Bali; Perjalanan dan Tempat-Tempat Menarik bagi Wisatawan

Bali, gue nggak pernah mengkhayalkan suatu hari gue bakal ke sana, apalagi gratis. Disponsori sama kantor tempat gue kerja. So, wajar ketika hal itu kejadian, gue sulit gimana mengungkapkan perasaan gue. Sometimes I’m so stupid in expressing my feeling. Tapi, nggak dengan menuliskannya. So, this is my story about 4 days in Bali. Oh ya, sebelum mulai, gue mau bilang karena berhubung acara jalan-jalan ini disponsori, jadi soal tarif ini itu masuk ke tempat wisata gue nggak begitu tahu. Okeyy.

Awal cerita gue ke Bali
Kantor tempat gue kerja dan sub divisinya yang gue pegang mengadakan sebuah kompetisi novel dengan hadiah utama jalan-jalan ke Bali. Gue jadi panitianya termasuk salah satu juri. Setelah lomba sampe penjurian selesai, saatnya buat ngasih hadiah buat Tangguh dan Ghyna.

Bali; Perjalanan dan Tempat-Tempat Menarik bagi Wisatawan
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Beruntungnya, di kantor ada relasi yang punya bisnis agen perjalanan di Bali. Gue manggil dia Nimas, nama lengkapnya Ni Made Sumartini dari Crown Guest House (Jl. Gatot Subroto I/XVII no. 5 Denpasar, HP: 087853253328, email: mycrown.nimas@gmail.com). Dia nggak cuma menyediakan tempat menginap, tapi juga rentalan mobil yang dikelola oleh salah seorang kawannya bernama Bli Awan. So, urusan tur selesai, trus nyari tiket pesawat. Gue mesen tiket via Tahiti (0274-489329/7480000). Gue pesen untuk tanggal 1 dan 4 Mei 2013. Untuk 3 orang, total tiket pergi Jogja-Bali 2.132.000 dan pulangnya Bali-Jogja 2.264.000. Oh untuk pemesanan by SMS bisa di 085640646467.

Persiapan keberangkatan

Persiapan khusus ke Bali, gue lebih ke urusan gadget dan kamera. Gadget karena gue akan melakukan live tweet dari Bali selama 4 hari. Bayangin dong BlackBerry gue kudu kerja selama gue jalan-jalan. Terus kamera itu sama wajibnya secara gue suka fotografi dan Bali punya spot-spot eksotis yang harus diabadikan. So, gue bawa 2 kamera. Yang Fujifilm Finepix SL300 sama kamera saku Sony DSC W130. Yang Sony buat back up gue untuk foto di malam hari dan baru gue pake pada hari saat memotret patung raksasa Wisnu di GWK.

Soal baju, gue bawa secukupnya. Gue tahu di sana panas, jadi T-shirt harus dipake terus. Tapi meskipun sudah membatasi baju, tetep aja gue ujung-ujungnya bawa 2 backpack dan satu tas kamera. Gue masih perlu belajar banyak soal backpacking trip sepertinya.

This is Us!

Kami berangkat pukul 07.25 WIB dan nyampe Ngurah Rai pukul 09.40 WITA. Kami langsung dijemput Nimas dan Bli Awan. Kami dibawa ke homestay untuk menaruh barang-barang bawaan lalu langsung jalan-jalan. Sebenarnya hari itu jadwal kami hanya menikmati sunset di Tanah Lot. Tapi karena jadwal pesawat pagi, jadilah ada satu agenda baru. Nah, inilah asyiknya agen tur kami ini. Sangat fleksibel dan mereka okey-oke aja kalau misal ada tempat yang ingin kami lihat tapi nggak ada di schedule, asal searah ya bisa mampir. Karena ada tambahan, maka cost pun bertambah. Untuk ke Ulun Danu, kami menambah 200.000 plus makan siang.

Setelah menyimpan barang, kami makan siang ayam betutu. Ini adalah masakan khas Bali yang katanya sih pedes, tapi buat gue yang udah biasa pedes (meski abis itu mules) nggak seberapa kok. Kami memang sengaja memilih hanya menu-menu khas Bali dan kita nggak takut salah makan. Gue sebelumnya udah mesen ke Nimas untuk hanya memilih tempat makan yang halal (dalam hal ini bebas babi). Kami makan siang di Denpasar lalu menuju Tabanan. Di sini ada sebuah danau dan pura (pure kalau orang Bali nyebutnya). Ada Danau Beratan dan Ulun Danu. Kami rehat di sini sejenak sekaligus shalat. Ada sebuah masjid besar di sini (dan harap dicatat, menemukan mushala atau masjid di Bali tidak mudah). Dari masjid kami bisa menikmati view Danau Beratan yang keren punya.

