Bersepeda dari Jalan Wonosari sampai Jalan Magelang via Pakem

Bersepeda Dari Jalan Wonosari Sampai Jalan Magelang Via Pakem
Bersepeda Dari Jalan Wonosari. Sumber gambar: TapakRantau

Jogja punya sekian banyak variasi rute bersepeda yang asyik, yang bisa disesuaikan dengan selera bersepeda kita masing-masing. Rute-rute favorit ini juga bisa didasarkan pada banyak faktor, semisal pemandangan apakah yang ingin dilihat dan tipe sepeda apa yang dimiliki. Saya menganggap faktor kedua sebagai sebuah keterbatasan. Bagaimana tidak, kita mengayuh sepeda dengan tenaga sendiri, membawa beban tubuh sendiri ditambah lagi dengan berat sepeda yang kita kayuh. Hal itulah yang membuat saya berpikir panjang untuk mencobai rute-rute yang sering dipilih para pesepeda dengan “kendaraan” yang jauh lebih canggih dari apa yang saya punya.

Tapi, dari dalam diri saya sendiri, ada keinginan untuk setidaknya tahu rasanya menyusuri jalanan yang penuh tantangan dengan runtutan-runtutan tanjakan berkelok-kelok. Sepeda saya sebenarnya sangat bersahabat untuk medan-medan tanjakan. Saya pun mulai bisa mengenali psikologi sebuah tanjakan, bagaimana cara menghadapinya, bagaimana mencintainya, menganggapnya sebagai sahabat yang akan senang dengan kedatangan kita.

Segala sesuatunya tentu dimulai dari diri sendiri. Kalau pikiran saja belum menjadi satu dengan tubuh sendiri, saya yakin, di tanjakan pertama pasti akan memilih menyerah. Padahal, para perancang sepeda sudah menghitung dengan sangat matang kegunaan gear-gear pada tiap tiap medan yang akan dilalui. Kapan harus memakai gear kecil-besar, tengah-tengah, besar-besar, dan sebagainya. Mata melihat tanjakan, otak memberikan solusi, tangan mengatur gear, kaki menyesuaikan kayuhan, jantung memacu oksigen keluar dan masuk dari hidung, lihat ke depan tanpa perlu terlalu mendongak sebatas memastikan jangkauan pandangan ke depan. Saya perlahan mempelajari itu setelah membaca cerita-cerita pada goweser hebat. Kehidupan ini penuh dengan hal-hal teknis. Yang dengan tanpa dicatat pun insting kita akan memandu dengan sigapnya.

Satu hal yang harus dibuang pelan-pelan adalah bahwa sepeda kita akan meluncur ke bawah dengan tanjakan kemiringan yang tajam. Latihan demi latihan akan membuat tubuh memiliki koordinasi tubuh yang semakin membaik. Bahwa berhenti pun ada tekniknya. Jangan di sembarang tempat karena itu akan mempengaruhi  kayuhan berikutnya. Kita perlu rehat jika lelah dan membiarkan proses recovery tubuh 2-3 menit karena jantung adalah pusat kehidupan kita. Pikirkan nasibnya ketimbang kebanggaan diri ketika sampai di puncak tanjakan nanti. Ketika kaki mengeluh lelah, carilah tempat yang bisa digunakan untuk menjejakkan satu kaki dalam posisi lurus. Jalanan non perkotaan memang langka dengan trotoar. Tapi bukankah kita pun boleh jadi melewati tiang listrik yang disemen keliling sekitar 30 senti, atau tumpukan ban bekas, tumpukan batu-batu, semen-semen yang dibuat sebagai tempat duduk-duduk, undakan-undakan warung, atau apa pun lah. Jikalau tidak melihatnya, turunlah dari sepeda dan tetaplah berdiri. Minumlah jika memang sudah waktunya harus minum. Makanlah jika tubuh meminta. Rasanya begitu indah jika tubuh “berbahasa” dari kepala sampai ke kaki. Tidak akan ada ego yang perlu tumbuh dan bergerak dengan sendirinya, mengatur sesukanya, tanpa memikirkan ada penderitaan-penderitaan yang tercipta dan berdampak buruk pada jangka panjang. Jangan mengaku berolahraga jika konsepnya adalah menyiksa tubuh tanpa adanya kejelasan metode yang digunakan. Semesta ini penuh dengan metode-metode yang dijaga sebegitu rupa demi tetap berlangsungnya kehidupan. Bumi punya metode bekerja, Mars pun demikian. Mungkinkah keduanya bisa disamakan dengan sebegitu banyak perbedaan?

