Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 Buatmu Makin Cinta Indonesia

in Olahraga by
Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 Buatmu Makin Cinta Indonesia
Bank Jateng Borobudur Marathon 2017.

Mengikuti sebuah lomba lari sebagai penyemarak sebuah event beda sekali suasananya dengan lomba lari sesungguhnya. Orang-orang datang untuk berlomba lari, memenangkan hadiah uang puluhan juta, mencatatkan waktu terbaik, lalu pulang dengan perasaan bangga pada diri sendiri. Memang tidak semua peserta sebuah ajang lari berskala internasional adalah pelari tulen, terlebih Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 (BJBM 2017) punya rute yang terkenal mengandalkan pesona alam yang hijau dari pepohonan dan persawahan, udara sejuknya di pagi hari bahkan kadang berkabut, dan tentu saja Candi Borobudur).

Saya ikut tahun ini karena diajak teman. Harga tiketnya ternyata murah, hanya 200.000 untuk kelas 10K terbuka. Hanya kelas inilah yang sanggup saya ikuti, percuma memaksa diri kalau tidak punya bekal cukup. Marathon sesungguhnya adalah 42 kilometer koma sekian. Itulah jarak ditempuh Pheippides yang berlari dari Marathon ke Athena untuk mengabarkan kemenangan perang melawan Persia. Di bawah itu, ada kategori half marathon yaitu jarak 21 kilometer, dan terakhir 10 kilometer. Untuk lomba lari hore-hore, biasanya ada yang kelas 5 kilometer. Tampaknya, penyelenggara Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 lebih ingin fokus pada kuantitas sarana dan prasarana hingga menghilangkan kelas di bawah 10 K. Terbukti, tahun lalu event serupa bisa diikuti 19 ribu orang, tahun ini hanya 8 ribu saja.

Sebuah ajang lomba lari berskala internasional tentu saja akan dianggap bergengsi tidak hanya karena sematan nama belaka, tapi hadirnya pelari kelas internasional. Konon katanya, ada atlet lari dari 19 negara yang mengikuti Bank Jateng Borobudur Marathon 2017, tapi yang saya lihat hanya dari Kenya (yang mendominasi podium), Malaysia, Uganda, dan Amerika Serikat. Saya pikir akan banyak melihat orang-orang berambut pirang di sana, kan lumayan buat diajak foto. Sepertinya, setelah lari, mereka langsung pulang dan tidak menunggu pembagian doorprize seperti halnya saya. Ajang internasional juga segala fasilitasnya pun standar internasional. Belajar dari pengalaman tahun lalu memang membuat panitia tahun ini sangat rapi. Segalanya dipersiapkan dengan baik. Sedari saya mendaftarkan diri, hingga selesainya acara, tidak ada yang perlu saya komplain, selain pemenang untuk kategori OPEN yang semuanya berasal dari Kenya. Bahkan yang 10K pun ya dari Kenya.

Setelah mendaftarkan diri, saya juga mendapatkan penawaran untuk shuttle bus yang disediakan bagi para peserta dari Jogja maupun Magelang. Hanya 15.000. Pemberangkatan jam 02.00 dini hari. Saya sempat mencari alternatif dengan naik motor. Toh hanya 1 jam perjalanan. Tapi, setelah menimbang-nimbang, saya urung berkendara sendiri pagi-pagi buta dengan musim hujan seperti sekarang. Pilihan lainnya adalah menginap di homestay, tapi saya terlambat mencari tempat sehingga keburu dipesan orang. Sebenarnya, kalau tidak hanya bergantung para traveloka dan sejenisnya alias datang dan mencari sendiri, barangkali bisa dapat tempat. Yah tahun depan sajalah.

Dua hari sebelum penyelenggaraan Bank Jateng Borobudur Marathon 2017, saya bermotor ke Grand Artoz Hotel di Magelang untuk mengambil race pack. Yang paling penting dalam race pack adalah nomor bib alias nomor dada. Data-data saya tersimpan di sana dan chip yang tersematkan di nomor bib akan merekam keberadaan saya di check point. Jadi, tidak akan ada yang bisa berbuat curang dengan memotong jalur dan sebagainya.

