya duduk. Dia mengamati wajah berpipi cekung, bibir merah menyala istri Pak Menteri. “Aku mengikuti persidangan itu dan melelahkan.” Si Pemilik Studio menyempatkan hadir, duduk di kursi barisan paling belakang. Istri Pak Menteri melihatnya, tidak mengenalnya.

“Ya, melelahkan. Aku menikah dengan pria yang salah. Tapi aku mencintainya. Pak Menteri sangat kesepian. Istrinya pergi begitu saja tanpa pernah memberi kabar. Anak-anaknya tidak mau peduli. Dia mengidap penyakit memalukan di penisnya. Sudah bertahun-tahun, tak pernah diceritakan pada siapa pun.”

Perempuan itu tidur menyamping di atas jaring-jaring. Meringkuk seperti kedinginan, tanpa busana. Rambutnya tergerai menutupi puting dadanya. Jaring-jaring itu mulai ada laba-laba. Lima laba-laba. Satu di atas pinggang perempuan itu.

“Gadis yang tampak kesepian, ada yang berusaha mendekatinya tapi bukan sesuatu yang disukainya. Dari mana kamu tahu aku tidak suka laba-laba?”

“Kamu takut dengan Cleopatra. Tarantula dalam kotak di atas meja kerjaku.” Senyum sekilas, sebelah matanya mengedip.

“Mengapa kamu meletakkan laba-laba besar di ruangan ini?”

“Aku menyukainya. Seorang teman Australia memberikannya padaku. Sangat beracun, seperti Cleopatra yang meracuni para pria dengan kecantikannya.”

Istri Pak Menteri melirik kotak dengan laba-laba besar kaki-kakinya berbulu, merangkak-rangkak dalam senyap mencari celah ke luar. Laba-laba itu tidak akan mampu menendang tutup kotak lalu membebaskan diri. Istri Pak Menteri menguatkan dirinya sendiri.

“Aku tidur dengan banyak laki-laki. Mobilku saksinya. Kamar-kamar hotel per jam juga. Pak Menteri membiarkan. Asal aku tidak sampai tidur dengan menteri yang lain. Asal aku tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun. Hanya semalam, lalu lupakan.” Istri Pak Menteri bertopang dagu.

Si Pemilik Studio mengambil kertas baru, menyambung gambarnya di sana. Jaring laba-laba yang semakin besar, dan perempuan itu terlihat makin kecil.

“Pak Menteri pernah membunuh orang,” bisiknya. Si Pemilik Studio tercenung. “Dia mengatakan itu dalam tidurnya. Dia menyebut-nyebut sebuah nama. Aku membunuh Javier, aku membunuh Javier. Siapa pula itu Javier? Kenapa Pak Menteri sampai membunuhnya?” Dia terdiam sejenak. “Apa desainmu sudah selesai? Apa ceritaku perlu kulanjut?”

Si pemilik menggeleng. Dia melukis, mulut terkatup rapat. Sesuatu mengganggu pikirannya, disembunyikannya dari tangkapan istri Pak Menteri. Empat lembar kertas dijadikan satu. Selesai tak lama kemudian. Indah meski hanya coretan-coretan kasar. Istri Pak Menteri menyukainya. Perempuan di jaring raksasa laba-laba. Si Pemilik Studio menyalin satu per satu di meja lain sambil berdiri. Lampu meja menyala, menyoroti lamat-lamat. Istri Pak Menteri menyalakan sebatang rokok pabrikan. Bersenandung ringan sebuah lagu pop yang sedang naik daun. Dia berjalan-jalan, tanpa mau mendekati meja kerja si Pemilik Studio. Cleopatra sedang tidur. Kaki-kakinya diam.

“Akan seberapa besar tato itu?”

“Jaring laba-labanya membentang dari dada sampai punggungmu. Perempuan itu ada di atas jantung. Kuharap Pak Menteri tak keberatan.”

“Tidak akan, bahkan jika aku tidur denganmu, dia takkan cemburu.” Istri Pak Menteri mengutuk mulutnya yang lepas kendali. Si Pemilik Studio membelakanginya, tak menjawab apa-apa. Tak terdengar ataukah tak ambil pusing.

Istri Pak Menteri melepas blus sampai bra dari tubuhnya, melemparkannya ke lantai. Si pemilik studio berpindah ke meja khusus peralatan. Melirik sekilas tubuh yang berbaring dengan dada bulat membusung. Dia mempersiapkan segalanya sebelum duduk dan menyalakan mesin. Pistol dan jarum-jarum baru. Cangkir-cangkir kecil tinta. Alkohol, vaselin, tisu, sarung tangan karet cadangan.

