Belajar Menikmati Hidup dari Kura-Kura Hewan yang Tak Manja

Ketika memutuskan mudik dalam waktu cukup panjang, satu hal yang saya pikirkan adalah bagaimana dengan nasib dua kura-kura saya, si Joyie dan Maya, nantinya. Sebenarnya saya sudah menemukan tempat penitipan hewan yang tepercaya, tapi rasanya kok tetap kepikiran. Seandainya saya membawa hewan peliharaan ke dalam kabin pesawat diperbolehkan, pasti mereka akan saya bawa, meskipun dalam kotak yang jauh lebih kecil dari “sarang” mereka di kosan. Seorang teman akhirnya bersedia menampung mereka sementara. Di saat itulah baru saya merasa lega.

Berbicara tentang kura-kura, mungkin bukan termasuk hewan peliharaan favorit. Mereka tidak punya bulu yang tebal dengan tingkah imut menggemaskan seperti halnya kucing maupun anjing. Bukan pula yang bisa dipelihara secara hukum halal untuk dimakan, seperti ayam maupun kambing. Kura-kura tidak bisa menghasilkan susu seperti sapi. Dan masih banyak ketidakunggulan kura-kura dibandingkan hewan-hewan peliharaan lain.

Tapi saya tetap memilih kura-kura dengan segala kekurangannya. Kenapa tidak? Ketika mereka bayi pun, mereka sangat lucu dan sensitif. Merangkak dengan kerapas yang belum seberapa kokoh, diperlakukan seperti bayi manusia yang butuh sinar matahari pagi. Mereka berada dalam boks lalu menghabiskan jam demi jam tidur sesuka hati. Mereka tidak bisa meracik makanan sendiri dan butuh si empunya melemparkan makanan kemasan dengan aroma tidak enak ke dalam kotak mereka. Mereka bahkan belum bisa mengenali mana si empunya mana yang bukan.

Dalam dunia mitologi dan filosofi, kura-kura dianggap sebagai hewan yang bijak serta penyabar, bukan licik seperti kancil, sok berkuasa seperti macam, dan pemangsa layaknya elang. Inilah sisi yang membuat saya menyukai hewan dua dunia ini.  Dan kalau direnungkan lebih lanjut, banyak hal dari diri kura-kura yang bisa diambil hikmahnya sebagai pelajaran hidup manusia.

Belajar Menikmati Hidup dari Kura-Kura Hewan yang Tak Manja

1. Cangkang yang keras untuk survival

Cangkang atau kerapas adalah satu-satunya alat perlindungan bagi kura-kura. Bentuknya mirip tameng prajurit Romawi. Terbuat dari zat tanduk yang tebal sebagai pelindung organ dalam. Sistem sensorik yang tajam membuat mereka bisa menyembunyikan kepala dan kaki ke dalamnya. Sepenuhnya sebagai alat perlindungan diri dari berbagai jenis serangan, kecuali serangan manusia yang ingin menyantapnya.

2. Makan selain makanan utama

Kura-kura peliharaan saya adalah berjenis terrapin alias hidup di air tawar sekaligus darat yang termasuk karnivora, berbeda dengan tortoise dengan habitat di darat dengan makanan utamanya buah dan sayuran. Namun sebagai bentuk adaptasi, kura-kura tidak menuntut si empunya untuk memberikan daging sebagai penghalang rasa lapar. FYI, selama ini saya memberi makan kura-kura saya dengan makanan ikan koi, satu bungkus besar harganya cuma 5 ribu perak. Bandingkan dengan harga Whiskas untuk kucing rumahan yang manja.

3. Makan bukan satu-satunya hal yang harus dipenuhi

Sepengetahuan saya, ular adalah hewan reptil lain yang tidak perlu makan setiap harinya. Tapi memberi makan mereka adalah wajib. Sebab mereka dikurung dalam satu kotak yang memanjatnya pun mereka susah. Mereka tidak mampu mengeong melas seperti kucing ketika perutnya kosong, atau ketika teramat kepalaran dia akan melakukan aksi “mencari makan” sendiri.

4. Senang bercanda dengan sesamanya, dan galak pada makhluk asing

Hewan pada dasarnya memiliki naluri kebinatangan. Itu sebuah keniscayaan. Akan sangat aneh jika tiba-tiba mereka bertingkah seperti manusia, kecuali Kura-Kura Ninja maupun kura-kura jadi-jadian. Mereka sangat sensitif kepada makhluk asing dan ramah kepada sahabatnya. Kura-kura yang baru ditemuinya pun dianggap sebagai ancaman sehingga keluarlah sifat agresifnya tanpa alasan. Jika kucing selalu memiliki prasangka baik kepada makhluk yang dikenalnya, kura-kura selalu waspada setiap saat.

Belajar Menikmati Hidup dari Kura-Kura

5. Tidak disentuh bukan berarti tidak disayangi

Kura-kura adalah hewan berdarah dingin (cold blooded), artinya mereka selalu menyesuaikan diri dengan temperatur di sekelilingnya, termasuk suhu tubuh manusia yang menyentuhnya. Jadi coba bayangkan, jika mereka yang sedang asyik-asyikan berada di dalam air dengan temperatur 20-25 0C lalu harus merasakan suhu 36-37 0C. Dikembalikan ke air lalu dipegang lagi. Apa nggak panas dingin tuh jadinya? Jadi biarkanlah mereka berada di habitatnya dan hidup tenang. Mereka akan lebih senang jika tidak sering dibelai.

6. Rata-rata berumur panjang karena hidupnya selo

Kura-kura itu bukan binatang penuntut. Yang harus melihat dunia yang begitu luas. Ketika sudah menjadi binatang peliharaan, mereka paham bahwa definisi dunia akan menjadi lebih sempit dan itulah kehidupan yang akan dijalani. Ketika mereka dikeluarkan dari kotaknya, mereka tidak akan langsung berpikir untuk pergi sejauh-jauhnya agar tidak lagi masuk ke kotak itu. Hidup itu selo, jalani saja. Semua kehidupan sudah digariskan, bukankah begitu?

 

Medan, 21 Juli 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Comments are closed.