Tempat pengambilan race pack adalah di Semanggi Ballroom, Artoz Hotel. Di sana juga ada agenda bincang-bincang dengan pihak penyelenggara maupun atlet yang hadir. Di ballroom sudah tersedia banyak sekali counter untuk mencegah terjadinya antrean panjang. Sebelum masuk, peserta harus memperlihatkan bukti keikutsertaan pada panitia. Mereka akan mengarahkan pada counter tertentu. Counter 10K memang paling banyak karena diikuti 6 ribu peserta lebih. Sore hari ketika sampai di sana, ternyata counternya sepi-sepi aja. Dan pelayanannya juga cekatan. Tidak perlu lama menunggu, race pack berisi nomor dada, jersey oranye yang bahannya lembut, peta rute, dan produk sponsor pun tersedia di meja counter. Perjalanan ditemani hujan deras pun harus saya hadapi pulang dan pergi.

Mengingat saya harus berangkat jam 2 pagi mengikuti shuttle bus, Sabtu paginya, saya mulai mencicil tidur. Saya tahu tetap saya berbeda dengan satu kali tidur malam yang panjang dan sempurna. Tapi, tidak ada pilihan lain. Malamnya saya tidur jam 8 dan bangun pukul 12. Saya adalah tipe orang yang ketika bangun pagi, punya banyak urusan di toilet ditambah lagi ini akan ada acara. Mengonsumsi obat yang menahan rasa untuk ke toilet ternyata tidak banyak membantu jika itu sudah berkaitan dengan psikis. Toh tetap saja saya beberapa kali ke toilet. Padahal saya sudah menghindari makanan pedas.

Bank Jateng Borobudur Marathon 2017
Shuttle bus Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 siap antar jemput Jogja-Magelang

Pukul 01.30 masih ada pengendara Go-Jek yang beroperasi. Luar biasa memang kalau urusan mencari makan. Saya pun turun di depan Ambarukmo Plaza, beberapa pelari sudah duduk di sana menunggu datangnya bus. Pukul 02.15, kami diminta ke halaman parkir. Di sana sudah menunggu 10 bus Ramayana pariwisata AC. Wow, tidak tanggung-tanggung. Padahal bus ya tidak terisi penuh, tapi panitia memang punya hitungan sendiri.

Kami tiba pukul sekitar pukul 03.10. Saya sempat tertidur karena busnya nyaman. Dari kami sudah melihat lampu-lampu di panggung dan MC berbicara. Jadwalnya memang pukul 03.30 area start dibuka untuk para peserta. Saya pikir karena ini Indonesia, akan santai. Saya acungkan jempol untuk ketepatan waktu yang betul-betul dijaga.

Mushala sudah diserbu para pelari yang akan shalat Subuh. Toilet lebih-lebih. Setelah shalat, saya pun masuk ke area tiket. Di sana sudah berjaga para polisi dan petugas keamanan lain. Peserta harus melepas jaket, mengenakan nomor dada dan melewati pintu sensor. Bagi para pengantar, harus membeli tiket terlebih dahulu. Pintu masuk ke area start untuk full marathon dipisahkan dengan pintu masuk half marathon dan 10K. Masih gelap gulita, para peserta yang datang mulai berjibun. Terus berdatangan. Salah satu hal yang sempat dipuji dari seorang peserta marathon asal Amerika Serikat adalah ketersediaan toilet portable yang luar biasa banyaknya. Kata dia, di marathon sebelumnya, peserta harus antre. Ada juga toilet permanen yang gratisan.

Di samping deretan toilet portable terdapat deretan counter deposit bag. Nah, panitia juga sudah memperhitungkan bahwa tidak mungkin semua pelari datang dengan keadaan tidak membawa barang lain selain yang akan dipakai berlari. Contohnya saya. Saya karena memikirkan bahwa setelah lari akan basah oleh keringat dan pulang baru siang hari, maka saya membawa baju ganti. Tapi sial saya lupa bawa pakaian dalam. Untungnya jaket saya bisa menyamarkan. Saya juga membawa bekal makanan untuk dimakan satu jam sebelum start. Pisang, kurma, dan biskuit bebas gula produk Tropicana Slim. Saya juga membungkus sepatu lari dalam plastik dan dari rumah mengenakan sandal gunung. Alhasil, saya membawa dua tas gendut-gendut. Counter penitipan barang pun sama banyaknya dengan counter pengambilan race pack. Berapa belas ribu panitia sih yang terlibat di ajang ini sebenarnya? Saya menitipkan barang di counter E. Nomor bib saya pun ditempeli stiker seperti halnya kantong merah besar yang berisi barang-barang saya.

Setelah tangan terbebas dari barang-barang bawaan, saya pun mulai pemanasan. Ikut-kutan yang lain. Eh nggak ding, memang merasa perlu melemaskan otot-otot demi menghindari kram dan sebagainya.