Si Pemilik Studio mencukur bulu-bulu halus di sekitar dada istri Pak Menteri. Mengoleskan pelumas stensil, memindahkan desain tanpa kehilangan satu detail. Kliennya menahan napas ketika si Pemilik Studio mendekatkan wajah, meneliti garis-garis ungu sampai ke punggung. Alisnya satu terangkat. Sempurna.

Si Pemilik Studio menyalakan mesin koil, suaranya mirip kawat listrik di sekeliling tahanan kelas berat yang menyengat benda asing sampai hitam gosong.

“Berapa lama aku tertahan di sini?” sebelum ujung jarum menyentuh kulit Istri Pak Menteri.

“Sampai tengah malam, jika kamu sering minta berhenti.” Si pemilik studio mengunyah permen karet mint.

Tangan istri Pak Menteri mengepal. Sesuatu bergerak cepat menggigit-gigit kulitnya. Dia meringis. Goresan itu tidak mengeluarkan darah. Si Pemilik Studio mengusap dengan tisu. Garis melengkung pendek tiga senti tersisa di sana. Menekuk kaki. Si Pemilik Studio menyuruh Istri Pak Menteri melepas kedua sepatu runcingnya. Satu per satu dilempar ke lantai. Pedal diinjak, mulut jarum mengalirkan tinta ke dalam kulit. Garis yang lebih panjang. Istri Pak Menteri mengerang pelan.

“Apa tidak punya obat tidur?”

“Sakit itu akan segera hilang. Obat tidur tidak akan menyelesaikan keluhanmu.”

“Aku tidak suka suara mesinnya. Seperti mengenalnya, seperti ada dalam kepalaku.”

“Semua mesin tato suaranya seperti ini. Lama-lama kamu akan menyukainya, ketimbang musik. Sejak pertama mendengarnya, aku langsung jatuh cinta. Mesin tato di tahanan, suaranya lebih buruk. Mesin rakitan tua.”

“Kalau bukan aku ada perlu dengan temanmu, aku tidak akan di sini.”

“Butuh alibi untuk membunuh Pak Menteri.”

Istri Pak Menteri mendengus. “Pak Menteri tiga kali ingin membunuhku. Sampai aku sekarat, tiga bulan koma, dan semua orang menutup mata bahwa dia tidak lebih dari seorang laki-laki sakit jiwa!”

Si Pemilik Studio menjauhkan mesin koil. “Jarum ini bisa menusuk dagingmu jika tidak mau diam.”

Diperingatkan tanpa senyum, istri Pak Menteri meminta maaf dengan suara pelan. Jam satu lebih lima menit. Ruangan pengap-panas. Kipas angin memutar-mutar udara. Aroma ganja makin menipis. Seorang seniman masuk dan meletakkan uang di atas meja. Cleopatra melihati dari atas meja. Pengawal Pak Menteri membeli burger di seberang jalan dan berkenalan dengan seorang gadis belia. Pak Presiden menutup rapat dan berbisik sesuatu pada Pak Menteri, menepuk-nepuk punggungnya. Awan mendung digeser ke selatan langit. Kucing-kucing yang dibuang pemiliknya mengeong minta makan di depan warung makan langganan buruh pabrik. Tikus besar menyelinap dari selokan ke dalam rumah lewat celah pintu yang lapuk. Anak-anak main bola di lapangan tanah merah tanpa sepatu. Istri Pak Menteri menghitung jumlah tindikan di cuping telinga si Pemilik Studio yang mengatup mulut rapat-rapat, kening Si Pemilik Studio berkerut saat membuat garis-garis untuk rambut yang menutupi dada.

Shading dan coloring tidak akan sesakit ini, percayalah,” Si Pemilik Studio menghibur kliennya sambil menarik senyuman. “Dan bibirmu berdarah,” dia menunjuk kotak tisu dekat tempat tidur dengan dagu. Istri Pak Menteri merasakan asin. Diusapnya. Hanya sedikit darah, sudah cukup membuatnya malu pada si Pemilik Studio. Membuang muka, tapi mereka harus bicara tentang rencana.

Si pemilik studio menegakkan punggung. Mesin dijauhkan. Mereka saling tatap. Tato itu masih juga garis-garis hitam. Istri Pak Menteri duduk. Si Pemilik Studio mengusap, melihat hasilnya. Istri Pak Menteri menggulung rambut, lehernya berkeringat, tanpa disuruh, dia mengusap. Sepatu kets si Pemilik Studio mengisi rak dekat pintu masuk ruangannya. Dia memilih sepatu karet bertapak tipis.

“Benarkah Pak Menteri berusaha membunuhmu?”