Ulun Danu
Ulun Danu

Setelah dari masjid, kami ke Ulun Danu (artinya di tengah danau). Info lengkap tentang tempat wisata ini bisa dibaca lebih lengkap di brosur-brosur yang disediakan secara gratis. Dan salah satu spot keren buat fotografi adalah Pura Lingga Petak yang terletak di tengah danau. Pura ini adalah tempat suci dan tidak boleh dimasuki sembarang orang. Hanya untuk ibadah. Buat info, di Bali memang terkenal dengan begitu banyak pura (di setiap desa pasti ada). Lalu ada yang dibuka untuk umum dan ada yang memang hanya untuk tempat ibadah umat Hindu.

Tanah Lot
Tanah Lot

Setelah mengelilingi kompleks Ulun Danu yang luas dan saat itu gerimis turun sesekali, kamu pun menuju Tanah Lot. Nah ini baru masuk di jadwal resmi jalan-jalan kami. Perjalanan membutuhkan waktu 1,5 jam. Jadi kami pun bisa tidur sejenak di dalam Avanza yang dikendarai oleh Bli Awan.
Kami tiba sekitar pukul 4 sore di Tanah Lot. Di sini terletak Pura Tanah Lot yang terletak di atas karang. Di sini juga ada sebuah resor milik Bakrie yang pastinya menyajikan pemandangan keren dari atas sana.

Nimas membawa kami menuju area pura yang saat ini padat pengunjung (walaupun gue sebenarnya sengaja memilih waktu di luar high season). Susah untuk mengambil gambar di mana tidak memotret orang lain. Tapi ya mau bagaimana lagi, this Bali and everyone loves it.

Di sini orang awam (selain umat Hindu) bisa melukat atau semacam ritual pembersihan diri sebelum beribadah. Di bawah pura terdapat tirta atau mata air yang disucikan. Dengan air itulah kita meraup air, berkumur, lalu menelan airnya. Kemudian membasuh wajah. Setelah itu, kepala diperciki air oleh seorang pendeta (apa ya sebutannya?), dahi ditempeli beras, dan telinga (kata Nimas sebelah kanan) diselipkan kembang Jepang. Untuk melukat ini, biasanya membayar 5.000. tentu saja untuk kalau mau ibadah beneran ya nggak bayar. Gue mencoba ini dan ketika mengantre gue senyum-senyum karena ada yang berwudhu di sini. Gue nggak tahu apa yang ada di pikiran si tokoh agama yang melihat hal itu. Dan gue yakin yang melakukan hal itu pasti turis yang nggak sama guide orang setempat.

Warung Makan Mina
Warung Makan Mina

Setelah hari gelap, kami kemudian balik ke Denpasar untuk makan malam. Kami mengisi perut yang sudah kelaparan di Warung Makan Mina, yang terletak di tengah sawah dan menyediakan menu seafood segar (karena Bali terletak di dekat laut, wajar kalau seafood begitu mudah dijumpai). Warung ini menghadirkan suasana Bali yang khas. Kami duduk lesehan. Di atas kami ada semacam rumah kecil yang kata Bli Awan merupakan tempat penyimpanan beras yang sengaja disembunyikan dari Belanda.
So, itu hari pertama kami di Bali. Waktunya beristirahat.

Hari kedua
Hari ini judulnya Tur Ubud. Pernah denger Ubud Writers and Literary Awards? Nah di sini tempatnya. Ini adalah jantung seninya Pulau Bali dan menurut gue, ini adalah tempat tinggal impian gue sekian tahun ke depan. Spot yang akan kami kunjungi adalah Tirta Empul, Monkey Forest, Kintamani, dan Tegallalang.
Kami mulai jalan jam 9, setelah sarapan dan Nimas beribadah. Soal religi, orang Bali boleh dikatakan taat meski itu nggak sampai taraf fanatik. Sewajarnya. Kami menuju Ubud. Saat itu, gue nggak ada bayangan apa-apa soal daerah itu. Secara gue emang nggak niat browsing sebelum pergi ke Bali. Gue tahu sambil jalan aja toh Bli Awan ini udah kayak ensiklopedi Bali berjalan. Nanya apa aja pasti dia tahu.