Bank Jateng Borobudur Marathon 2017
Para peserta 10K Bank Jateng Borobudur Marathon 2017

Tepat pukul 05.00, setelah sambutan dan lagu Indonesia Raya dari Andien Aisyah, sebanyak 484 (yang terdaftar ada 932) pelari full marathon pun dilepas. Saya tidak sempat menyaksikan, karena urusan saya dengan toilet belum selesai, sengaja nggak mau jauh-jauh dari toilet. Setengah jam kemudian, terdengarlah tanda pelepasan kedua untuk 1.115 (yang terdaftar versi harian Kompas 1.500) peserta. Dan tepat pukul 06.00 dilepaslah saya bersama 3689 (yang terdaftar 6.322) peserta. Tidak terbayangkan oleh saya jika semua peserta 10K hadir, betapa panjang dan lamanya hingga melewati garis start. Kemarin saya, saya harus mengantre sampai 10 menit karena posisi di belakang. Di belakang saya masih banyak lagi. Jadi, sangat wajar jika karena banyaknya peserta 10K, di kilometer sekian, kami disalip peserta entah dia half marathon atau full marathon yang dikawal seorang marshall bersepeda.

Rute yang kami lewati begitu meninggalkan kawasan dalam Candi Borobudur, ditutup total oleh penyelenggara. Kami tidak perlu khawatir ada kendaraan yang datang dari depan atau belakang. Ribuan personel polisi dan masyarakat menjaga dengan sangat baik. Saya jadi terharu dan pengin nangis deh. Saya juga sempat melewati Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga mengikuti kategori 10K. Masyarakat senang sekali melihat pemimpin mereka berpartisipasi. Bapak Gubernur memang rajin terlibat dalam event olahraga, seperti bersepeda.

Kemarin itu saya seperti tidak sedang berlari sejauh 10 kilometer. Pertama, udaranya mendung lalu disusul gerimis dan puncaknya hujan meski acara tidak sampai dibatalkan. Kedua, saya belum merasa begitu haus tapi water station sudah ada di depan mata, artinya sudah 2,5 kilometer (tersedia 3 water station untuk 10K) terlewati.

Suntikan semangat dari masyarakat, baik itu hanya menonton, atau memang ditugaskan memberikan semangat, bahkan menghadirkan pertunjukan tari, tidak mampu tergantikan dengan apa pun juga. Ini sebuah kekompakan yang luar biasa. Bangun dari jam berapa mereka, dan ini hari Minggu lho. Saya nggak tahu apakah mereka dibayar atau tidak. Itu semua membuat para peserta tidak ragu untuk berhenti dan berfoto dengan mereka, persetan dengan pace. Saya sebenarnya juga ingin berhenti, tapi merasa sayang dengan pace yang pasti akan kacau. Saya cukup mengacungkan jempol atau ber-hi five dengan mereka yang mengangkat tangan seolah kami ini kawan akrab mereka. Ada yang juga mengangkat tangan sambil bilang, “Sorry, ladies only!” dan pelari yang laki-laki cuma mesem-mesem.

Setelah melewati garis finish, kami disediakan air mineral dan isotonik barulah dikalungkan medali. Catatan waktu saya agak berbeda dengan pencatatan versi Strava, tapi buat saya tidak masalah, toh sama-sama nggak dapat podium dan uang tunai puluhan juta. Setidaknya pace saya lebih baik dari event sebelumnya dan itu sudah cukup. Banyak pelari yang setelah finish langsung menyerbu booth Salonpas atau minta di-spray lalu ada yang mengeluhkan betapa panasnya spray itu. Saya sih memilih berjalan kaki sejenak ketimbang langsung minta pijat. Alhamdulillah, kaki saya baik-baik saja meskipun  beberapa hari pasti akan sakit terlebih jika tidak dipakai latihan.

Saya sempat berdiri di pagar dekat finish dan melihat datangnya para atlet dengan langkah-langkah mereka yang tidak hanya panjang-panjang, tapi juga cepat. Maka apa herannya jika jarak 42 kilometer bisa ditaklukkan hanya dengan 2 jam 26 menit 20 detik? Saya sih bisa, tapi naik sepeda.

Oh ya, kepulangan ke Jogja, saya kembali naik shuttle bus, sekitar pukul 12.30. Hanya saja kali ini kami tidak perlu menunggu lama, bus pun segera berangkat. Hanya ada beberapa penumpang yang saya yakin pulang dengan keadaan basah kuyup sementara AC-nya sangat dingin. Kami tiba dua jam kemudian dikarenakan jalanan yang sangat macet karena hujan turun dengan deras sepanjang perjalanan.

Jogja, 20 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*