Beauty and the Beast (2014); Film Tentang Cinta yang Menghapuskan Kutukan

Beauty and the Beast (2014); Film Tentang Cinta yang Menghapuskan Kutukan
Beauty and the Beast (2014). Sumber gambar: IMDB

Beauty and the Beast sudah sangat banyak diadaptasi ke layar lebar juga animasi. Bahkan, setelah versi Prancis, di tahun 2017 akan rilis versi Inggris dengan bintang Emma Watson.

Mengapa begitu sering kisah Si Buruk Rupa yang mengharap cinta sejati dari Si Cantik diadaptasi? Tentu saja karena kisahnya adalah sesuatu yang bisa terjadi dalam kehidupan siapa pun di luar sana. Punya tampang pas-pasan namun mendapatkan pasangan yang sangat mengagumkan. Cinta itu bisa datang kapan saja bahkan dengan cara yang sederhana. Si Buruk Rupa adalah manusia. Di masa lalu, dia telah melakukan sebuah kesalahan hingga menanggung akibatnya. Penyesalan bukanlah penyelesaian. Karena itu sangat mudah. Maka kesalahan hanya bisa ditebus dengan cinta. Sesuatu yang mustahil bisa didapatkannya. Siapa sih yang mau dengan dia? Logikanya begitu.

Tapi, kalau tidak ada yang mau, tamat dong ceritanya. Maka, Belle, digambarkan memiliki karakter yang berbeda dari dua kakak perempuannya. Dia punya hati yang baik. Bersedia menggantikan ayahnya yang telah dianggap bersalah oleh Si Buruk Rupa karena memetik mawar. Harusnya, sang ayahlah yang terkurung dalam istana itu. Tapi, ceritanya pasti akan aneh ya jika itu terjadi.

Sumber gambar: hollywoodreporter.com

Belle merasa dirinyalah yang kali ini harus berkorban. Konon, ibunya meninggal setelah melahirkannya. Tidak akan dibiarkannya sang ayah berkorban pula untuknya. Dia kembali ke istana Si Buruk Rupa yang dikelilingi hutan berlapis salju dan danau yang membeku. Dengan password yang diajarkan sang ayah, Belle datang dengan kudanya.

Istana Si Buruk Rupa tergolong canggih. Pintunya yang raksasa bisa terbuka sendiri. Lampu-lampu bisa menyala sendiri. Makanan terhidang tanpa ada satu pun pelayan yang menghidangkan. Di dalam kamar tidur Belle ada kolam yang berkhasiat untuk menyembuhkan. Lalu juga ada kaca one way seperti di ruang interogasi kepolisian. Oh ya jangan lupa, Belle ini bisa mengenakan gaun-gaun elegan tanpa dibantu siapa-siapa. Padahal tahu sendiri, pakaian zaman dahulu kan sistemnya serba pasang dari belakang. Dia pun bisa berjalan di atas salju tanpa sepatu khusus.

Si Buruk Rupa adalah seorang raja yang senang berburu kijang betina. Sang permaisuri sudah berkali-kali menegur agar jangan melakukan hal itu lagi. Sayangnya, dia tidak memberikan alasan kenapa. Itu akan terjawab belakangan. Yang pasti, kegemarannya membuat dewa murka hingga menjatuhkan kutukan. Tidak ada yang bisa menolong.

Perlahan-lahan, Belle pun tahu akan kutukan itu. Tapi dia tidak tahu, kalau dia adalah satu-satunya harapan Si Buruk Rupa untuk kembali menjadi manusia. Dia terkurung di sana. Di siang hari, dia bisa menjelajahi istana, tapi di malam hari dia makan malam dengan Si Buruk Rupa. Ada pula makhluk-makhluk yang senang mengikutinya. Kaki mereka empat, telinga mereka menjuntai sampai lantai. Mirip anjing, tapi akibat kutukan, bermutasi menjadi makhluk yang pemalu.

Salah satu kritik menyebutkan bahwa Beauty and the Beast sangat membosankan dan Lea Seydoux (Blue is the Warmest Color, Spectre, Mission Impossible, The Lobster) hanya membuang-buang waktu dengan baju-baju klasik yang menampakkan sebagian dadanya. Beberapa kritikus lain memuji kehebatan sang sutradara dalam menginterpretasikan dongeng karangan Jeanne-Marie Leprince de Beaumont. Meski tidak sampai diputar di Indonesia, Beauty and the Beast langsung menjadi box office. Sinematografisnya memang jempol dua. Teknik digitalnya juga halus dan menyegarkan mata. Gaun-gaun Lea Seydoux tidak diragukan betapa elok dengan warna-warna mencolok dan pas pula di tubuh rampingnya hingga memenangkan Cesar Awards untuk Best Production Design atau Meilleurs decors) di tahun 2015.

Saya cukup lama menantikan file Beauty and the Beast versi Prancis terbaru ini. Sangat susah mendapatkan film-film Lea Seydoux yang berbahasa Prancis, termasuk yang berkibar di Cannes: It’s Only the End of the World. Ada satu judul lagi yaitu Diary of a Chambermaid. Perannya di Saint Laurent tidak begitu penting dan menarik. Setelah punya anak, mungkin kemunculannya di layar lebar akan semakin jarang.

Trailer Beauty and The Beast:

 

Jogja, 18 Desember 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response