Bagaimana Pertemuan Pertamamu dengan si Dia #KF10DAYS

Bagaimana Pertemuan Pertamamu dengan si Dia |

Bagaimana Pertemuan Pertamamu dengan si Dia #KF10DAYS 3
Bagaimana Pertemuan Pertamamu. Sumber gambar: picturexplore.blogspot.co.id

Di hari keempat #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge, saya harus membongkar dan memilah kenangan-kenangan di dalam kepala untuk menjawab pertanyaan bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia, tanpa menyebutkan namanya. Membongkar sebab saya memutuskan untuk sementara waktu tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Memilah karena tidak semua hal yang pernah terjadi di masa lalu itu indah untuk diingat-ingat.

Tarik napas dalam-dalam, matikan musik, konsentrasi, pejamkan mata, lalu tidur. Bangun, dan ternyata layar laptop tidak bertambah satu huruf pun. Lalu saya teringat, tulisan ini harus saya selesaikan sendiri.

Mundur ke tahun 2007. Fresh graduate. Lepas dari sebuah beban di pundak. Belum ada aktivitas rutin yang menyita seharian hidup. Tidak ada lagi kuliah jam 8 pagi. Pulang dengan membawa tugas untuk dikumpulkan seminggu kemudian. Tidak ada ujian. Tidak ada nilai-nilai yang perlu dikejar. Umur saya 23. Sudah berapa kali pacaran? Yang akan saya ceritakan sekarang adalah tentang pacar pertama.

Bagaimana Pertemuan Pertamamu dengan si Dia #KF10DAYS 2
Sumber gambar: shutterstock.com

Suatu hari saya janjian dengan seorang dokter bedah mulut. Bentuk gigi saya menurun dari pihak ayah. Tidak tumbuh dengan lurus. Sehingga ketika tertawa, saya memilih menyembunyikan gigi deretan bawah atau benar-benar hanya tersenyum. Saya memutuskan untuk menjalani operasi mengangkat gigi geraham belakang yang semakin lama semakin bengkok dan berpotensi merusak gigi terdekatnya.

Untuk mengambil gigi yang masih hitungan bayi, tidak bisa dicabut biasa. Dokter gigi biasa pun tidak bisa melakukannya. Gusi saya harus dibedah. Tenang, hanya operasi kecil dan saya berada di bawah pengaruh bius. Mana saya punya nyali melihat proses operasinya dari kaca dokter.

Saya menunggu bersama pasien lain. Nomor saya cukup awal. Namun jika semuanya harus operasi, tetap saja harus menunggu berjam-jam. Seorang teman kos berbaik hati menemani saya. Kalau tidak salah dia kuliah di jurusan kedokteran hewan, sudah biasa melihat darah.

Pandangan saya mengedar. Saat itu, ponsel saya belum Lenovo seperti sekarang. Belum bisa sepuasnya mengakses internet. Membaca koran membuat saya mengantuk. Menunggu itu membosankan.

Pandangan saya berhenti di satu titik, dua baris di depan, saya seperti mengenali seseorang. Itu temannya teman saya. Dia berbicara dengan orang di sebelahnya. Saya menunggu dia menoleh ke kiri untuk memastikan tidak salah orang. Suster memanggil pasien berikutnya, mereka berdua masuk dan saya masih belum bisa melihat wajah keduanya.

Penasaran, saya menghubungi teman saya. Benar, temannya teman saya sedang mengantarkan temannya ke rumah sakit. Mengantarkan teman ke rumah sakit? pikir saya. Pertanyaan itu menggantung begitu saja. Hingga mereka berdua ke luar dari ruangan dokter tidak lama kemudian.

Bagaimana Pertemuan Pertamamu dengan si Dia #KF10DAYS 2
Sumber gambar: solopos.com

Tahukah betapa rasa penasaran itu bisa membuat seseorang berusaha untuk mencari sebanyak-banyaknya informasi dengan segala cara? Akhirnya kami terkoneksi. Terima kasih atas jasa Friendster dan Yahoo Messenger yang perlahan membuat kami makin dekat meski ada jarak. Seandainya sore itu saya pun juga batal operasi, barangkali kami masih bisa bertemu fisik di tempat yang sama, sebelum dia kembali ke ibu kota. Dia bercerita, setelah kami jadian beberapa waktu kemudian,saya tidak ingat persisnya, sebuah kecelakaan motor membuat dokter harus melakukan pemasangan plat di gusinya. Mengingat pemasangan itu butuh waktu lama, maka sang dokter menjadwalkan seminggu berikutnya.  Dia sama sekali tidak menyadari jika waktu itu ada seseorang yang mengamatinya dan berharap dia menoleh barang sebentar.

Pernah menemukan cinta di rumah sakit? Saya pernah.

 

Jogja. 21 Januari 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response