Antologi Kampus Fiksi Emas 2017 dan Bahas Cerpen-Cerpen Bertema Tragedi ’98

Antologi Kampus Fiksi Emas 2017 dan Bahas Cerpen-Cerpen Bertema Tragedi '98
Antologi Kampus Fiksi Emas 2017. Sumber gambar: pixabay.com

Tinggal 16 hari lagi menjelang pelaksanaan Kampus Fiksi Emas 2017. Perayaan ulang tahun Kampus Fiksi ini selalu diramaikan dengan lomba cerpen yang dimulai beberapa bulan sebelumnya. Temanya memang menantang, tragedi 98. Peristiwa di mana saya masih SMP dan tidak kenal politik bangsa ini apalagi bangsa lain.

Dari 59 karya yang dikirimkan, saya dan tim juri akhirnya menyisihkan hanya 16 cerita pendek saja untuk dibukukan. Berhubung tulisan ini saya buat jauh-jauh hari sebelum launching, saya harus merahasiakan judulnya.

Proses penjurian kali ini saya buat agak berbeda dari biasanya. Yaitu dengan berpasangan. Maksudnya, 1 cerpen akan dibaca oleh 2 juri dalam waktu 1 minggu. Setiap juri akan punya sudut pandang penilaian masing-masing. Tidak heran ketika kemudian satu cerpen bisa sangat berat untuk diloloskan karena 1 juri keberatan. Tentu saja ada alasan-alasan yang mendasari—termasuk saya—untuk menghentikan laju sebuah cerpen ke tahap berikutnya.

Penjurian tahap kedua, 26 cerpen tersisa. Sepertiganya adalah masukan dari juri lain. Membaca kisah-kisah penuh pilu memang membuat energi kami banyak sekali terkuras. Seperti dugaan kami di awal, tidak hanya kami yang lelah, peserta mungkin akan tidak semembanjir tahun lalu. Meracik sebuah kisah dari sebuah tragedi yang samar-samar memaksa peserta untuk mengebut riset. Dan data-data itu tidaklah semudah mendapatkan data-data tragedi kemanusiaan di negara lain, tentang Holocaust misalnya. Banyak data dan fakta yang belum terungkap, sebab ada pihak-pihak yang menentang hal itu. Mengapa? Memengaruhi nama baik bangsa? Boleh jadi.

Penjurian tahap selanjutnya adalah penentuan untuk mana-mana saja cerita yang akan masuk dalam antologi. Kami bersepakat untuk menghilangkan kisah-kisah yang jamak diangkat oleh peserta dengan sudut pandang yang sama. Kami tidak bisa menafikan bahwa pemerkosaan etnis Cina dan penjarahan adalah realitas di lapangan.

Maka inilah 16 cerpen yang masuk dalam Antologi Kampus Fiksi Emas 2017:

  1. Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya, pada Hari Itu, saat Langit Murung dan Jalanan Berwarna Merah (Fakhri Cahyono)
  2. Sepasang Serasah Cokelat (Reni FZ)
  3. Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan (Aris Rahman)
  4. Peluru di Rumah Itu (Majenis Panggar Besi)
  5. Obituari Rindu dan Pembebasan (Dhanica Rhaina)
  6. Negasi Kebahagiaan (Bella Fazrine)
  7. Napak Tilas (Yenita Anggraini)
  8. Mimpi Lelaki Tua (Mas Agus)
  9. Migrasi Keluarga Sakinah (Ghyna Amanda)
  10. Menjahit Bibir Marie (Dini Meditria)
  11. Lengsernya Paman Gober (Alfanie Bican Mery)
  12. Komedi-Tragedi (Farrahnanda)
  13. Kamis Kedua di Bulan Mei (Dhamala Shobita)
  14. Hari Anjing-Anjing Menghilang (Umar Affiq)
  15. Bunga Ngarot yang Menjadi Layu (Frida Kurniawati)
  16. Aku dan Peranku (Mufidatun Fauziyah)

Nomor urut di atas tidak memiliki pengaruh apa pun dari sisi penilaian juri atau faktor lainnya. Hanya kebalikan dari urutan alfabet alias Z-A. Dan mulai hari ini juga, saya akan mulai bahas cerpen satu per satu setiap hari. Pengumuman juara akan dilaksanakan pada 23 April 2017. Silakan menebak-nebak dan pasang taruhan dengan teman dari sekarang. Ups.

 

Jogja, 8 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response