Atomic Blonde (2017): Film tentang Lorraine si Pirang Mata-mata Inggris

Atomic Blonde (2017). Sumber gambar: IMDB.

Atomic Blonde mengunggulkan aktris berbakat Charlize Theron menjadi nyawa film berdurasi 115 (di Indonesia cuma 113 menit, berhubung ada adegan yang sayang sekali tidak boleh dilihat oleh para penonton yang minimal berusia 21 tahun. Adegan apakah itu? Coba aja cari trailer versi red band dan beberapa versi lain, asalkan bukan trailer yang beredar di Indonesia. Tersebab lembaga sensor film sepertinya khawatir jika adegan percintaan sejenis terpapar dengan bebas, bahkan untuk orang dewasa sekalipun). Kalau lawan jenis: Boleh. Catat ya.

Selain Charlize juga ada James McAvoy (Split, Wanted, X-men) yang berperan sebagai agen yang membantu Lorraine menemukan sebuah daftar nama para agen yang berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah.

Ada yang juga manis, si Sofia Boutella (Kingsman: The Secret Service, The Mummy, Star Trek Beyond) sebagai pacar eh agen Prancis yang memata-matai Lorraine saat menjalankan misi di Jerman. Di novel The Coldest City karangan Antony Johnston, Lasalle sebenarnya adalah laki-laki dan perannya terbilang minor. Dalam adaptasi, ada perubahan yang cukup signifikan. Meskipun, perkara sensor membuat saya tidak menikmati keberadaan Boutella secara utuh. Mana adegan itu? Mana?! Tiba-tiba dia udah di samping Lorraine dan hanya mengenakan celana dalam.

Mengambil setting di Jerman, sekitar 10 hari menjelang dirobohkannya Tembok Berlin, setelah Perang Dunia II berakhir. Musuhnya Lorraine bisa ditebak, adalah kaum fasis yang dibekingi KGB Rusia. Berhubung ini film Amerika, ya pasti tahu sendiri mana yang jadi orang jahatnya dan selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk mengirimkan “penyusup”.

Penyusup inilah yang membuat penyamaran Lorraine terbongkar sejak pertama kali dia tiba di bandara kota Berlin. David Percival adalah agen yang menyamar di Jerman Timur, dia diutus untuk membantu sang mata-mata mendapatkan kembali “Daftar” itu, sebelumnya dipegang oleh James Gasciogne, ehem-ehemnya Lorraine. Si penyusup yang identitasnya masih misterius menggiring kita untuk mencurigai dua orang: David Percival atau Delphine Lasalle. David punya relasi yang kuat dengan pihak musuh mengingat dia berbisnis di area para fasis. Delphine pun muncul dan sengaja mendekat sampai diajak tidur.

Atomic Blonde (2017); Film tentang Lorraine si Pirang Mata-Mata Inggris 3
Lorraine dan Delphine.

Berada di Jerman rasanya seperti di neraka. Ke mana pun Lorraine pergi, ada saja yang berusaha membunuhnya, juga membunuh orang penting yang ingin dia lindungi. Nah, dimulailah rentetan adegan brutal yang berdarah-darah, sebagai kilas balik ketika si pirang itu menceritakan apa yang telah dialaminya di depan atasannya dan juga seorang utusan CIA. Jadi di awal film, kita sudah melihat Charlize Theron sudah dengan muka dan badan memar, dia berendam dalam kolam berisi air dan es batu. Lalu es batunya dipakai untuk mendinginkan vodka. Minuman yang kurang elegan untuk seorang mata-mata Inggris.

Charlize berlatih keras untuk bisa melakukan adegan perkelahian yang mengakibatkan cedera di beberapa bagian tubuh termasuk gigi yang harus mendapatkan perawatan intensif. Dia gigit sendiri padahal, bukan kena pukul. Dia harus beradegan kena pukul, kena tendang, terguling ke tangga, terbentur ke tembok dan adegan keras yang membuat saya ingin menjadi tameng untuk… mo apa lo ha? Ajaibnya, tidak pernah kena peluru. Mungkin dia punya jimat si Pitung.

Atomic Blonde (2017); Film tentang Lorraine si Pirang Mata-Mata Inggris 3

Sebelum Lorraine mulai terlihat brutal, saya akui Atomic Blonde terbilang agak garing. Tapi berhubung melihat Charlize yang begitu dingin, okelah tidak masalah. Efek CGI dan efek suara kemudian membuat film ini mulai terasa lebih Hollywood dan abaikan Charlize yang logat British-nya timbul tenggelam, dan Sofia Boutella yang logat Prancis-nya agak gimana walau notabene dia berdarah Prancis sebenarnya.

Banyak orang yang membandingkan Atomic Blonde dengan James Bond. Terlebih sekarang James Blond pun berambut pirang. Tapi, James Bond adalah lelaki flamboyan dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Si Lorraine bukan tipe yang terlalu mengekspos seksualitas. Dia sama si Lasalle itu nggak begitu jelas juga hubungan cintanya. James Bond selalu punya alat-alat canggih. Lorraine yang seorang mata-mata MI6, senjatanya cupu banget, sering ngambil punya orang lagi. Intinya, James Bond tetaplah yang legendaris. Sorry to say.

Satu yang saya senangi dan saya rasa penonton di luar sana sepakat, adalah lagu-lagunya. Yeah, bernuansa tahun 80-an. Ada Under Pressure (Queen), Fight the Power (Public Enemy), Blue Monday ’88 (New Order). Saya sudah lebih dulu mendengarkan di Spotify. Kalau udah nonton filmnya, pas mendengarkan salah satu track akan langsung mengingatkan dengan salah satu adegan.

Atomic Blonde disutradarai oleh David Leitch (Deadpool 2, John Wick), di mana Charlize Theron pun menjadi salah satu produser.

 

Jogja, 16 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response