Perjalanan ke Ubud butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan. Karena berangkat pagi, ya harus rela kena macet orang-orang yang beraktivitas ke kantor. Ubud adalah representasi Bali asli sementara Kuta itu untuk moderennya. Bali terkenal dari Ubud berkat lukisan Antonio Blanco. Ketika memasuki Ubud, kita bisa melihat toko-toko yang menjual barang-barang seni, mulai dari ukuran (batu, kayu, tulang). Lalu ada lukisan, alat-alat ibadah (sajen, canang, dll) hingga ke kafe-kafe berkonsep art cafe yang didominasi orang-orang berkulit putih kemerah-merahan, bertubuh jangkung, berambut pirang, berbahasa macem-macem, tatoan, bercelana pendek, pake T-Shirt, dll. Kafe-kafe ini tutup pada pukul sepuluh malam dan mungkin orang-orang asing ini akan pindah ke Legian kalau mau ikutan dunia malamnya.

Tirta Empul
Tirta Empul

Tempat tujuan pertama kami adalah Tirta Empul. Di sini ada 11 mata air suci, pura, dan Istana Tapak Siring. Kami masuk ke lokasi mata air. Air di sini sangat sejuk dan jernih. Sumber mata airnya terletak di sebelah pura yang kemudian dialirkan ke sebelas mata air.

Kami kemudian menuju area pura di mana kami harus memakai selendang kuning dan memakai selendang (jika memakai celana pendek). Turis tidak diizinkan masuk pura dan gue hanya bisa mengambil gambar di luar pura.

Tangga ke Istana Tapak Siring
Tangga ke Istana Tapak Siring

Setelah itu kami juga mengambil gambar di Istana Tapak Siring di mana tempat ini hanya boleh dimasuki oleh tamu-tamu negara. Istana ini sangat tinggi dan keren. Gue berharap suatu saat bisa masuk ke sana entah gimana caranya. Tanahnya memang sangat miring dan berlapis rumput yang terpotong rapi. Katanya setiap hari selalu dibersihkan. Gue nggak bisa membayangkan menyapu dedaunan yang jatuh di atas tanah dengan kemiringan sekitar 45 derajat seperti itu, dan gue melihat seorang tukang sapu bisa melakukannya tanpa alas kaki khusus. Kalau gue sih lebih tergoda main prosotan dari atas sampai bawah hahaha!

Setelah puas melihat Tirta Empul, kami menuju Kintamani. Pernah dengar Danau Batur? Di sana letaknya. Kintamani ini masih menyajikan suasana alam yang eksotik. Jeruk Kintamani sangat terkenal dengan bentuknya yang kecil dan warnanya yang oranye. Di sini juga ada Jeruk Bali yang besar-besar itu. Perjalanan ke sini cukup menanjak dan berbelok-belok meskipun bukan tikungan tajam.

Setelah makan siang, kami menuju Monkey Forest atau Hutan Monyet. Begitu memasuki area ini, kami disambut monyet-monyet berekor panjang yang jinak. Tapi sejinak-jinaknya monyet, mereka nggak sejinak kucing rumah. Mereka akan datang kalau kita membawa pisang yang bisa dibeli sebelum memasuki area ini. Mereka akan datang dan minta dengan sopan lalu makan dengan rakusnya. Mereka bukan tipe monyet yang suka menakut-nakuti atau merampas barang bawaan turis. Kata Bli Awan, monyet-monyet ini disebut juga Holy Monkeys. Di komunitas mereka juga ada “monyet yang dihormati”. Kalau ada yang berantem, si tetua inilah yang datang menengahi. Dan selain itu, tidak pernah ditemukan jasad monyet di sini. Konon katanya, pernah ada yang melihat jasad monyet ditandu ama temen-temennya, nah lho, bergidik nggak tuh dengernya.

