Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan Minim Turunan

Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan

Rute bersepeda kali ini  terinspirasi dari seorang kawan. Saya melihat rekaman Strava miliknya dan menanyakan langsung medan yang sudah dilaluinya. Menurut dia, ke Borobudur via Godean, jalannya bagus dan tanjakannya indah. Maka, pada malam harinya saya memikirkan akan memakai rute itu atau lewat Jalan Magelang yang umum digunakan orang.

Jarak dari Jogja ke Borobudur hanya 45 kilometer via Godean, 49 kilometer via Jalan Magelang. Jika melewati jalan besar dengan kondisi long weekend, pastilah sangat padat. Sepeda adalah kendaraan yang hanya akan dipepet ke tepian.

Maka, hari ini, saya pun memantapkan hati ke Borobudur via jalan alternatif. Saya bangun kesiangan, sarapan 3 butir pisang dan seteguk air.

Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan
Jembatan Kali Progo

Dari kosan, saya menyusuri Jalan Kusumanegara yang baru mulai ramai. Tumben tidak banyak pesepeda yang lalu-lalang. Di kilometer ke-3 saya memasuki Jalan Sultan Agung terus ke barat, masuk sampai Jalan Wates. Kalau berpedoman pada Google Map, seharusnya saya mengikuti Jalan Bibis. Eh lahdalah malah kelewat jauh sudah ke Jalan Ringroad Barat. Di kilometer 11 ambil kanan, menuju Godean. Barulah kembali mengikuti Google Map. Saking seringnya buka peta, Runtastic mencatat waktu berhenti saya sampai 2 jam lebih. Di beberapa titik memang saya sering berhenti dan cukup lama.

Sempat nyasar di Jalan Nyangkringan, saya memilih mutar balik karena tidak ada jalan tembus ke Jalan Kebon Agung. Itu satu-satunya rute menurut peta. Kalaupun ada jalan kecil, saya nggak berani mencoba. Di kilometer ke-31, saya terpukau dengan panorama Sungai Progo yang kecokelatan. Keren juga buat diabadikan.

Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan

Sampai di situ jalan landainya. Jalan Nanggulan-Mendut membuat napas saya ngos-ngosan dengan tanjakan “ringan”. Kawan saya sepertinya mengendarai road bike sehingga tidak bermasalah dengan kontur jalan yang tanjakan panjang dan turunan singkat. Di sini, hampir setiap 20 meter saya turun sejenak, mengatur napas. Gear sudah 1-1. Kendaraan bermotor saja naiknya pelan-pelan, apalagi saya. Beberapa kali saya melihat ke belakang, terpikir untuk balik arah. Tapi begitu mengecek Runtastic, tujuan saya tidak lagi jauh. Rupanya arti warna hijau di peta itu adalah tanjakan. Ya Tuhan, saya kok baru tahu.

Kontur Klangon lebih bersahabat. Menanjak tapi tipis banget. Tipis versi saya itu berarti memang tak perlu sampai ngos-ngosan walaupun saya pakai gear 2-1. Kondisi aspalnya mulus, tidak begitu ramai kendaraan. Tapi udaranya mulai kering, matahari pun terik. Hampir pertengahan hari.

Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan

Tepat di kilometer ke-52, saya tiba di area Candi Borobudur. Dari luar, kendaraan di tempat parkir luar biasa banyak. Saya memang tidak berniat masuk. Setidaknya tahu rasanya bersepeda ke sini. Lalu saya mengambil jalan pulang. Ceritanya mau mengambil rute yang berbeda. Itu artinya satu-satunya alternatif jalan adalah Jalan Soekarno-Hatta. Jam 12 saya rehat shalat Zhuhur, sebelumnya berhenti makan Top. Di tas perbekalan saya ada 4 bungkus Top mini dan Oatbis. Selama perjalanan, saya menghabiskan 4 Aqua 600ml dan 1 the kemasan. Padahal saya kehilangan 3600ml cairan. Keringat sih cuma terkuras pas tanjakan-tanjakan sebelumnya. Sisanya haus dan kewajiban minum teratur meski tidak haus.

Bersepeda ke Borobudur via Godean; Penuh Tantangan Tanjakan
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Jalan Soekarno-Hatta cukup menanjak, tapi tipis. Pepohonan rindang di kanan-kiri jalan juga membantu saya merasa adem. Rasa adem itu langsung lenyap begitu sampai Jalan Magelang-Jogja. Duh perkotaan memang jarang bisa memberikan suasana sejuk. Kendaraan yang searah dengan saya luar biasa kebut-kebutan. Dan beberapa klub motor juga konvoi dengan knalpot yang luar biasa berisik dan asap tebal. Saya mulai tidak lagi membutuhkan bantuan Google Map, sudah beberapa kali lewat sana. Lagipula, arah ke Jogja tinggal lurus saja. Kalau mau terhindar macet, bisa ambil jalan alternatif lewat Turi, tapi saya tahu ada sekian tanjakan yang siap menghajar saya lagi.

Saya sampai rumah pukul 4 sore. Seporsi kacang hijau langsung tandas. Ini 100 kilometer saya yang kedua. Tanjakan memang tantangan yang luar biasa, tapi setelah sampai kembali di kosan, pegel-pegelnya alhamdulillah tidak terasa. Hanya rasa lapar tapi saya ingin membiasakan tidak langsung makan besar dulu. Biar tubuh beristirahat, termasuk perut.

 

Jogja, 8 Mei 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response