Ashmora Paria (DIVA, 2012), Perjalanan Cinta yang Tersandung Agama

Ashmora Paria (DIVA, 2012), Perjalanan Cinta yang Tersandung Agama
Ashmora Paria (DIVA, 2012). Sumber gambar: divapress-online

Weekend ini gue bingung mau ngapain, pingin pergi tapi gue lagi nggak mood. Ya udah, gue stay di Jogja aja sambil ngabisin waktu sendirian. Gue lalu ngeliat meja gue, di situ ada beberapa buku yang mengharap bakal gue baca secara entah gue susah banget ya mau ngembaliin minat baca, padahal dulu gue bisa bilang hobi banget tuh melahap buku.

Hmm, gue akhirnya milih Ashmora Paria. Kenapa? Buku ini kan sebenarnya buku yang udah terbit sekian tahun lalu (kalo belom ngeh, inget-inget lagi deh sama buku Garis Tepi Seorang Lesbian. Nggak ngeh juga?) dulu sempat gue baca gitu beberapa halaman dan gue nggak sempat ngeh ini ceritanya tentang apa, ya pastinya tentang lesbian dong, lah judulnya itu.

Jumat malam, gue pun membuka halaman pertama dan … jeng jeng jeng! (apa sih pake efek gituan). Halaman awal nih gue masih inget nih, kan dah gue bilang gue sempat baca beberapa halaman. Terus gue lanjut. Oh ternyata si Ashmora Paria ini pisah sama Rie Shiva Ashvagosha setelah mereka sempat merried di Prancis. Ciee galau nih ceritanya karena si Rie ini mau dinikahkan (dengan laki-laki tentunya) karena ibunya Rie sedang sakit. Ashmora ini lalu menceritakan tentang perasaannya pada dua sahabatnya, Rafael dan Gita. Rafael seorang pastor Katolik yang tingkat pendalaman agamanya cukup tinggi. Dia memperlihatkan sikap tidak sepihak dengan kehidupan Ashmora, selain karena berbenturan dengan agama (meski dia beda agama dengan Ashmora yang muslim) juga karena doski naksir ama Ashmora sebenernya.

Sementara itu, Gita (walaupun-sori gue lupa tapi seinget gue sih-karakternya tidak ditampilkan secara jelas dalam buku ini) tipikal yang bisa dibilang support. Gita ini sudah menikah dan hidup baik-baik. Dulu Gita adalah teman satu kampusnya Ashmora.

Ashmora di sini digambarkan sebagai sosok yang punya hidup mapan sebelum orang-orang mulai curiga ia seorang lesbian. Dia pemegang saham sebuah perusahaan dan juga seorang penulis. Karena rahasia itu terungkap (terungkap di sini bukan berarti benar-benar ketahuan lho karena toh masih banyak orang yang pingin tahu apa doski ini belok apa cuma kecurigaan semata), perusahaan tempat ia bekerja pun semacam memberi garis batas. Film yang akan ia buat pun terancam batal diproduksi. Pada titik ini, Ashmora mulai merasa dunia seperti berlaku tidak adil kepadanya bahkan Tuhan pun demikian, sehingga ada di satu bagian di novel ini dia menginginkan Tuhan yang perempuan supaya bisa mengerti tentang dirinya.

Dalam hubungannya dengan Rie, ia berperan sebagai femme (ini istilah dalam dunia lesbian ya, bukan bahasa Prancis). Nggak harus gue jelasin kan kalau femme itu yang berperan sebagai feminin dalam sebuah hubungan sejenis, setara dengan perempuan dalam hubungan heterrokseksual. Dan butchie itu megang peranan maskulin dan layaknya laki-laki dalam heterosexual relationship. Oke, itu aja. Gooling gih sana kalau mau tahu lebih banyak atau nanya sama penulisnya juga bisa.

Soal kesetiaan, Ashmora Paria menurut gue bukan tipikal yang bisa nggak seratus persen diandalkan. Okelah dia begitu menggebu-gebunya menunggu saatnya bersatu kembali dengan Rie, tapi di sisi yang lain kebutuhan biologis kan butuh terpuaskan juga tho. Dan buat gue, ini sangat wajar lah ya. Orang-orang yang tidur sama dia ada yang seorang resepsionis hotel sampai seorang mahasiswi heteroseksual yang ujuk-ujuk bernafsu sama si Ashmora. Dan pertanyaan gue adalah, kenapa si Mahadevi itu bisa begitu mudahnya tergila-gila pada Ashmora sementara dia punya pacar Daniel (dari namanya aja udah ketahuan kalau dia lelaki). Entah bisakah dia gue sebut seorang biseksual atau heteroseksual yang menyimpang (apalah itu maksudnya).

Oh ya, Ashmora ini mengingatkan gue kembali dengan karakter Maria Tsabat yang punya sex appeal tinggi di mana dia dengan mudah membuat orang lain jatuh cinta kepadanya meski dia tak cinta (ups, semacam lirik lagu cinta band yang udah bubar tuh). Ashmora dan Maria dari segi watak memang berbeda, yang satu mature karismatik (si Maria maksud gue) satunya umat galauers yang mikirin cinta aja kerjanya.

Selain selain S factor itu, yang perhatiin, Ashmora digambarkan sebagai seorang yang lemah fisiknya. Kalau ini hampir sama dengan karakter Bintang Kejora dalam novel Sebuah Cinta yang Menangis. Ashmora sempat mengeluhkan soal sakit lambung ketika ia bersama Mahendra. Gue nggak tahu apakah ini ada kaitannya dengan tekanan psikologis atau tidak. Tapi biasanya keduanya itu punya kaitan secara medis sehingga yang namanya obat-obatan mau nggak mau pasti kesebut juga. Tapi sejauh yang gue inget, Ashmora dan Bintang Kejora nggak sampai ke tahap ketergantungan obat.

Oke beralih ke soal bahasa, gue akui novel ini jauh dari standar novel populer yang bisa dikonsumsi semua kalangan. Banyak bahasa kiasan yang jujur gue pribadi nggak ngerti maksudnya apa, ya mungkin hanya Tuhan dan para sastrawan yang tahu rahasia di baliknya. Si penulis banyak juga mengutip beberapa serat lama buat menguatkan cerita (dan membuat gue makin bingung saja mencari kaitannya atau memang nggak ada hubungannya). Daripada gue bingung, yang gue lakukan adalah skip dan skip lagi.

Asmora Paria adalah novel monolog hingga kurang lebih sama dengan sebuah catatan harian. Kalau pun ada beberapa percakapan dengan tokoh lain, hanya dalam porsi yang sangat kecil. Dan menurut gue adanya percakapan justru hanya membuat gue bingung dengan karakter si tokoh. Contoh, ketika ada percakapan antara Mahendra dan Ashmora, itu menurut gue seperti percakapan satu orang. Mahendra itu songong, si Ashmora itu congkak. Dan keduanya pun bisa jadi lembut di saat yang bersamaan.

Tapi secara keseluruhan, novel yang bestseller baik di edisi lama maupun edisi barunya ini gue akuin memang extraordinary. Entah orang-orang di luar sana-yang punya orientasi sama dengan Ashmora Paria-sepikiran dengan isi dalam buku ini atau tidak, yang pasti gue setidaknya bisa menambah pengetahuan gue tentang sesulit apa sih seorang lesbian untuk bisa mempertahankan pilihan hidup di mana di satu sisi ia ingin tetap dengan pillihannya, tapi di sisi lain ia mendapat tekanan yang nggak ada habisnya.

 

Taman JEC Kafe, Jogja, 9 Februari 2013, 20:37 WIB

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response