Jumlah monyet ini sangat banyak, mulai dari yang anak-anak dan masih gelendotan manja ama induknya, trus ada yang remaja dan nyari perhatian pengunjung dengan maenan es batu atau bermain di kolam sambil atraksi terjun bebas, dan ada yang tuaaaaa banget dan geraknya udah nggak lincah. Kunci saat berinteraksi dengan monyet-monyet ini adalah jangan terlihat takut, takutnya cukup dalam hati aja. Dan jangan berlari karena justru bakal dikejar.

Di area lain kami melihat bekas tempat ngaben atau pembakaran mayat. Menurut Bli Awan, ngaben itu biayanya sangat mahal, mencapai 20 juta rupiah. Buat yang kurang mampu, bisa menunggu pelaksanaan ngaben massal.

Puri Saren

Puri Saren
Puri Saren

Setelah puas ngeliat monyet, kami menuju Puri Saren atau tempat tinggal keluarga Raja Bali, yang salah satu putranya menikahi artis Happy Salma. Letak istana ini tidak jauh dari Pasar Ubud yang rame dan parkirannya penuh.Pasar Ubud

Tegallalang
Tegallalang

Puri Saren sendiri dibuka hanya sampai gerbang kedua. Maklum, namanya juga rumah pribadi. Eksterior di luar Puri Saren ini pastilah sangat khas etnik Bali dengan dinding berukiran batu dan patung-patungnya.
Setelah sejenak melihat-lihat bagian luar kediaman Raja Bali (di Bali sekarang sudah tidak dipimpin raja, tapi keluarga raja tetap dihormati), kami menuju Tegallalang. Ini adalah persawahan khas bali yang dikenal dengan sistem subak atau terasering. Sayangnya baru saja musim panen sehingga gue tidak melihat lanskap hijau yang sempurna. Tapi nggak masalah, tetep cantik di mata gue. Dari tempat kami berdiri, juga terdapat kafe-kafe yang dipenuhi para turis yang menikmati pemandangan sekaligus ngadem. Ya di sini memang sangat panas.

Pantai Kuta
Pantai Kuta

Kuta kemudian menjadi tujuan kami selanjutnya. Rute ini sebenarnya tidak ada di jadwal kami. Dan makasih banyak buat Nimas yang menambahkan ke dalam agenda sehingga gue yang dicecoki oleh pemandangan alam Bali, harus menyesuaikan diri dengan Kuta yang sangat modern. Wow, beda banget, udah kayak di Florida dengan toko-toko branded yang di Jogja nggak pernah gue lihat.

Masuk ke Pantai Kuta gratis. Kami tiba di sore hari dan gelisah karena belum shalat. Gue pun bertanya sama Nimas yang juga lupa buat mencarikan masjid. Untung saja ada mushala di Beachwalk, salah satu mal besar di seberang pantai. Karena Nimas baru aja massage, kami bertiga pun mencari lokasi mushala yang ternyata nggak susah letaknya. Beachwalk ini memang mal yang keren banget, konsepnya internasional, jadi jangan mimpi bisa ada Matahari atau Ramayana di sini. Adanya Quicksilver dan kawan-kawannya.

Salah satu tenant di Beachwalk
Salah satu tenant di Beachwalk

Setelah shalat, kami kembali ke pantai dan menunggu momen matahari tenggelam. Dan sepertinya nggak semua orang di pantai ini yang penasaran dengan sunset. Mereka malah asyik surfing atau ngobrol sama teman-temannya atau pacaran. Gue karena sudah sering kali ke pantai, merasa pantai ini biasa aja. Ya karena ramenya itu maka menjadi tidak biasa. Dan orang-orang yang leluasa berbikini tentu saja.

Setelah dari pantai, kami masuk rombongan ke Beachwalk, ke lantai dua dan melihat Pantai Kuta dari kejauhan plus foto-foto. Sayangnya cahaya sangat kurang dan berfoto jadi nggak begitu sempurna hasilnya (secara gue sebenernya nggak gitu suka difoto dengan blitz kamera). Oh ya di mal ini juga ada performing traditional dance, di lantai 3, silakan cek infonya di beachwalkbali.com, twitter: @beachwalk_bali, atau facebook: www.facebook.com/beachwalkbali. pertunjukan dimulai tiap hari pukul 18.30-19.30 WITA. Kami sempat menonton 3 tarian, yaitu Punpanjali (tari selamat datang), Topeng Monyer (tari hiburan dan bernuansa komedi), dan Merak Angelo. Ya gue rasa, inilah yang membuat budaya Bali tetap terjaga. Pertunjukan tari begitu gampang ditemui dan gratis. Kelompok tari ini pun menarik perhatian pengunjung dengan membunyikan alat musik mereka sembari menuju lantai 3. Ada juga yang membagi-bagikan leaflet pertunjukan.

