Bersepeda Coba-Coba Rute Tanjakan, Ternyata….

Bersepeda Coba-Coba Rute Tanjakan, Ternyata….
Bersepeda Coba-Coba Rute Tanjakan, Ternyata…. Sumber gambar: TapakRantau

Saya mudah dibuat cemburu, penasaran, kekanak-kanakan, dan berbagai attitude lain yang membuat saya selalu ingin melakukan apa yang orang lain lakukan dan kelihatannya hebat. Ketika teman saya suka ngeblog, saya penasaran. Ketika teman-teman saya suka menulis, ketika saya coba, ternyata bisa. Ketika kakak saya gemar memamerkan foto-foto perjalanannya, ya saya juga pengin jalan-jalan.

Belakangan, saya gabung dengan group-group pencinta sepeda di facebook. Jangan ditanya, tiap hari ada berapa orang yang memposting foto gowesnya. Bergantian hingga saya bertanya-tanya, kapan mereka bekerja? Dan sepertinya mereka bukanlah atlet yang memang fokus mengayuh pedal sepeda balapnya. Selain iri karena mereka begitu sempatnya berhenti sejenak untuk memotret objek sekitar meski hanya sawah atau deretan pepohonan yang menaungi jalanan, daya tahan mereka pun menggelitik saya. Mereka ini ekstrem menurut saya. Gimana nggak, ada sekelompok penggila gowes ini yang memamerkan dirinya dan sepedanya di Gunungkidul sana.

Bagi yang belum tahu Gunungkidul. Perjalanan ke sana seandainya tidak berkelok-kelok dan menanjak, saya rasa tidak begitu jauh. Saingannya pun dengan kendaraan yang saling salip-menyalip. Naik motor itu sekitar 1,5 jam. Kalau terus ke pantai, bisa tambah satu jam lagi.

Dengan naik sepeda, energi kita sendiri yang membuat kita sampai di tujuan. Tidak ada gas yang bisa ditarik kapan saja. Kedua kakilah modal untuk membuat sepeda tetap laju. Selama ini, saya hanya berkeliling di area kota yang tanjakannya ah tidak seberapa. Bahkan saya lama-kelamaan hafal mana rute yang lebih banyak turunan ketimbang tanjakan.  Jika bersepeda di pagi hari yang masih harus kerja, saya pilih rute ini.  Satu jam bisalah sampai 15 kilo dengan keringat tak seberapa.

Setelah berpikir-pikir, Jogja itu punya 2 rute tanjakan yang tidak begitu jauh. Kaliurang dan Gunungkidul. Gunungkidul lebih dekat dengan kos saya. Tapi sepertinya mental saya belum terlalu matang untuk menghadapi kontur jalanan yang sedemikian gila. Maka saya memilih Kaliurang. Terbilang jauh dari titik start, tidak mengapa. Mau sampai siang pun saya rasa kuat.

Saya menunggu hujan reda. Pukul enam, saya mantap bergowes. Belum banyak orang yang bersepeda. Padahal saya senang jika ada rombongan pesepeda yang searah. Kalaupun ada, mereka berlawanan arah.

Dari Gedongkuning hingga perempatan Jalan Kaliurang, saya tempuh dalam waktu satu jam. Tidak mengebut, ketimbang kehabisan tenaga sebelum sampai tujuan. Saya mengayuh dengan santai. Air minum saya masih tersisa tiga perempat. Minumnya diirit-irit. Masuk ke KM 10, saya mulai merasa sepeda mulai berat. Gear pun saya naik turunkan. Menyetel agar putaran roda terasa ringan malah membuat kaki lebih cepat lelah. Atau memang saya mulai merasa, sepertinya tidak mungkin mengayuh lebih naik lagi. Tanjakannya memang akan semakin tinggi. Sampai di KM 14, saya senangnya bukan main. Awalnya saya pikir, biarlah sampai di sini dulu.

Saya penasaran. Saya mengayuh lagi. Beberapa rombongan pesepeda mendahului saya yang berhenti di trotoar. Mereka santai tapi sepedanya melesat seolah ringan sekali. Saya coba lanjut. Satu kilometer rasanya begitu jauh. Baru beberapa kayuhan, saya menepi lagi. Mengatur napas. Apa sebenarnya yang salah. Teknikkah? Atau ketahanan yang memang masih perlu dilatih? Yang pasti, begitu melihat plang Grasia, saya memutar balik, kemudian meluncur dengan penuh semangat. Saya mengambil jalur Cangkringan. Biar mencoba jalur alternatif. Dan rupanya jalur ini sepi dan sekencang apa pun kayuhan saya, tidak terganggu dengan kendaraan bermotor yang lalu lalang. Pemandangan kanan kiri yang hijau, pepohonan, sawah-sawah. Indah sekali. Asyik buat tempat piknik. Saya mengikuti petunjuk jalan yang mengarah ke Maguwo. Ada sejumlah tanda panah di perempatan maupun pertigaan besar. Saya ikuti hingga benar-benar tembus ke Ring Road dekat Lottemart. Tiga jam lebih saya bersepeda lalu rehat sejenak dengan semangkuk bubur ayam Syarifah dekat SGM.

Saya tidak kapok. Saya ingin mencoba lagi rute serupa meskipun mungkin start dari titik di sekitar Jalan Kaliurang. Saya sengaja tidak memasang runtastic karena itu pasti akan menguras habis batere ponsel. Ponsel itu hanya digunakan untuk mengambil gambar jalanan. Itu pun dua kali saja.

 

Jogja, 9 Februari 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response