“Aku tidak mengada-ada. Soal gangguan jiwanya, tidak banyak orang yang tahu. Setelah istri pertamanya pergi, dia terus mendatangi Dokter Pathel dan menyimpan kapsul-kapsul dalam botol-botol kecil di lemari yang selalu dia kunci. Kurasa, itu obat ilegal racikan Dokter Pathel. Dokter itu sakit jiwa. Pak Menteri sering berhalusinasi. Javier adalah bagian dari halusinasinya. Orang itu tidak pernah ada. Tak ada berita orang hilang bernama Javier sampai hari ini di koran-koran. Pak Menteri mulai berpikir, aku akan membocorkan rahasia-rahasianya ke publik. Dia berkali-kali coba membunuhku. Aku hampir dibunuh dua orang perampok yang masuk ke rumah entah ke mana penjaga keamanan kompleks. Aku keracunan yang membuat perutku beberapa hari tidak bisa menerima makanan apa pun. Mobilku masuk jurang hingga aku koma berbulan-bulan karena rem yang tiba-tiba saja tidak berfungsi. Itu semua tidak ada penjelasannya? Karena nasib sial belaka? Dia menyewa pengawal, dia memaksa untuk membaca semua pesan yang masuk ke ponselku. Dia mulai melarangku datang ke pesta-pesta privat teman-temanku. Dia memenjarakanku! Aku ingin membalasnya, membunuhnya adalah terbaik.”

“Masih banyak waktu untuk mengubah keputusanmu. Temanku ingin memastikan dia tidak melakukan kesalahan yang justru akan menjadi bumerang.”

“Pak Menteri harus mati malam ini. Aku sudah menyiapkan uangnya seusai permintaan temanmu si Pembunuh Bayaran. Setengahnya kutransfer sekarang, sisanya setelah kudengar kabar kematian Pak Menteri di Breaking News.”

Istri Pak Menteri tak pernah melihat wajah si Pembunuh Bayaran. Tak pernah mendengar suaranya. Seorang perempuan atau laki-laki. Si Pembunuh Bayaran menghabisi nyawa seorang pemilik showroom mobil dengan mengurungnya di dalam mobil yang telah dialiri gas beracun. Cucu seorang bangsawan ditemukan tewas tercekik kabel listrik. Dia menembak seorang dokter bedah di dalam lift rumah sakit. Kabar dari mulut ke mulut, si Pembunuh Bayaran punya kontak dengan si Pemilik Studio, sosok misterius yang hadir di persidangan Pak Menteri. Dikejarnya identitas si Pemilik Studio, alamat studionya. Istri Pak Menteri menitipkan surat-surat lewat seorang anak kecil yang sering nongkrong di sekitar studio. Menyelipkan selembar uang dengan pecahan besar di saku. Lama baru si anak kecil datang menghampirinya dengan kertas yang dilipat hingga sekecil kartu SIM. Si Pemilik Studio menentukan waktu pertemuan mereka dan harga untuk nyawa Pak Menteri.

“Temanku ini tidak pernah membunuh pejabat negara. Darah mereka baginya terlalu kotor. Maaf, jangan tersinggung, tapi sebutkan satu nama dari mereka yang kamu anggap bersih. Pak Presiden tak pernah tahu, uang-uang kotor yang mengalir di sekelilingnya. Dibawa dalam koper-koper, ditransfer dari satu bank ke bank lain. Diselipkan dalam tubuh-tubuh pekerja seks komersial. Dinikmati bersama keluarga.”

“Percayalah, aku membayar si Pembunuh Bayaran dengan hasil kerja keras sebagai publik figur, bukan nafkah dari Pak Menteri. Lagi pula mengapa si Pembunuh Bayaran terlalu idealis sih, memangnya dia pikir membunuh orang bukan pekerjaan kotor?”

Si Pemilik Studio menggeleng, “Pekerjaan kotor, tapi bukan mencuri uang rakyat seperti hobi Pak Menteri.”

“Siapa sebenarnya si Pembunuh Bayaran?”

“Anggap saja dia superhero.”

“Superhero atau psikopat, di mana bedanya? Hey-hey, berhenti dulu, seperti kena tulang tahu!” Istri Pak Menteri mengernyit-ngernyit. Meringis-ringis, dia meronta saat si Pemilik Studio menahan tangannya yang sedikit lagi menyentuh sekitar rusuk yang terbalut kulit tipisnya. “Sakit!” bentaknya kasar. “Oke, oke, tunggu sebentar.”