Kami makan malam di Krisna Wisata Kuliner, tempat makan yang terdiri dari beberapa restoran lokal besar. Di sini gue mencicipi Nasi Ayam Sanur, sajian ayam yang pedas dan disajikan dengan sayur pare, kacang, sambel matah, dan kangkung kalau nggak salah. Di Bali terkenal dengan sambel matah atau mentah, di mana ada irisan bawang dengan minyak goreng dan kacang. Tingkat kepedesannya masih kalah sama sambal bawang atau sambal korek di Jogja, tapi tambahan kacang tanahnya memang menjadi khas yang tidak ada di tempat lain.

Melihat sisi lain Bali yang modern belum lengkap kalau belum ke Legian. Nah ini nih tempat perkumpulan kafe-kafe besar dan ingar-bingar. Sebelum menyusuri Jalan Legian, kami ke Ground Zero, monumen peringatan Bom Bali 1. Tentu orang ingat dengan peristiwa peledakan bom di Paddy’s dan Sari Club, dua kafe yang dikhususkan untuk orang-orang asing. Paddy’s sekarang dibangun kembali tidak jauh dari lokasi pertama dan Sari Club tidak dibangun kembali.

Kami kemudian diajak menyusuri dunia gemerlapnya Bali. Suara jedag-jedug pun membahana dan ke jalan karena memang ada beberapa kafe yang terbuka sehingga kita bisa melihat aktivitas di dalam. Diskotek-diskotek yang mulai rame pengunjung. Kami tidak minta diajak masuk karena tidak suka tempat-tempat seperti itu. Nongkrong di sebuah Minimart dekat Pantai Kuta dan ngobrol malah terasa lebih asyik.

Hari Ketiga
Judulnya Tur Uluwatu. Kami memulainya dengan belanja oleh-oleh di Krisna. Sebuah pusat oleh-oleh yang lengkap menyediakan souvenir khas bali. Gue membeli sejumlah gantungan kunci dan kaus buat teman-teman kantor gue. Dan ini satu-satunya pengeluaran gue selama di Bali. Gue pribadi tidak punya barang yang bakal gue beli secara khusus, setidaknya ada sesuatu yang bisa gue kasih ke teman-teman gue setelah puas membuat mereka cemburu (hahahaha!)

Setelah puas membawa tas belanja berisi oleh-oleh, kami makan siang dengan menu ayam kedewatan Bu Mangku. Kami menempati lesehan yang berbentuk seperti pondok-pondok di tepi sawah. Menunya enak dan gue terus-terang ketika di Bali, lebih cepat lapar karena banyak berjalan kaki. Dan menurut gue, belanja ketika lapar itu nggak okeyy.
Setelah kenyang kami melewati Legian lagi, Di sini tidak ubahnya Malioboro, tidak seperti di malam hari yang begitu “berdetak kencang” Hanya toko-toko makanan dan butik yang buka. Orang-orang bule mungkin juga ke pantai atau ke Ubud dan malam harinya baru ke sini.

Kami lalu berhenti sejenak di sebuah masjid dekat Ngurah Rai. Masjid ini unik karena terletak tepat di sebelah gereja. Jadi, jangan heran melihat ini dan bahkan ada sebuah pusat peribadatan di mana 5 agama bertemu di satu titik. Simbolisasi toleransi yang sangat matang menurut gue. So jangan mengira mudah untuk mengadu antara satu agama dengan agama lainnya di Bali ini.

Nusa Dua
Nusa Dua

Nusa Dua menjadi lokasi kunjungan berikutnya. Di sini ada sebuah resor yang dibangun dan biasanya dihuni orang-orang asing. Nusa dua merupakan dua pantai yang dipisahkan oleh sebuah karang besar. Ombak di sini tidak terlalu tinggi dan orang-orang bisa berenang, snorkeling, ataupun berjemur. Ada lagi bagian pantai lain yang juga menampilkan pemandangan tak kalah indah, tapi ini cukup privat. Jika menyusuri jalan setapak, kita akan sampai di area Water Blow, di mana kita bisa melihat tempiasan air laut yang memancar tinggi dari dalam batu karang. Gue hanya melihat momen ini sekali dan pancaran lainnya tidak begitu tinggi. Di kejauhan kita pun bisa melihat samudra biru yang cantik sekali.

