Blame on blah blah; Apa Aja Tentang Kerjaan Kantor

Blame on blah blah. Setiap hal yang tidak menyenangkan bisa jadi butuh tempat untuk pelampiasan. Meski itu tidak mneyelesaikan masalah.

Gue dan teman-teman gue harusnya siap-siap menuju Karimunjawa untuk acara liburan yang disponsori kantor. Tapi apa daya ketika sore tadi, pihak travel agent melaporkan kabar buruk di mana laut tiba-tiba tidak mengizinkan dirinya untuk diseberangi. Yeah, dengan senjata andalannya, yaitu ombak, semua rencana yang sudah dipersiapkan dari bulan kapan itu pun terpaksa dibatalkan. Ini adalah reschedule kedua, harusnya bulan Februari lalu kami berangkat ke sana.

Huff, bete, itu jelas. Meski cuma rombongan yang terdiri dari 6 orang, tapi ngurus sana-sininya capek. Gue mengira begitu lepas bulan Februari maka gue bakal bisa say goodbye sama yang namanya badai. Gue bahkan memantau cuaca laut di utara Jawa dan nggak ada tanda-tanda ombak besar.

Blame on blah blah; Apa Aja Tentang Kerjaan Kantor
Sumber gambar: wisperink.deviantart.com

Ok, trus mau sampe kapan nih betenya? Sampe bener-bener bisa liburan sesuai rencana? Wah gile ye lama bok, paling enggak ya 1-2 bulan lagi. Atau gue harus nyari kambing hitam? Mo nyalahin laut? Ombak? Tuhan? (heh!)

Oke selama di kantor gue berusaha calm down, ikut ketawa ama teman-teman gue sampai perut sakit, tapi ya berapa lama sih tahan bermuka dua gitu?

Ya gue emang childish (dikiiiiit), karena seharusnya gue justru bisa santai dong, abis gajian nggak harus nyiapin budget buat jalan-jalan. Oh ya gue kabarin dikit soal 3 peserta ke Karimun. Mereka ini adalah 3 dari 30 pemenang lomba Traveling Note Competition. Dua dari Jakarta dan 1 dari Surabaya. Ketika gue mengabari hal ini, 1 orang dari Jakarta nyante aja. Peserta kedua kecewa banget karena doski mesen tiket kereta promo sehingga nggak bisa refund (duh!), dan yang satu lagi malah seneng karena dia bilang akhir-akhir ini lagi sibuk dengan dateline. Dari kantor, ada 2 teman yang juga ikut. Yang satu senang karena dia bisa nonton el clasico dan yang satu nyante karena dia cuma ngikut doang.

Hm dan gue? Gue harus gimana? Jujur gue agak panik. Kenapa? Karena gue punya agenda kantor untuk April dan Mei. Bulan April gue dijadwal ke Jakarta untuk training sama sebuah distributor buku dan itu entah tanggal kapan. Dan Mei gue ke Bali. Lah trus yang ke Karimun ini enaknya kapan? Katanya sih mending nunggu musim kemarau. Tapi helloooo, apa ombak itu ngerti musim? Apa begitu ganti musim trus doski jadi jinak selama paruh tahun? Enggak juga. Sempat terpikir untuk ke Bromo tapi ternyata pake jasa travel agent itu mahal gella. Kecuali mau backpakeran. Doh kalau sendirian sih gue oke, ini bawa tamu kantor bok. Apa iya mau diajakin ngebolang, ih gue males. (Pengen sih tapi ah gimana ya *labil *plaaakk)

Konsekuensi dari penundaan ini adalah mundurnya penerbitan buku Traveling Note Competition yang gue sempat lihat di jadwal itu bulan April. Ya sebenernya bukan urusan gue juga, secara itu nggak berhubungan dengan imprint yang gue urus.