 

Bersepeda kali ini saya menempuh jarak 75 kilometer tanpa melewati garis perbatasan wilayah Yogyakarta. Rute yang sudah saya rancang beberapa hari sebelumnya meskipun belum tahu pasti berapa kilometer saya harus mengayuh. Saya mengambil waktu pagi hari, sarapan dengan tiga pisang dan beberapa teguk air. Di perjalanan saya bisa mengonsumsi gula jika diperlukan. Saya menyebut nama Tuhan karena maut bisa datang sewaktu-waktu. Pikiran saya fokuskan pada jalanan. Saya melupakan sejenak bagaimana keadaan kantor yang berada dalam kondisi tidak biasa. Biarkan itu di waktu yang tepat saya pikirkan kembali.

Niat saya adalah ingin menjaga kebaikan tubuh, maka dengan itulah saya memulai rute ini. Dari Gedongkuning, saya mengikuti Jalan Wonosari. Dimulai dengan turunan tipis terlebih dahulu, kemudian agak berkontur tanjakan tipis terus sampai ke Jalan Piyungan ke arah utara lurus saja, hingga tembus ke Jalan Solo ke barat sejenak hingga mengambil arah ke utara melewati Jalan Pakem-Kalasan. Jalanan “dalam” dengan dominasi truk dan kendaraan bermotor. Tanjakan mulai menyambut saya dengan ramah. Jika ingin mendekati Kaliurang, memang hidangan seperti itu yang menjadi pewarna perjalanan. Hari Sabtu, para pesepeda petualang jarang saya temui di jalanan. Atau memang ini bukan rute favorit mereka? Saya terus terang suka dengan selingan jalan datar setelah satu tanjakan tipis namun panjang. Tenggorokan saya basah dengan 1-2 teguk air mineral. Keringat mengucur ketika sinar matahari mulai menyentuh permukaan kulit. Dengan dipandu GPS, saya mengambil rute jalan besar saja.

Saya sempat salah jalan ketika mengambil jalan alternatif ketika ada perbaikan jembatan Jalan Pakem-Turi. Membuat saya memasuki perkebunan salak pondoh di kiri kanan pohon-pohon salak tanpa dipagari. Saya tidak melihat siapa pun penjaga kebun. Apa iya dipasrahkan sama Tuhan?

Nyasar 7 kilometer, akhirnya saya melanjutkan perjalanan mengikuti jalur alternatif bus-bus pariwisata yang menghindari kemacetan Jalan Magelang dari lawan arah. Kontur jalan mulai turunan. Fase mengayuh pun berakhir. Meski tidak meluncur cepat, kaki saya bisa istirahat sejenak. Langit sekitar mendung, berbeda betul ketika telah kembali ke Jalan Magelang dan seterusnya. Kecepatan rata-rata hanya 26 km/jam. Cukupnya untuk recovery tenaga tanpa harus berhenti.

Jalan Magelang memiliki variasi tanjakan dan turunan tipis. Masih bisa dinikmati dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Di hari Sabtu, kemacetan bukan hal aneh, terlebih mendekati flyover. Beberapa petugas polisi menjaga di beberapa titik mengantisipasi adanya pelanggaran lalu lintas di bawah bundaran flyover.

Kembali ke jalan-jalan kota dengan kepentingan tiap-tiap individunya. Di mana mengalah itu bukan sebuah hal mulia untuk dilakukan. Mengalah dianggap sebagai kebodohan. Mengalah adalah kekalahan. Sampai-sampah yang dibuang sembarangan ke sungai. Orang-orang yang duduk bersama tapi berbicara dengan ponsel masing-masing. Anak yang terabaikan orang tuanya. Orang tua yang cintanya tak terbalas oleh si buah hati. Agama yang menjadi alat perang. Stigma yang sengaja dilekatkan pada kaum-kaum tertentu agar bisa selalu dibenci. Hewan-hewan peliharaan yang dibuang pemiliknya. Cinta yang terbagi kepada orang lain yang gila harta.

Kota. Semua itu ada di kota.

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response