Bidadari-Bidadari Surga (2012); Film Perjuangan Seorang Ibu

Bidadari-Bidadari Surga (2012); Film Perjuangan Seorang Ibu
Bidadari-Bidadari Surga (2012). Sumber gambar: IMDB

Ehem, semalem gue bukan rencana nonton film Bidadari-Bidadari Surga. Tapi mau dikata kalau di hari perdana pemutaran 5CM, tiket udah habis. Jadilah gue memutuskan untuk tetap nonton dan pilihan gue jatuh ke film terbaru Nirina Zubir. Gue nggak tahu ceritanya tentang apa, setidaknya yang main di sana banyak aktris dan aktor kenamaan, kalaupun ceritanya biasa aja, ya aktingnya bisa dinikmati.

Film Bidadari-Bidadari Surga adaptasi dari novel karangan Tere Liye. Gue jujur belum pernah baca satu novel buatan dia jadi nggak punya ekspektasi berlebihan. Gue pun beli satu tiket untuk pemutaran 18.45, harga hemat Rp25.000.

Film bersetting mungkin di Sumatra, sorry gue nggak ngeh karena nggak ada keterangan tentang itu, yang pasti logatnya sedikit bernada melayu. Para pemainnya yang kebanyakan aktor blasteran juga tahu dong sangat netral dengan logat kedaerahan. Ceritanya itu tentang sebuah keluarga, di mana tinggallah seorang ibu bersama 5 anaknya. Laisa (Nirina Zubir) jadi anak sulung, lalu ada Dali, Ikanuri, Wibisana, dan Yasinta. Sejak kecil, Laisa itu berkorban begitu besar pada keluarga, dia nggak sekolah dan bekerja keras demi menghidupi keluarga. Adik-adiknya ia haruskan sekolah meski mereka lebih cenderung bosan. Dali adalah putra pertama yang punya potensi menjadi orang cerdas. Dia sangat menyukai fisika dan ketika dewasa dia menjadi seorang profesor diperankan Nuno Fernandez. Ikanuri dan Wibisana entah besarnya menjadi apa gue juga nggak ngerti. Yasinta (Nadine Chandrawinata) jadi peneliti hewan liar. Meski nakal-nakal, toh akhirnya mereka menjadi orang sukses. Laisa pun begitu dengan bisnis strawberry-nya.

Tapi kesuksesan Laisa tidak dibarengi dengan percintaannya. Dia dalam film ini digambarkan berbeda dari adik-adiknya. Dia berkulit gelap, berambut ikal, dan bertubuh pendek. Gue juga heran nih, padahal ibunya aja (Henidar Amroe) blasteran gitu. Tidak ada laki-laki yang mau menjadikan Laisa sebagai istri bahkan seorang ustadz sekalipun. Tapi Laisa tidak peduli, dia tetap menjalani kehidupannya hingga akhirnya seorang teman Dali, Darma (Rizky Hanggono), mendekatinya. Keduanya pun menjadi dekat. Gue nggak terusin ah ceritanya kayak gimana antara Darma sama Laisa. Yang pasti, adik-adik Laisa semuanya menikah dan punya pasangan yang putih-putih semua kulitnya, apalagi di Yasinta. Seorang pemuda bernama Goski atau siapalah itu, pemerannya Mike Lewis, akhirnya berpacaran dengan si bungsu.

Cerita film ini sih menarik, tapi menurut gue adaptasinya nggak begitu bagus. Banyak scene drama yang terlalu panjang sampai agak membosankan juga selama 2 jam melihat itu. Karena gue rasa banyak sisi lain yang bisa dieksplorasi lagi. Dari judulnya aja Bidadari-Bidadari Surga, kenapa fokusnya hanya di Laisa, siapa bidadari-bidadari yang lain? Ibunyakah dan Yasinta? Tapi peran keduanya itu terlalu minor.

Lalu soal pemainnya yang blasteran, gue heran aja, banyak lho aktor dan aktris lokal yang juga berkulit putih, bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan bisa belajar berbicara dengan logat kedaerahan yang kental ketimbang Nadine dan Nuno itu. Apa demi mendongkrak film jadi harus yang jual tampang yang main? Kan udah ada Nirina di sini bagus banget didukung sama make-up yang membuat gue melongo, serius ni Nirina?

Secara keseluruhan, film ini bolehlah menjadi alternatif tontonan daripada nonton film horor yang nilai pembelajarannya rendah. Nggak sampai gue rekomendasikan sih, tapi not too bad.

Yogyakarta, 13 Desember 2012

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Comments are closed.