Big Little Lies (2017-); Serial TV Tentang Sebuah Pembunuhan dan Persahabatan di antara Ibu-Ibu Muda

Lies
Big Little Lies (2017-). Sumber gambar: IMDB

Big Little Lies sudah sering saya dengar gaungnya dari twitter dan saya pikir awalnya adalah semacam spin off Pretty Little Liars. Salah besar. Pretty Little Liars mengangkat kisah tentang satu geng remaja dan misteri pembunuhan seseorang yang mereka kenal. Big Little Lies adalah tentang satu geng ibu-ibu muda dan pembunuhan seseorang yang mereka mereka kenal. Dan baru di episode paling terakhir yaitu 7, barulah kita tahu siapa yang terbunuh, siapa yang membunuh, mengapa membunuh, dan bagaimana membunuhnya. Semuanya berkaitan. Jangan langsung nonton episode terakhirnya. Kamu juga toh pasti harus nonton 6 episode produksi HBO ini secara runtut. Jawaban-jawaban di bagian penutup anggaplah sebuah kejutan klimaks. Kita disuguhkan dengan sejumlah misteri dan kegerian yang tidak kalah asyiknya di setiap episode yang berdurasi 50 menitan. Dan dugaan-dugaan, siapa yang sedang berbohong.

Big Little Lies diangkat dari sebuah novel laris karya penulis Australia, Liane Moriarty. Dan didanai salah satunya dari kursi produser eksekutif adalah Nicole Kidman (The Hours), dengan beberapa nama lain sebut saja Reese Witherspoon (Hot Pursuit), Per Saari, David E. Kelly, dan Jean-Marc Vallee. Nicole dan Reese memegang peran utama. Shailene Woodley (Divergent, The Fault in Our Stars ) menambah deretan aktris manis yang membuat saya betah menonton setiap episodenya meskipun pada awalnya saya perlu menyesuaikan diri dengan penceritaan yang begitu misterius.

Serial ini dibuka dengan hadirnya sepasang polisi di sebuah TKP sebuah acara pesta yang dihadiri puluhan orang tua murid. Kita tidak diperlihatkan siapa yang tewas, tapi bisa tahu apa yang terjadi pada si korban. Lalu kita dibawa pada deretan testimonial yang menyebut nama Madeline (Reese) dan komentar-komentar yang terkadang melebar hingga ke penilaian pribadi dan paling besar punya alasan menjadi pembunuh di antara orang-orang terdekat Madeline.

Madeline adalah seorang ibu dari kalangan kelas atas yang memiliki dua putri. Satu adalah Abigail, dan yang kedua adalah Chloe. Di hari orientasi Chloe, Madeline berkenalan setelah ditolong oleh Jane Chapman saat kakinya keseleo. Jane adalah tokoh favorit saya di sini. Penampilannya sederhana, sporty, dan low profile, tapi sangat baik. Itu sebabnya dia bisa dekat dengan Madeline dan Celeste yang datang dari kalangan kelas atas.

Di hari pertama orientasi, Amabella, putri dari orang berpengaruh di sekolah, Renata Klein, mengaku kalau dirinya dicekik seorang siswa hingga meninggalkan bekas di lehernya. Dia menunjuk Ziggy, anaknya Jane. Saya nggak terima dong. Eh, salah ya. Jane nggak terima anaknya dituding begitu, meskipun dia ragu. Banyak kilasan dalam film ini yang akan membuat saya berpikiran sama dengan Renata, bahwa Ziggy ini abuser, tidak hanya penderita sleepwalking biasa. Masalahnya, Ziggy bertingkah sangat manis di depan ibu dan teman-teman ibunya. Dia selalu mempertanyakan ayahnya yang tak pernah mau diceritakan Jane. Jane punya pengalaman pahit. Dia pindah ke Monterey pun demi memulai hidup baru, untuk melupakan masa lalunya, lelaki yang sepatunya meninggalkan bekas di pasir pantai. Jane memiliki senjata dan berlatih menembak. Suatu hari jika dia bisa menemukan lelaki yang hanya sekali tidur dengannya itu, memberi nama palsu, dan menghilang begitu cepat, mungkin bisa mengakhiri hidup lelaki itu, jika benar punya keberanian.

