Below Her Mouth (2016); Film Percintaan Roofer dan Fashion Editor

Below Her Mouth (2016); Film Percintaan Seorang Roofer dan Fashion Editor
Below Her Mouth (2016). Sumber gambar: IMDB

Below Her Mouth merupakan sebuah film yang semua krunya adalah perempuan. Pertama kali diputar pada Toronto International Film Festival 2016.  Disutradarai oleh aktris/sutradara/produser April Mullen (Wynonna Earp, Bellevue, Aftermath), skenarionya ditulis oleh Stephanie Fabrizi. Dibintangi oleh Natalie Krill (Wynonna Earp, Orphan Black) dan Erika Linder. Ini adalah film perdana Erika.

Siapakah gerangan Erika Linder?

Kalau merasa asing, sedikit perkenalan. Dia seorang model asal Swedia kelahiran tahun 1990. Pernah muncul di video klip Katy Perry Unconditionally. Wajahnya sering dikatakan mirip dengan 3 selebriti: Kristen Stewart, Leonardo DiCaprio, dan Harry Styles. Sejumlah video iklan brand produk terkenal pernah dibintanginya, menonjolkan kemaskulinan wajah dan gestur tubuh. Tapi dia juga cocok untuk busana feminin.

Kembali ke Below Her Mouth. Dibuka dengan adegan bercinta Dallas dengan sang pacar. Maaf, gimana tadi? Ya, ini adalah salah satu film yang saya sampai tidak sabar untuk bisa menontonnya sebab, selain faktor Erika, trailer yang sudah dirilis ke Youtube, sangat erotis. Itulah pembuka dari konflik yang dihadapi seorang roofer alias tukang servis atap. Sebuah profesi yang sebagian besar dilakoni laki-laki. Dallas merasa hubungan seksnya dengan sang pacar mulai berubah. Tidak membuatnya bahagia setelahnya. Sementara si pacar masih dalam tahap jatuh cinta hingga selalu ingin melakukannya dengan Dallas.

Dallas dan timnya sedang mengerjakan sebuah proyek di sebelah rumah Jasmine, seorang fashion editor yang sudah bertunangan dengan pria bernama Rile dan mempersiapkan pernikahan. Mereka berkenalan di sebuah bar. Jasmine datang ke sebuah gay bar bersama temannya. Dallas juga bersama temannya. Semuanya, kecuali Jasmine, mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol atau paling tidak one night stand. Dallas sebenarnya mengincar seorang pelayan bar seksi bernama Desiree, tapi belum mendapatkan respons. Ketika melihat Jasmine, dia penasaran. Kurang lebih Jasmine itu ibarat Jenny Shecter, Dallas ibarat Shane di serial The L Word. Yang satu malu-malu pengin tahu. Yang satu lagi cari mangsa.

Untuk mendapatkan seseorang memang harus agresif. Di setiap ada kesempatan, Dallas menggoda Jasmine. Sudah tidak sebatas kata-kata, ciuman adalah bentuk serangan awal. Meski dia tahu Jasmine sudah punya tunangan, tidak membuat si rambut pirang ragu-ragu. Setelah dicium Dallas, Jasmine memutuskan pulang.

Hari berikutnya, mereka ketemu lagi. Dallas berhasil mengajak Jasmine ke bar pada malam harinya. Mendapat lampu hijau, maka tidak perlu lagi membuang-buang waktu. Dari saat itu, penonton akan dibawa ke dalam adegan-adegan percintaan, diselingi percakapan keduanya untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka jalan-jalan naik kapal seharian, pulang, lalu bercinta lagi dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya.

Blue is the Warmest Color atau 50 Shades of Grey?

Jika dibandingkan dengan Blue is the Warmest Color, menurut saya kadar adegan seksnya memang hampir sama panjangnya. Hanya saja, Below Her Mouth adegannya dijeda dengan adegan lain. Blue is the Warmest berdurasi sampai 7 menit sehingga mirip adegan film porno. Di poin yang lain, Blue is the Warmest Color punya alur yang sangat kompleks. Tidak semata-mata cinta. Wajar jika mendapatkan Palme d’Or plus untuk 2 bintang utamanya. Atau mau dikatakan sebagai 50 Shades of Grey versi lesbian?

Kisah percintaan Dallas dan Jasmine harus berhenti ketika Rile kembali. Jasmine memaksa dirinya untuk melupakan Dallas, kembali pada kehidupannya semula. Kehidupannya bersama laki-laki. Dallas, yang jatuh cinta begitu dalam, mencari pelarian ke perempuan-perempuan lain. Banyak yang suka padanya di luar sana, sewaktu-waktu ia bebas datang dan mengajak mereka bermesraan.

Tapi, seks bukanlah obat patah hati yang mujarab. Dia hanya meredakan kesedihan sesaat. Oh Dallas yang malang.

Beberapa adegan dalam film ini tidak hanya mengingatkan saya akan Blue is the Warmest Color, namun juga Kiss Me, Me Myself & Her, dan Bound.

Trailer Below Her Mouth:

Jogja, 12 Maret 2017

Leave a Response