Dreamland
Dreamland

Bli Awan kemudian membawa kami ke Pantai Dreamland. Sebuah pantai yang terletak di area Pecatu Indah resort milik Tommy Soeharto. Putra cendana ini memang bisa dibilang punya aset begitu banyak di Pulau Bali. Ketika di Tabanan (hari pertama) di sana juga ada bekas hotel milik Tommy yang kemudian ditutup dan dibiarkan kosong.

Jalan menuju Dreamland yang terletak di bagian selatan Bali ini konon katanya dibuat dengan meledakkan tebing. Dan perjalanan menuju pantai dari tugu Pecatu Indah Resort tidaklah dekat. Kebayang nggak proses ketika meledakkan tebing-tebing itu? Pasti getarannya luar biasa. Di area resor ini, Tommy membangun villa dan kondominium, tentunya ada private kafe juga. Dulu masih tertutup untuk umum dan hanya keluarga Cendana yang boleh masuk. Sebelum sampai ke pantai dari parkiran, kami diantar dengan bus khusus semacam angkot warna kuning. Hanya 5 menit perjalanan. Setelah itu kami harus berjalan turun menuju pantai. Karena ada pembangunan, mobil tidak bisa langsung masuk. Kami juga harus melewati pusat souvenir baru kemudian menginjakkan kaki di pasir pantai. Di sana cukup ramai dan pemandangannya memang menggoda. Di atas tebing itulah berdiri kafe milik Tommy.

Pertunjukan tari
Pertunjukan tari

Kami tidak lama-lama di Dreamland karena harus mengejar pertunjukan tari di Garuda Wisnu Kencana. Ada pertunjukan Tari Kecak kata Nimas. Antara Dreamland dan GWK memang tidak jauh jaraknya. Tiket masuknya 40.000. Pertunjukan berdurasi 60 menit. Menampilkan Tari Kecak dengan lakon gue nggak tahu judul sebenernya apa, tapi tentang Rama menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Nimas sesekali menceritakan alur cerita karena menggunakan bahasa Bali. Dan gue pun paham keseluruhannya. Pertunjukan berlokasi di gedung Amphitheater.

Garuda Wisnu Kencana
Garuda Wisnu Kencana

Setelah pertunjukan, kami menuju lokasi pembangunan patung raksasa Garuda Wisnu Kencana yang pembangunannya masih belum juga rampung. Patung ini katanya ingin mengalahkan Liberty di New York, tapi masih terkendala biaya. Masih lama sepertinya gue baru bisa melihat patung ini selesai seutuhnya.

Bali; Perjalanan dan Tempat-Tempat Menarik bagi Wisatawan
Makan Malam di Jimbaran

Next destination kami adalah Jimbaran, untuk makan malam. Jimbaran merupakan deretan tempat makan berkonsep outdoor. Meja dan kursi diletakkan di Pantai Kuta. Kita bisa menikmati candle light dinner sambil ditemani deburan ombak dan grup pengamen yang bisa membawakan banyak lagu asing request para tamu. Ada pula pertunjukan tari-tarian yang bergantian dari satu warung makan dengan warung makan lainnya. So romantic, meski gue ke sana nggak sama pacar.

Hari keempat
Ini hari terakhir ke Bali. Sudah nggak ada agenda jalan-jalan, tapi kami sempat ke Monumen Bajra Genta di pusat kota Denpasar. Ini adalah lokasi yang selain mengabadikan momen perjuangan rakyat Bali, juga menjadi area jogging dan terapi penderita diabetes (ada jalan bebatuan yang katanya bagus untuk terapi penderita penyakit tersebut). Ada pula track khusus untuk yang tunanetra.

Dan akhirnya, kami pun menuju Ngurah Rai. Berat rasanya meninggalkan Bali, tapi apa boleh buat, namanya juga liburan gratisan. So, this is end of my story. Memang masih banyak spot yang belum sempat kami datangi, tapi rasaya nggak bakal sulit deh kalau someday mau datang lagi ke sini.

Jogja, 5 Mei 2013, 14.11 WIB

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response