Lalu apa masalah Madeline? Dia perempuan yang sempurna di mata orang-orang. Bermartabat, punya jiwa sosial yang tinggi, lawan seimbang bagi Renata yang congkaknya bukan main. Dia menikah dengan Ed (Adam Scott-Parks and Recreation) setelah bercerai dengan ayah Abigail. Nathan seperti masih mengiang dalam ingatan Madeline. Madeline tidak pernah menyukai Bonnie (Zoë Kravitz-The LEGO Batman Movie), istri kedua Nathan. Ed cemburu dan mengira dirinya tidak bisa menjadi lelaki satu-satunya di hati Madeline. Terlebih, dia terkesan kurang manly karena bekerja di rumah sebagai web programmer merangkap tugas parenting lebih banyak ketimbang sang istri.

Celeste, tokoh yang di satu sisi ingin meninggalkan sang suami yang kerap melakukan tindakan kekerasan, meski pada akhirnya diakhiri dengan percintaan yang liar. Setiap kali Nicole Kidman muncul di layar, dengan setting di dalam rumah, penonton akan hafal dengan sendirinya, akan ada adegan pemukulan dan seks kilat. Celeste dan Perry (Alexander Skarsgård-The Legend of Tarzan) pernah menemui konselor pernikahan, tapi Perry masih saja mengulang-ngulangi kebiasaan memukul. Mereka punya anak kembar yang cakep-cakep, Josh dan Max. Anak-anak ketiga ibu-ibu ini satu sekolahan.

Beberapa hal yang saya sukai dari serial ini adalah cara pengambilan gambar, atau mungkin editing yang sangat cepat memindahkan satu adegan ke adegan lain, satu tokoh ke tokoh lainnya. Semoga bisa dapat Golden Globes. Juga dengan playlist yang mengiringi adegan demi adegan. Dan tidak ada satu lagu pun yang familiar buat saya, seingat saya begitu. Lagu-lagu lama. Tidak ada The Chainsmoker.

Saya suka dengan emosi yang dikeluarkan tiap tokoh. Kemarahan Jane yang tidak bisa disalurkannya sampai habis tuntas selama bertahun-tahun. Oke, dia berlari untuk membuang energi, tapi bayang-bayang ayah Ziggy yang samar-samar selalu muncul dan menjadi mimpi yang terus datang dan datang. Dia sangat protektif pada Ziggy. Harta satu-satunya yang paling berharga. Dia tidak sampai lari pada alkohol seperti kedua temannya jika sedang ada masalah.

Saya suka bagaimana Madeline memperjuangkan pertunjukan yang nyaris dibatalkan karena beberapa pihak keberatan dengan konten seksualnya. Bagaimana dia selalu bersikap anggun di depan Renata yang menyebalkan. Bagaimana Madeline meyakinkan Ed  bahwa pernikahan mereka bahagia, tidak hanya di mulut belaka. Bagaimana menghadapi putrinya yang beranjak dewasa dan mulai merasa tidak cocok dengan sang ibu.

Saya suka perjuangan Celeste yang bertahan dalam kondisi rumah tangga yang menyedihkan. Suaminya tampan dan tergila-gila padanya. Mereka saling cinta. Tapi ada duri di antara mereka. Perry adalah seorang ayah yang baik, tapi bukan suami yang selalu lembut. Bagaimana dia perlahan mencoba untuk mengambil sikap, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga masa depan anak-anaknya yang bisa jadi meniru perilaku sang ayah.

Dan saya tidak tahu mana saja yang sebenarnya adalah kebohongan. Apakah kita harus percaya dengan ucapan tokohnya, atau percaya dengan adegan yang ada. A perfect life is a perfect lie. Saya perlu membaca bukunya. Pasti ada bagian-bagian yang tidak diangkat ke layar televisi. Termasuk mengapa Ed kehilangan jenggotnya di episode terakhir. Oh come on, it’s not a spoiler!

Kabarnya, Nicole Kidman sudah mendapatkan hak untuk mengadaptasi novel Liane Moriarty yang berjudul Truly Madly Guilty. Kita tunggu aja bakal seseru apa.

Trailer Big Little Lies (2017-):

 

Jogja, 27 April 2017

Leave a Response