Bersepeda Jarak Jauh, Bersepeda Jarak Dekat Pakai Strategi

Bersepeda pada level tertentu akan memberikan pilihan pada para pemakainya agar fokus untuk jarak dekat ataukah jarak jauh. Saya tidak membahas tentang atlet sepeda bahkan triathlon sekalipun. Bersepeda akan membentuk idealisme yang membawa pemakainya pada sebuah kecenderungan. Termasuk saya.

Bersepeda sejauh apa dan sedekat apa? Saya mengecualikan touring dalam bahasan. Sebab, saya sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya. Mari membuat sebuah batasan dekat dan jauh. 5-30 kilometer adalah jarak dekat, bisa ditempuh dengan 2 jam mengayuh. 31-100 kilometer mulai disebut jauh.

Bersepeda Jarak Jauh, Bersepeda Jarak Dekat Pakai Strategi
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Bersepeda jarak dekat bukan berarti abai dengan hal-hal vital yang terkait dengan sepeda maupun tubuh si pesepeda. Satu jam bersepeda setidaknya menghabiskan cairan sampai 500ml dan 400 kalori. Oke, dari sepedanya dulu. Mulai dari tekanan ban, setelan seatpost, rantai, lampu untuk di malam hari harus lengkap. Buat pesepedanya, helm, sepatu (pembahasan tentang sepatu akan ada di artikel selanjutnya), sarung tangan, jersey (kenakan pakaian yang tidak mudah basah oleh keringat), kacamata sebagai penghalang debu, air minum, dan makanan kecil yang mudah dikonsumsi dalam kondisi mengayuh pedal. Belajarlah untuk tidak berhenti hanya untuk makan dan minum. Banyak berhenti selain membuang waktu, juga membuat otot kaki perlu pemanasan kembali setelah berhenti lama.

Jika sudah menemukan kesenangan bersepeda jarak jauh, persiapan sepeda dan pesepedanya hampir sama. Hanya saja, jelas kebutuhan akan minum dan makanan kecilnya lebih besar. Baru-baru ini saya membawa 4 bungkus Fitbar ketika menempuh 140 kilometer. Pesepeda juga sangat perlu belajar memanajemen energi yang digunakan. Di Jogja, rute 100K favorit saya adalah modifikasi rute ala Audax Randonneurs 100K. Ke barat sampai Wates lalu ke timur melewati Jalan Bantul. Kemarin bisa sampai 140 dengan setengah mengelilingi Ring Road. Ketika melewati Jalan Wates yang banyak turunan, saya membuat kesalahan dengan menaikkan gear depan lalu mengayuh full speed. Lalu mengembalikan ke gear tengah ketika jalan rata atau menanjak. Akibatnya, di Jalan Daendels kaki saya sakitnya luar biasa, dan belum setengah dari jarak target. Menjadi makin runyam karena harus melawan angin dari arah selatan. Saya harus berhenti untuk menghilangkan rasa sakit di kaki. Selama bulan Juli, saya sama sekali tidak pernah bersepeda jauh. Terakhir yang ke Solo, tapi itu pun dengan speed yang sangat-sangat santai.

Saya rasa setiap pesepeda mengenali kapasitas dirinya masing-masing. Yang terpenting adalah tidak memaksa diri.

Saat bersepeda jarak dekat, cobalah sekali-kali mengayuh dengan full speed. Anggap saja sebagai penyegar jika selama ini mengayuh pelan-pelan saja. Lagi-lagi, mengayuh dengan kekuatan penuh bukan untuk latihan menjadi atlet, tapi menguatkan otot kaki dan mencoba bernapas normal. Sekali sudah merasa ngos-ngosan, kembali ke kecepatan biasa. Jangan pernah memaksa jantung untuk bekerja di luar kemampuannya.

Untuk menambah motivasi bersepeda, lihatlah aktivitas teman-teman pesepeda lainnya dengan aplikasi yang ada, entah itu runtastic atau strava. Di strava juga tersedia tantangan-tantangan menarik dan yang ikut bisa jutaan cyclist. Tidak ada hadiahnya tapi percayalah, persaingan dengan pesepeda lain akan memacu semangat mengayuh pedal. Dan ada sebuah rasa bangga ketika Anda bisa menempuh sebuah jarak dengan sepeda yang murah. Karena Andalah yang membuat sepeda itu mampu melaju sekencang mungkin.

 

Jogja, 2 Agustus 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response