Bersepeda ke Candi Banyunibo bareng Komunitas Pitnik Jogja

in Olahraga by
Bersepeda ke Candi Banyunibo bareng Komunitas Pitnik Jogja
Bersepeda ke Candi Banyunibo. Sumber gambar: Sumber gambar: Komunitas Pitnik Jogja.

Setelah Sabtu malam 9 Desember saya ikut Jogja Night Run 5K, Minggu paginya saya dengan penuh semangat, meski bangun agak kesiangan lalu dengan waktu yang cukup sempit makan sebuah pisang Sunpride dan air putih secukupnya, bergegas menuju Titik 0 Jogja. Waktu kumpulnya adalah 06.00-06.30 WIB. Saya tiba di sana pukul 06.00 an sudah terlihat beberapa pesepeda berseragam biru milik Komunitas Pitnik Jogja  di depan pagar pembatas Monumen Serangan Umum 1 Maret yang sudah selesai direnovasi. Genangan-genangan kecil air sisa hujan deras semalam suntuk masih terlihat. Gerimis yang masih tersisa sampai pagi juga membuat kekhawatiran acara akan molor sampai cerah.

Titik Kumpul 1 Titik Nol Kilometer. Sumber gambar: tapakrantau.com.
Titik Kumpul 2 JEC. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Tapi, kami toh menepati jadwal yang telah ditentukan. Begitu pukul 06.30, kami dipandu briefing dan doa bersama sebelum berangkat menuju titik kumpul selanjutnya di depan JEC. Kalau rombongan yang berangkat dari Tikum 1 sekitar 20-an orang, maka yang di Tikum 1 lebih mungkin 3 kali lipatnya. Sangat besar hingga iring-iringan kami sangat panjang dan terpisah-pisah ketika lampu merah yang tidak seberapa lama.

Tujuan kami di Gowes Bareng Minggu Wage (GBMW) 26, kali ini adalah Candi Banyunibo yang letaknya masih bertetanggaan dengan Candi Boko. Bertetangga tapi agak jauh sih sebenarnya. Kami memilih jalan melewati Jalan Maguwo lalu menyusuri  Jalan Berbah-Prambanan, sempat mampir sejenak di rumah seorang anggota Pitnik yang menyiapkan penganan dan teh hangat untuk kami. Dia absen karena sedang ada anak-anak yang menginap di homestay sebab di Desa Kunden (semoga saya tidak salah sebut nama ya) merupakan desa wisata.

Perjalanan rombongan besar dilanjutkan kembali dan kami terpisah ke dalam beberapa kelompok. Bukan karena ada provokator pastinya, tapi saat kecepatan mengayuh yang berbeda-beda. Dan yang saya pikir sudah berada di kelompok terdepan, eh ternyata ketika sudah sampai di Candi Banyunibo, juga sudah ada yang lebih dulu sampai.

Candi Banyunibo tidak perlu dicapai dengan perjuangan karena tanjakan kelas berat seperti Candi Ijo atau Candi Boko. Letaknya pun tidak jauh dari papan petunjuk satu-satunya yang kami lihat. Hanya dua ratus meter lalu ada jembatan bambu dan kami mengantre menyeberang dengan menuntun sepeda.

Candi Banyunibo adalah bangunan tunggal namun halamannya sangat luas. Kami tidak dikenakan biaya apa-apa ketika masuk ke area candi. Terdapat gazebo untuk pengunjung yang ingin duduk-duduk selain pendapa yang hari itu sedang diadakan sebuah acara. Sebelum para pesepeda sibuk berfoto di depan candi, saya lebih dulu mengambil gambar. Juga memotret antrean panjang pesepeda yang menyeberang jembatan. Komunitas Pitnik Jogja merupakan salah satu komunitas dengan pengikut yang besar. Saya tidak bilang anggota sebab saya sendiri bukan anggota resmi. Saya ikut kalau mereka kumpul di Minggu Wage dengan rute yang menarik. Beberapa teman saya di Jogja Women Cyclists pun kadang ikut di komunitas yang sebagian besar adalah laki-laki. Jadilah kaum perempuan menjadi makhluk langka. Pitnik juga tipe komunitas yang selalu safe riding, memakai helm saat berkendara dan mematuhi marka jalan, terutama lampu lalu lintas.

Saya membeli sebuah kalender dan sewaktu di rumah, ternyata bukan tanggalan biasa. Ada jadwal GBMW untuk tahun 2018 sehingga jika melewatkan infonya di Facebook atau Instagram, masih ada sumber informasi satu lagi.

 

Jogja, 12 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*