Batu Papal; Spot Sunrise Baru Dekat Candi Ijo Jogja

Batu Papal; Spot Sunrise Baru Dekat Candi Ijo Jogja
Batu Papal. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Suka dengan momen matahari terbit alias sunrise? Senang mengejar-ngejar sunrise yang terkadang mendung hingga momen romantis gagal dinikmati? Jogja adalah gudang dari seribu spot sunrise. Tidak hanya di pantai. Sekarang, banyak bermunculan tempat-tempat baru, sebut saja Spot Riyadi, Batu Papal, dan Punthuk Setumbu. Eh maaf, Punthuk Setumbu itu punya provinsi tetangga.

Secara tidak sengaja saya menemukan tempat wisata yang masih cukup baru ini. Setelah pulang dari Bukit Klangon, kerena saya tidak puas hanya datang ke satu spot wisata, maka saya pun mengarahkan Lamborghini (motor ding, udah lunas pajak lho) ke Jalan Raya Piyungan. Ada banyak tempat tujuan wisata, yang sayangnya saya udah pernah kunjungi. Candi Boko? Candi Ijo? Tebing Breksi? Spot Riyadi? Candi Abang? Candi Morse? Entah kenapa, tidak ada yang sempat saya tulis di blog ini. Masih ada Candi Barong. Tapi kan candi juga?

Saya berpikiran, mungkin ke Tebing Breksi saja lagi. Waktu ke sana, saya tidak melewati jalan utama, dan naik sepeda pula. Tapi, begitu mendekati pintu masuk, saya malas untuk memasuki tempat parkir. Oke masih ada pilihan Candi Ijo, siapa tahu saya berubah pikiran dan mau mampir. Hmm, tidak juga. Saya kalau lagi gaje-nya kumat emang gitu. Sabar ya, ini ujian.

Nah di plang petunjuk jalan, tertulis Batu Papal. Masih asing dengan namanya. Batu apakah itu? Jika ada Batu Papal, maka di manakah letak Batu Mamal? Mungkin saya akan menemukan jawabannya.

Jalanan ke Batu Papal sudah aspal mulus dan menanjak terus. Kapan-kapanlah saya coba naik sepeda ke sini. Tempatnya sepi, berhubung masih baru. Itu pikir saya. Mungkin adalah alasan lain sih. Apa coba? Tarif parkirnya mahal. 5.000. Gila lo, Ndro, parkir motor aja seharga parkir mobil. Si penarik tiket parkir juga pemilik warung makanan ringan. Harga jualan doski sih wajar-wajar aja.

Batu Papal adalah tebing yang posisinya hampir sama dengan Spot Riyadi. Pemandangannya pun sama. Kita bisa naik ke tempat lebih tinggi untuk melihat panorama yang… hampir sama sebenarnya. Ada gazebo-gazebo yang bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk, selain bangku-bangku berbahan batu. Sesekali kendaraan melintas, tapi sepertinya belum ada yang tertarik untuk mampir.

Fasilitas toilet dan mushala tersedia. Ada juga papan-papan kayu dengan tulisan-tulisan galau yang biasanya disenangi remaja kekinian untuk foto.

Oh ya, kalau kamu pun merasa kesal dengan tarif parkirnya yang mahal, lakukanlah apa yang saya lakukan. Ketika pulang, jangan memutar balik dengan melewati Candi Ijo dan Tebing Breksi. Tapi ambillah ke kiri. Ketika ada pertigaan ke arah Jogja, kamu lurus aja dan kamu akan merasakan ketersesatan yang menyenangkan. Menurut si pemilik warung, jalanan akan tembus ke Nglangeran. Lumayan jauh ya? Dan berhubung baterai hape saya menipis sehingga paket datanya saya matikan dulu, saya tidak yakin dengan jalanan yang saya lewati yang semakin lama hanya untuk satu mobil. Untungnya bensin masih cukup. Ketika menemukan pertigaan, saya ambil kanan dan saya tidak kunjung menemukan jalan utama. Bolak balik nyoba satu jalan dan lainnya. Akhirnya saya menyalakan Google Map dan mengingat sebisa mungkin jalan tembus yang harus saya temukan, belokan-belokan yang benar agar tidak berputar-putar di jalanan yang bertaburan daun jati kering. Rumah penduduk pun jarang.

Akhirnya ketemu, rupanya tembusannya ya tidak jauh dari pertigaan masuk dari Jalan Piyungan ke arah Tebing Breksi. Dan, benar juga, lupalah saya soal parkir 5.000 tadi.


Jogja, 27 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response