ASEAN Literary Festival 2015; Perhelatan Sastra di Ibu Kota

ASEAN Literary Festival 2015

ASEAN Literary Festival 2015 (ALF 2015) di Taman Ismail Marzuki membuat ingatan saya kembali terbawa ke tahun 2007 ketika itu Q! Film Festival digelar besar-besaran di Yogyakarta di mana begitu banyak penggiat film internasional yang datang untuk menghadiri agenda-agenda acara yang padat. Saya masih teringat ketika bisa berhadapan langsung dengan Nia Dinata, Vivian Idris, Melisa Karim, Sausan, sampai Jajang C. Noer. Selebriti sastra yang hadir di ALF 2015 tidak sedikit, saya hitung dari Okky Madasari, Ananda Sukarlan datang untuk mengisi opening night, John McGlynn dari Lontar Foundation, Ahmad Tohari, Clara Ng, Bernard Batubara, Joko Pinurbo, Krishna Pabicara, Richard Oh, Saut Situmorang, dan sejumlah penulis ASEAN yang juga memiliki karya terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Saya datang dari Yogyakarta bersama rombongan #KampusFiksi yang akan mengisi salah satu booth komunitas yang diundang oleh panitia. Selama 3 hari, kami diberi kesempatan untuk semaksimal mungkin memperkenalkan kegiatan selama ini secara lebih luas. Selama ALF 2015 saya bertemu dengan begitu banyak komunitas, ya baik itu yang mencintai dunia tulis-menulis, membaca buku, sampai budaya. Itu hanya sebagian kecil saja yang ada di Jakarta. Tapi mereka tidak kalah keren. Ada komunitas @themurmurhouse yang bersebelahan dengan booth kami. Sayangnya saya tidak sempat berkenalan dengan Rain Chudori dan Syarafina Vidhayana, dua founder komunitas ini. Sempat juga ngobrol dengan yang jaga booth, dan akhirnya saya tahu kalau komunitas ini telah memiliki satu antologi cerpen, tapi karena tidak dicetak banyak jadinya tidak bisa saya bawa pulang. Saya hanya membeli sebuah paket suvenir yang salah satu isinya adalah blocknote dengan cover sebuah ilustrasi karya Andri Nirmala berupa interpretasi ulang dari novel Saman milik Ayu Utami.

Ada juga komunitas @kartunet. Salah satu komunitas yang beda dari yang lain, karena identik dengan penulis tuna netra. Saya sedikit mendapatkan penjelasan bahwa mereka selain juga yang benar-benar tuna netra, ada juga yang memang concern pada orang-orang tuna netra. Saya lalu melihat demo saat mereka mengetik dengan menggunakan software khusus. Bagi saya, itu adalah proses yang sangat sulit dan butuh waktu untuk mempelajarinya. Maka saya acungkan jempol untuk mereka yang punya keinginan kuat untuk menulis dengan segala keterbatasan.

Tidak jauh dari @kartunet, ada komunitas dari @stomata_. Ini isinya mahasiswa UNJ yang punya semangat tinggi untuk mempertahankan gairah dalam dunia kepenulisan yang beraroma sastra. Karena sastra bukan suatu zona yang bisa diakses banyak orang seperti halnya seni lukis, maka tidaklah mudah untuk bisa melebarkan sayap dengan mudah ketimbang komunitas yang memang terbuka untuk genre lainnya. Tapi komitmen untuk tetap survive menurut saya adalah suatu amunisi yang harus diperhitungkan.

Terakhir ada komunitas @logikarasa. Saya ketika berkenalan dengan mereka, cukup kaget juga karena ada mahasiswa Hukum UI di sana. Tapi bukankah penulis keren semacam Marga T. pun basis akademiknya adalah nonfakultas sastra? Secara garis besar, komunitas ini muncul dari media online logikarasa.com. Konsep mereka rupanya sedikit banyak menyerupai basabasi.co yang bulan April 2015 besok akan dilaunching. Ada fiksi, puisi, surat, dan resensi. Usia komunitas ini baru satu tahun dan karena punya konsep dasar yang baik, maka bisa dilihat bahwa mereka cukup terorganisir.

Selain komunitas, ada juga penerbit indie @nulisbuku, yang booth-nya tepat di depan kami. Mereka ini tidak mau kalah heboh dengan yang lain untuk mempromosikan diri. Cukup dengan upload foto, saya bisa memilih salah satu dari 3 buku yang mereka pernah terbitkan dan saya memilih Air Akar, antologi cerpen Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012. Tidak sedikit orang yang memandang sebelah mata buku-buku yang diterbitkan secara indie baik melalui penerbit indie maupun penerbitan sendiri dengan beralasan bahwa kualitasnya tidak sebaik buku yang diterbitkan secara mayor. Semenjak tahu bahwa Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh milik Dee pada awalnya diterbitkan secara indie, saya menaruh respek terhadap penerbitan alternatif. Di luar negeri pun, tidak sedikit mereka yang mengeluarkan uang sendiri untuk menerbitkan karyanya dan mampu mempertahankan eksistensinya ketimbang yang selalu dimanjakan oleh penerbit kaya raya.

Banyak diskusi menarik yang digelar selama perhelatan ASEAN Literary Festival 2015, mulai dari seputar karya sastra, penerjemahan, penerbitan karya, sastra untuk anak, perempuan dan sastra, media digital. Untuk malam harinya, ada penampilan sastra di panggung utama yang sayangnya sering terkendali dengan hujan lebat yang mengguyur Jakarta sampai berjam-jam. Antara lain yang tampil adalah Signmark, Zawawi Imron, Joko Pinurbo, Mario Lawi, dan Rupadhatu.

Secara keseluruhan, ajang seperti ini adalah sesuatu yang langka. Kalangan muda zaman sekarang mungkin ada yang heboh menyambut kedatangan One Direction di Jakarta ketimbang mengenal lebih jauh seputar dunia sastra tanah air. Semoga saja ASEAN Literary Festival 2015 terus mempertahankan diri dari tahun ke tahun dan mempersembahkan yang lebih lagi. Amin.

Saya dari tim #KampusFiksi mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada panitia ALF2015 yang telah kesempatan kepada kami untuk menjadi bagian dari acara ini. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

 

Jogja, 24 Maret 2015