Si Pemilik Studio melepas sarung tangan karetnya, dicampakkan ke lantai. Mengganja sejenak. Menyiksa istri Pak Menteri dengan kepulan-kepulan asap, tak mau membaginya. Istri Pak Menteri mengipas-ngipas, memaki-merepet. Cleopatra senang saat kotaknya dibuka, menggerayangi lengan si Pemilik Studio. Hari naik ke sore. Si Pengawal menggandeng tangan Gadis Rok Mini yang mengaku masih perawan, masuk sebuah kamar hotel murahan. Anak-anak pulang ke rumah masing, setengah hati setelah mandi membawa sarung dan peci belajar mengaji di mushala. Pak Menteri mendatangi klinik pribadi Dokter Pathel, pulang dengan obat-obatan racikan dalam saku jasnya. Si Pembunuh Bayaran mengendap-endap di rumah Pak Menteri, memasang kabel-kabel dengan satu detonator. Si Pembantu Rumah Tangga cekikikan, bergunjing mesum dengan pembantu di blok sebelah tentang tukang sayur, yang penisnya begitu menonjol dari balik celana katun-gombrong selutut. Si juru masak mengunci diri di kamar, menulis surat cinta untuk pacarnya di kampung. Hujan turun beberapa tetes, berhenti tanpa sebab. Awan menyingkir ke atas garis pantai. Pesawat penumpang menunggu jatah mendarat, berputar-putar, diomeli para penumpang. Para pegawai menunggu jam pulang kantor. Kucing buangan yang mencari makan, menyeberang tiba-tiba, tertabrak mobil sport, mati terlempar ke tepi jalan. Istri Pak Menteri menggigit kain, menahan gigitan-gigitan jarum. Si Pemilik Studio beranjak menjawab panggilan telepon. Si Pembunuh Bayaran mengatakan, Pak Menteri takkan mati sendirian.

“Biarkan mereka semua mati. Ke neraka bersama-sama.”

“Perjanjian denganku hanya Pak Menteri.”

“Apa pedulimu? Harus kubalas mereka semua. Urusanku dengan Dokter Pathel akan kuselesaikan sendiri nanti, setelah Pak Menteri tiada. Aku tak butuh bantuan si Pembunuh Bayaran. Aku bisa sendiri.”

Si Pemilik Studio memasukkan warna-warna, melewati epidermis sampai satu lapisan lebih dalam. Istri Pak Menteri bak kanvas yang menanti sapuan ujung-ujung kuas. Mengubah putih menjadi rupa-rupa. Jam dinding berlari ke angka delapan. Turis-turis beranjak ke kelab malam. Seniman-seniman merapikan alat-alat, mencuci tangan, melempar lelucon ringan, membahas rencana berkemah di puncak gunung menjelang Tahun Baru, menyeduh kopi, menyalakan rokok filter, mengambil camilan dari lemari makanan, menyalakan televisi tanpa volume, satu per satu pulang pukul sembilan, tanpa menunggu si Pemilik Studio keluar dari ruangan. Mereka terlalu jauh dari rumah Pak Menteri, untuk mendengar suara ledakan besar. Getarannya meretakkan ubin-ubin lantai. Api muncul secepat hantu dari kegelapan. Ledakan membisukan tiap mulut. Tetangga pikir, ada pesawat jatuh dari langit, mengapa api begitu besar di rumah Pak Menteri. Berhamburan mencari tahu. Anak-anak meninggalkan tempat tidur. Listrik padam. Cahaya dari api yang berpesta pora memakan jasad Pak Menteri yang hancur lebur bersama kroninya. Reporter dan juru kamera berdatangan dari berbagai stasiun TV. Berebut mencari tempat strategis untuk siaran langsung. Polisi berdatangan, mobil pemadam berderet-deret. Pak Presiden menerima berita duka. Para Menteri menghubunginya, mengeluh ketakutan. Intelijen negara bergerak cepat. Mengendus seperti anjing-anjing pencari narkotik di terminal kedatangan. Breaking News disiarkan.

Si Pembunuh Bayaran melihat Istri Pak Menteri meninggalkan studio. Melenggok genit, tertawa-tawa sendiri. Si Pemilik Studio mengisap ganja terakhir. Cleopatra merayap di dinding, menjatuhkan dirinya di tangan si Pembunuh Bayaran. Detonator ada di dasar jurang. Takkan pernah ditemukan. Jurang angker siapa yang sudi ke sana, menyuruk-nyuruk di sarang ular.

“Dokter Pathel akan mengurusnya. Kali ini dia harus dikurung lebih lama. Pemuda yatim piatu yang malang. Dia berhalusinasi. Obselalu dimuntahkan.”

Si Pemilik Studio mengakhiri isapannya. “Javier yang malang. Pak Menteri hanya ingin menolongnya.”

Jogja, 14 Oktober 2016

(Cerpen Alibi di Hari Pembunuhan Pak Menteri dimuat pertama kali di basabasi.co 19 Oktober 2016)

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response