Oh ya, di kantor gue megang imprint buku khusus remaja. De TEENS namanya. Bisa dibilang (boleh gue rada songong nggak) ini adalah imprint paling stylish. Yang paling seneng tuh tim desainer, mereka jadi nemuin ladang untuk berkreasi. Ya begitulah gue membawa karakter diri gue ke dalam kerjaan. Banyak aturan yang kaku gue ubah, dan membuat para senior geleng-geleng kepala. Tapi dalam konteks ini, gue punya patokan tersendiri, ga asal-asalan nentuin ini itu. percaya deh. So breaking the habit is only one way to change the world.

Patokan kreasi gue buat de TEENS adalah Gagas Media. Penerbitan ini emang nomor satu untuk buku-buku remaja, bahkan konon katanya belum bisa tersaingi oleh kompetitor mana pun. Gagas media itu punya komandan seorang cewek tangguh bernama Windy Ariestanty. Dia punya tim yang otaknya encer semua dan solid. Sementara de TEENS masih bayi, merangkak aja belom bisa. Dan gue sebagai komandan di sini punya tanggung jawab untuk memberi napas (ceile bahasa gueeeee) hingga produk-produknya bisa satu rak sama buku-buku Gagas Media di toko-toko buku. Ya setidaknya raknya nggak jauh-jauh amat deh.

Oh ya, gue cerita dikit deh. Tadi siang gue tuh maen (sebenernya lebih tepat disebut survey pasar) ke Gramedia Sudirman. Di sana gue selain nyari referensi cover buku, gue juga ingin memastikan buku-buku de TEENS ada stoknya. Ya, emang ada, tapi di rak yang nggak seharusnya. Beda genre. Gue langsung nontak bagian marketing nih, kok bisa gitu. Dan gue pun baru tahu kalau display buku yang ngatur adalah checker bukan pegawai Gramedia. Kalau cuma perkara mindahin buku mah gampang. Checker adalah orang yang dipekerjakan DIVA juga untuk memastikan display nggak dirusak sama checker kompetitor. Katanya sih kalau di Jakarta, para checker antar penerbit bisa ampe maen otot lho. Ya posisi display ikut menentukan dalam laku nggaknya buku lho, itu bocoran dari marketing. Dan kalau posisi tepat, maka lebih besar omzet yang dihasilkan. Because ini bukan perkara jualan buku dan pasrah, tapi meraup untung sebesar-besarnya.

Eh gue kok ngomong ke sana sini ya? Biarin deh, Gue lagi butuh pelampiasan aja. Jadi ntar bisa tidur dengan nyenyak. Oh ya, ngomong-ngomong soal asal-usul, gue bisa dibilang punya metamorfosis paling keren di kantor. Gue diterima pertama kali itu sebagai editor. Kemudian, dengan hobi online, gue dijadiin admin online. Gue kemudian resmi jadi salah satu redaktur pelaksana per 1 Januari 2013. Gue sih sebenernya nggak begitu cocok sama posisi yang sekarang, karena gue nggak alay. Sumpah, gue orangnya “dingin” sementara untuk bisa menyentuh remaja, gue harus punya karakter sebaliknya. Tapi sejauh ini, gue bisa beradaptasilah. Bos gue juga udah tau gue kayak gimana dan soal profesionalitas, gue bisa diandalkan. Satu kekurangan gue adalah, gue bukan tipe yang bisa loyal sama kerjaan. Maksud gue gini, ketika gue dituntut untuk menyediakan waktu siang dan malam untuk kantor, I will refuse. No. Okelah, siang gue buat pekerjaan, malam itu buat gue dan kehidupan gue yang lain. Kapan coba gue bisa nulis kayak gini, bisa ngumpul ama teman-teman gue, bisa nonton film, dan sebagainya kalau bukan malam hari. Life is all about balancing life. Gue yakin, ada banyak jalan untuk mendapatkan ide-ide baru. Gue duduk di keramaian, gue naek motor, gue ngobrol sama temen-temen gue, gue jalan-jalan, semuanya bisa jadi ide. This is my way.

 

@tamanjeckafe, Jogja, 28 februari 2013, 21.36 WIB

Leave a Response