Bersepeda ke Embung Nglanggeran dan Sensasi Traveling yang Berbeda

Bersepeda ke Embung Nglanggeran dan Sensasi Traveling yang Berbeda
Embung Nglanggeran. Sumber gambar: TapakRantau

Embung Nglanggeran merupakan destinasi wisata di Gunungkidul yang menawarkan panorama khas pegunungan. Apalagi kalau bukan hamparan hijau pepohonan dan puncak-puncak pegunungan yang lebih rendah. Jika untuk mencapai titik tertinggi Gunung Purba Nglanggeran dibutuhkan perjalanan kaki 1-2 jam lamanya, tidak demikian dengan Embung Nglanggeran. Letak parkiran kendaraan tidak jauh dari tangga naik yang akan mengantarkan kita pada lokasi danau buatan yang proses pembangunannya butuh sekitar 78 hari. Itu yang saya baca sekilas dari papan informasi yang tersedia dekat tempat parkir.

Bagaimana caranya untuk sampai ke Embung Nglanggeran? Banyak sarana transportasi yang bisa mencapai tempat ini. Mulai dari kendaraan besar hingga sepeda. Hah? Sepeda? Ya, sebut saja ini sebagai sport traveling yang penuh dengan tantangan mental.

Bersepeda ke Embung Nglanggeran dan Sensasi Traveling yang Berbeda
Sumber gambar: TapakRantau

Tantangan untuk sampai ke sana bagi pengendara sepeda adalah tanjakan-tanjakan tajam rolling dengan turunan-turunan tajam berkelok-kelok. Dimulai setelah melewati pertigaan Piyungan, maka para pengendara sepeda harus siap mengatur gear agar kompatibel dengan bentuk jalanan yang tidak lagi datar. Kata para pakar bersepeda, untuk menghadapi jalan tanjakan, lihatlah ke arah roda depan, bukannya mendongak. Dengan begitu, kita tidak perlu terbebani tapi akan bisa melampauinya. Kebetulan saya ke sana pada hari Sabtu, sehingga di jalanan tidak banyak saya temui pesepeda lain. Di hari Minggu, akan menjadi pemandangan yang lazim berpapasan atau disusul pesepeda lain.

Jarak dari Yogyakarta ke Embung Nglanggeran, sebagaimana terekam dengan aplikasi STRAVA saya adalah 22 kilometer. Di jalan datar, jarak segitu bisa ditempuh dengan waktu 1 jam bersepeda, kali ini saya menghabiskan 2 jam perjalanan.

Jalan Jogja-Wonosari merupakan rute ramai kendaraan 2 arah. Bagi para pesepeda jangan sampai kehilangan konsentrasi. Mengayuh di jalan menanjak itu seperti halnya motor matic, rodanya akan bergerak ke kiri dan kanan menyeimbangkan, dan si pesepeda masih harus memastikan napasnya tidak ngos-ngosan. Berhentilah sejenak di tepi jalan untuk memilihkan kondisi tanpa perlu beranjak dari sadel. Rute berangkat paling berat yang saya rasakan adalah setelah pertigaan yang membawa saja menjauh dari jalan utama mengikuti plang hijau ke arah Nglanggeran. Saya disambut terlebih dahulu dengan turunan cukup panjang lalu tanjakan-tanjakan panjang melambatkan kayuhan saya. Berangkat pagi dan mendung pula, tidak membuat keringat saya  berhenti bercucuran. Bagian punggung jersey mulai terasa basah. 1 Liter Pocari Sweat setiap 3 kilometer mengucur ke dalam mulut saya untuk mempertahankan kadar cairan tubuh. Sama sekali bukan untuk menambah stamina.

Adanya selingan jalan menurun memberi saya kesempatan untuk memulihkan tenaga tanpa harus berhenti sejenak. Tapi, ada titik di mana saya tidak mampu mengendarai sepeda dan harus menuntun sekitar 20 meter ketika tanjakannya berada dalam elevasi yang ekstrem. Saya harus menuntun lagi ketika menemui ujung jalan beraspal 1 kilometer menuju Embung Nglanggeran. Kondisi ban saya yang menang ditujukan untuk jalan aspalan, akan berkonflik dengan bebatuan dan licin sehabis tersiram hujan. Dari kejauhan, saya melihat keindahan panorama. Tandanya tak lagi jauh tempat tujuan saya.

Bersepeda ke Embung Nglanggeran dan Sensasi Traveling yang Berbeda
Sumber gambar: TapakRantau

Sesampainya di loket retribusi, saya membayar tiket masuk 10.000. Tentu saja bebas parkir. Tiket bagi turis mancanegara 30.000. Di malam hari, tarif tiket domestik 15.000, mancanegara 30.000.

Parkiran yang luas itu masih terbilang sepi. Saya mengambil gambar sekeliling barulah menuju Embung. Jika melihat tulisan Kebun Buah Nglanggeran itulah Embung. Sama seperti Kebun Buah Mangunan, di sana juga tidak ada kebun buah dalam makna harfiah.

Anak-anak tangga menuju puncak sana cukup tinggi. Jika ingin yang lebih landai, pilihlah naik dari tangga turun. Selain itu, lebih lebar pula hingga tak perlu mengantre saat naik. Danau buatan berukuran 60×60 meter menyambut saya di puncak tangga. Berpagar aluminium menghentikan langkah saya untuk bisa terjun ke dalamnya. Cukup bisa melihat ikan-ikan kecil di dalamnya berenang-renang. Rombongan pengunjung yang tadi datang dengan iring-iringan mobil berpencar mencari spot foto.

Bersepeda ke Embung Nglanggeran dan Sensasi Traveling yang Berbeda
Sumber gambar: TapakRantau

Ada beberapa gardu pandang yang sengaja dibuat untuk spot foto agar bisa mengabadikan si Embung secara keseluruhan. Rombongan pengunjung yang kebanyakan ibu-ibu sepertinya enggan naik ke gardu pandang. Pemandangannya memang lebih indah dari atas gardu pandang. Tidak hanya bisa melihat Gunung Api Purba, tapi juga danau buatan berwarna hijau toska yang begitu damai. Angin berembus sepoi-sepoi. Mengaso sejenak dulu.

Menjelang pukul sembilan, pengunjung yang berada di sekitar Embung semakin sedikit. Saatnya memotret dari bawah. Ada bebatuan yang bisa dijadikan tempat duduk atau jika malas berpanas-panas, pilihlah gazebo.

Bagi para pesepeda yang ingin ke Embung Nglanggeran, ada beberapa tips dari saya:

  1. Pastikan semalam istirahat cukup. Dari situlah konsentrasi itu berasal.
  2. Rasa lelah adalah hal biasa. Jika tidak begitu perlu berhenti, sebaiknya tidak berhenti. Lebih baik memperlambat kayuhan.
  3. Pilih gear yang sesuai kekuatan kaki.
  4. Ban semi-road bagi saya lebih menguntungkan karena ringan. Secara sepeda saya masih steel (besi)
  5. Atur kapan untuk minum. Jangan terlalu sering, jangan juga terlalu pelit minum. Di sekitar Embung ada penjual minuman jika ingin isi ulang. Pocari Sweat juga ada.
  6. Pakailah masker. Asap kendaraannya sangat berbahaya bagi pernapasan.
  7. Berangkatlah di pagi hari. Saya berangkat pukul 6 dari Jogja.
  8. Rem harus prima.
  9. Ban terpompa dengan baik.
  10. Sudah cukup terlatih dengan rute jauh dan menanjak.

Video Embung Nglanggeran:

 

Jogja, 11 Februari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response