Bersepeda ke Prambanan, Nyasar di Klaten Plus Malam Mingguan

Bersepeda ke Prambanan, Nyasar di Klaten Plus Malam Mingguan

Buat saya, keberadaan papan hijau penunjuk jalan adalah penentu perjalanan itu bakal sampai di tujuan ataukah tidak. Terlebih saya bukan seorang penghapal jalanan yang baik. Tapi pemasangan papan hijau memang juga tidak mungkin di semua titik persimpangan jalan. Di area pedesaan, yang notabene dilewati penduduk setempat sehari-hari, pemasangan petunjuk seperti itu apalah gunanya. Pemikiran itu bertemulah dengan cara berpikir saya yang: ikutilah ke mana kendaraan lain berjalan.

Sabtu kemarin, 2 April 2016, saya bersepeda ke Prambanan. Sore-sore berkeliling candi-candi asyik juga. Perjalanan cukup sering terhambat karena dua hal. Kendaraan yang padat, dan perbaikan ruas jalan. Jarak antara kosan saya dengan Prambanan hanya sekitar 10 kilometer, padahal saya pingin mencapai 50 kilometer. Sisanya, pikir saya, gampanglah dengan mutar-mutar kota juga bisa.

Mendekati Prambanan, saya berbelok ke kiri, masuk ke Jalan Taman Prambanan, lalu terus ke utara mengikuti jalan besar yang cukup menanjak, namun pakai gigi tengah masih sanggup mengayuh. Hingga mengitari areal Candi Sewu, saya kemudian mengambil arah ke utara lagi. Saya melihat persawahan dengan dilatari langit mendung dan awan gelap. Masih pukul 5. Saya berpikir positif saja jika memang hari sudah sore, langit memang begitu. Saya menikmati pemandangan persawahan dan aktivitas penduduk yang masih mengurusi padi-padi mereka. Saya juga melewati jalanan kampung yang sepi namun beraspal baik.

Hingga saya menghadapi jalan buntu. Saya mau mengeluarkan hape dan memakai GPS. Tapi, saya bukan yang mahir menggunakan software itu. Apa yang harus saya ketik sementara saya tidak paham di mana saya sekarang?

Saya pun menanyakan pada seorang pemuda yang sedang duduk santai depan rumah, kalau ke jalan besar ke mana arahnya. Belum lama saya kembali mengayuh sesuai petunjuk pemuda itu, turunlah hujan dengan derasnya. Jas hujan tersedia di sepeda saya, tapi tentu saja membuat gerak tubuh menjadi kurang nyaman. Angin yang kencang membuat jersey saya pun ikut basah. Untunglah ponsel di handband tetap menyala dan memutarkan siaran dari Delta FM yang suaranya timbul-tenggelam dan dikalahkan juga pula. Hape saya satunya di dalam tas bersama dompet, pompa dan kunci-kunci.

Hari mulai gelap mendekati pukul 6. Masih juga saya belum sampai ke jalan besar. Jalanan beraspal dengan kontur semi-tanjakan berkali-kali saya lewati dengan sabar dan menghibur diri. Saya agak ragu apakah arah yang saya tempuh sudah benar, karena sudah jarang melihat kendaraan. Saya ikuti saja jalanan ini sambil sesekali meneguk air dalam botol. Botol yang saya bawa pun yang hanya seliter. Harus saya hemat. Padahal warung pinggir jalan cukup banyak.

Ketika melihat truk di depan, saya kembali mendapatkan titik cerah, pastilah truk itu mengarah ke jalan besar. Semoga bukan ke tempat proyek. Dari arah berlawanan pun juga sesekali saya berpapasan dengan truk. Sebagai penguatan, saya sempat berhenti dan bertanya pada penduduk, ya sudah benar arah saya.

Hujan sudah berhenti. Berhubung saya sudah basah kuyup, jas hujan saya kenakan saja untuk menahan angin langsung mengenai tubuh saya. Kondisi saya sebenarnya baru saja pemulihan pilek. Saya bawa bersepeda, batuk dan pileknya pergi jauh. Lupa dengan sendirinya tergantikan dengan keinginan saya untuk menemukan jalan pulang.

Bersepeda ke Prambanan, Nyasar di Klaten Plus Malam Mingguan

Medan yang cukup membuat saya harus melambatkan laju adalah memasuki Jalan Dales Indah, dengan kondisi aspal bolong-bolong dan tergenang air. Saya baru saja mengganti batere lampu depan, tapi sungguh sulit melihat jalanan yang lebarnya hanya cukup untuk satu truk dan satu mobil pribadi berjejer. Saya dibantu dengan lampu-lampu kendaraan yang melintas dari arah depan maupun belakang. Kecepatan saya hanya maksimal 15 km/jam. Terhitung lambat. Siaran Delta FM semakin menghilang, seperti halnya sinyal Telkomsel sampai akhirnya saya tiba di perempatan Jalan By Pass Krian.

 

Melihat jalan besar, bersoraklah saya. Lepas sudah dari jalanan yang menguras konsentrasi dan energi menarik rem sewaktu-waktu. Saya berbelok ke kanan, mengarah ke Jogja. Saya ambil lajur paling kiri dengan pembatas warna putih. Bus-bus besar dari Jogja kejar-mengejar. Yang arah ke Jogja lebih banyak kendaraan pribadi. Kontur jalanan mulai dari datar hingga turunan tapi tidak tajam. Lumayan sejenak mengistirahatkan kaki tanpa harus berhenti. Sepatu sampai kaus kaki yang basah tidak nyaman dikenakan. Setang kanan saya pun basah sehingga posisi handling tidak pas. Sementara yang kiri sudah kering. Jadilah saya mengayuh dengan segala ketidaknyamanan sekitar 20 kilometer. Saya tidak berniat berhenti untuk mengisi botol minuman yang sudah kosong melompong begitu melewati Prambanan. Nanti sajalah. Mungkin lebih lama terbalut baju basah akan berakibat tidak baik untuk kesehatan.

Speedo saya terus menambah kilometer, kecepatan saya tahan di 20 km/jam. Jika dipercepat lagi, saya harus berhenti untuk memulihkan napas yang ngos-ngosan. Jika stabil, saya kuat mengayuh terus-menerus hingga sampai di kosan kembali. Lampu sepeda saya buat kedip-kedip untuk menghemat 4 baterai alkaline di dalamnya. Jalanan arah ke Jogja tidak semacet sore tadi. Jalanan kering. Tidak hujankah?

Bersepeda ke Prambanan, Nyasar di Klaten Plus Malam Mingguan

Saya tiba di kosan jam 19.45. Nyaris 4 jam bersepeda untuk 62 km versi speedometer, dan 4 jam dengan jarak 59 km versi runtastic. Luar biasa rute saya kali ini, tak direncanakan tapi penuh perjuangan. Saya nikmati semua itu. Ketimbang lelah mengomeli kebodohan diri sendiri yang asal-asalan memilih arah hingga tersesat, ya kan?

 

Jogja, 3 April 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response