Bad Genius (2017): Film Tentang si Genius dan Kecurangan Ujian

Bad Genius (2017): Film Tentang si Genius dan Kecurangan Ujian
Bad Genius (2017). Sumber gambar: IMDB.

Memenangkan kategori Best Director di ajang Fantasia Film Festival 2017 mungkin suatu prestasi yang terlalu hebat. Maksud saya… ah sudahlah. Saya tahu film ini karena banyak youtuber yang membuat vlog reaksi ketika menonton trailernya. Dan itu bukan vlogger berwajah Asia. Film yang diangkat dari sebuah kisah nyata seorang murid genius—catat, si Lynn ini juga punya prestasi di bidang olahraga, bisa main piano. Sebuah paketan yang lengkap. Dia juga tidak diceritakan menjadi sosok kutu buku yang selalu mengisolasi diri dari teman-temannya. Dia tipe murid yang ramah dan akhirnya bertemu dengan Grace yang kapasitas otaknya 3 langit di bawah Lynn. Dibilang bodoh banget sih nggak, ya kayak otak saya, lah yang mengingat pelajaran susah banget. Grace punya pacar bernama Pat, anak orang kaya yang otaknya juga pas-pasan. Tidak hanya mereka, yang merasa ujian sekolah sebagai sebuah monster menakutkan masih banyak lagi.

Lynn adalah murid pindahan. Ayahnya yang bersikeras agar Lynn mendapatkan sekolah yang lebih baik dan memiliki kesempatan beasiswa ke luar negeri. Segalanya akan lebih baik di luar negeri. Ayah Lynn adalah seorang guru di sekolah lama putrinya.

Ujian akhir membuat kegelisahan di antara Pat dan teman-temannya. Maka terpikirkanlah untuk memanfaatkan, maaf, sepertinya tidak senaif itu, tapi mengajak Lynn menjadi sumber contekan dengan bayaran 3.000 baht atau itu sekitar 1.200.000 rupiah per orang.

Jika pertama kali Lynn memberikan contekan kepada Grade lewat penghapus, sekarang menggunakan trik permainan piano. Kelemahan sistem ujian pilihan ganda yang hanya A sampai E adalah membuka ruang manipulasi. Dengan kelima jari tangan kanannya, Lynn membuatkan kode yang akan ditransfer kepada para pencontek yang telah membayar. Berhasil. Murid-murid puas dengan hasil itu.

Aksi berisiko tinggi Lynn pernah hampir ketahuan oleh pihak pengawas ujian. Itu gara-gara Bank, anak genius lain yang sangat lurus. Dia anti memberikan contekan pada siapa pun, mau dibayar berapa pun. Bank dan Lynn adalah tim yang maju ke ajang Teen Genius. Bank tipe yang ketika lagi tegang dengan suasana yang dihadapinya, akan muntah. Lynn-lah yang kemudian membuatnya lebih rileks. Keduanya baik-baik saja hingga harus dihadapkan pada persaingan mendapatkan beasiswa Singapura. Hanya ada 1 beasiswa dan keduanya sama-sama menginginkannya.

Nah di situlah level konfliknya mulai semakin panas. Belum lagi, ayah Lynn marah besar ketika tahu putrinya mencurangi ujian sekolah. Selama ini, yang dia tahu, bertambahnya angka-angka dalam rekening putri satu-satunya itu berasal dari mengajar piano.

Ketangguhan Lynn sebagai tukang pemberi contekan menemui klimaksnya pada ujian STIC yang dilaksanakan serentak di seluruh dunia. Mereka yang lolos ujian bisa memasuki universitas-universitas bergengsi di mana pun mereka mau. Termasuk incaran Pat dan Grace. Ini adalah bagian paling menegangkan karena waktu untuk membocorkan jawaban ujian dari Lynn yang berada di Sidney dan temannya yang menunggu di Thailand sangat sempit. Ujian terdiri dari 4 sesi, dan masing-masing sesi terdiri 100 soal. Ada esainya juga bahkan. Satu-satunya yang membuat sebuah hal mustahil menjadi mungkin adalah Bank. Satu-satunya yang membuat Bank luluh adalah uang. Demi 1 juta baht, dia pun terlibat. Hitung sendiri ya itu berapa rupiah.

Bad Genius fokus pada kecurangan-kecurangan saat ujian sehingga penonton tidak mendapatkan kadar memadai untuk romantis-romantisan. Plotnya sangat keren, dan Lynn tampil sebagai sosok yang menempatkan dirinya bukan sebagai pecundang, tapi mitra bisnis yang punya kekuatan bargaining kuat. Sebab, jika bukan kita yang berbuat curang, maka orang lainlah yang akan mencurangi kita. Itu berlaku di dunia tempat kita hidup sekarang.

Bad Genius pertama kali screening pada ajang New York Asian Film Festival tahun ini.

 

Jogja, 25 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response