Battle of the Sexes (2017); Billie Jean King dan Kesetaraan di Dunia Tenis

in Film/Film LGBT by
Battle of the Sexes (2017); Billie Jean King dan Kesetaraan di Dunia Tenis
Battle of the Sexes (2017). Sumber gambar: IMDB.

Battle of the Sexes mendapatkan 2 nominasi Golden Globes 2018 untuk kategori Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Musical or Comedy dan Best Performance by an Actress in a Motion Picture – Musical or Comedy. Satu untuk Steve Carell (Freeheld), satunya lagi Emma Stone (La La Land).

Diangkat dari kisah nyata petenis kenamaan Amerika Serikat Billie Jean King yang tidak hanya mampu mengukuhkan namanya sebagai petenis terbaik, tetapi juga memperjuangkan kesetaraan hak kaum LGBT. Dia mengakui dirinya sebagai lesbian di tahun 1981.

Battle of the Sexes garapan Jonathan Dayton dan Valerie Faris secara utuh menyoroti petenis berkacamata ini, tidak hanya dengan sejarah pertandingan tenis yang berhadiah 100.000 dolar dengan menaklukkan Bobby Riggs, tapi juga bagaimana dia berjuang dengan orientasi seksual yang tidak semudah sekarang untuk dibuka ke depan publik di saat karier sedang bagus-bagusnya, terlebih dirinya masih terikat hubungan pernikahan.

Saya harus bersabar cukup lama hingga bisa menonton film yang dirilis di Amerika Serikat pada 29 September 2017 ini. Pertama kali diputar pada Telluride Film Festival 2017 awal bulan September dan akhirnya nyangkut di nominasi Golden Globes dan mudah-mudahan bersambung ke Academy Awards 2018.

Battle of the Sexes adalah sebuah pertandingan tenis unik yang mempertemukan Bobby Riggs (Steve Carell) petenis 55 tahun dengan petenis muda berprestasi berusia 29 tahun Billie Jean King (Emma Stone). Dipicu dari sikap protes Billie Jean yang menuntut nominal yang sama antara petenis perempuan dan petenis laki-laki. Selisihnya memang berkali-kali lipat sehingga sikap itu muncul ke permukaan. Pihak penyelenggara tentu saja berdalih mengapa hadiah untuk petenis pria lebih tinggi karena mereka menanggung hidup keluarganya. Billie Jean merasa alasan itu tidak masuk akal. Padahal, dalam hal penjualan tiket, sama banyaknya. Maka seorang manajer tenis berdarah Yahudi Gladys Heldman bersama Billie Jean, Rosie Casals, Judy Dalton, Julie Heldman, Kerry Melville, Peaches Bartkowicz, Kristy Pigeon, Nancy Richey, dan Valerie Ziegenfuss membentuk organisasi untuk turnamen khusus perempuan yang kemudian Billie Jean mendirikan Women’s Tennis Association (WTA). Keputusan itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan bagi para penyelenggara tenis kaum pria yang masih beranggapan tenis adalah dunianya pria. Petenis perempuan dianggap memiliki kemampuan jauh di bawah kaum lelaki dalam hal kekuatan fisik dan mental.

Maka Gladys dan kelompoknya jalan dengan Virginia Slims yang identik dengan 1 dolar. Saya tidak tahu apakah keputusan Taylor Swift menuntut pelaku pelecehan terhadapnya dengan 1 dolar terinspirasi dari hal ini.

Memasang Emma Stone sebagai seorang petenis memang bukan sebuah pilihan terbaik. Dia bukan seorang pemain tenis, itu alasan saya berkata demikian. Di film ini, badan dia memang terlihat sedikit berisi sebagai hasil latihan yang dilakukannya sebelum syuting, tapi sebagai seorang penyuka pertandingan tenis kelas dunia, kemampuan “akting” tenis dia tidak ada apa-apanya, terlebih Billie Jean adalah seorang petenis yang agresif hingga 39 kali menang di turnamen bergengsi Grand Slam untuk kategori single, ganda, dan ganda campuran. Bisa dibayangkan kekuatan perempuan ini, kan? Ketika pertandingan di film ini, kita tidak akan melihat servis yang powerful, suara bola yang terpukul keras oleh raket, smash yang mematikan, dan sebagainya.

Tapi Battle of the Sexes tidak semata-mata tentang pertandingan tenis, di situlah akting Emma Stone terbilang memukau. Bagaimana dia dengan kacamata bulatnya terlihat tenang menghadapi Bobby Riggs tua yang sesumbar bisa mengalahkan petenis perempuan nomor 1 dunia, bagaimana dia ketika jatuh cinta pada seorang penata rambut perempuan di saat dirinya masih berstatus istri sah Larry King, dan menyembunyikan perasaannya karena jika dia terbuka, kariernya terancam hancur lebur saat itu juga. Semua itu dihadirkan Emma dengan baik dan mendapatkan pujian dari Billie Jean. Oh ya, dan saya suka cara jalannya yang terlihat maskulin dalam balutan baju training. Adegan ranjangnya dengan Marilyn Barnett tidak dibuat berlebihan, setidaknya penonton paham sebab lagi-lagi, fokusnya bukan hanya pada hubungan yang di kenyataannya pun berakhir dengan buruk.

Nah, sementara Steve Carell terlihat kocak dengan kelakuannya yang mampu memenangkan pertandingan dengan cara apa pun, memakai panci, membawa anjing juga domba, dengan kostum, dan lainnya. Wajarlah jika dia menjadi sesumbar dan memandang sebelah mata Billie Jean yang pada saat itu baru saja kehilangan peringkat nomor 1 dunia. Steve Carell, sebagaimana pula Emma, berusaha menyamakan dandanan mereka dengan tokoh aslinya. Steve cukup berhasil sementara Emma memang hanya mirip sedikit. Potongan rambut Emma pun dibuat jauh lebih bagus berkat bantuan sang penata rambut dan juga kekasih gelapnya yang diperankan oleh Andrea Riseborough.

Trailer Battle of the Sexes (2017):

Jogja, 24 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co