Blue is the Warmest Color (2013); Film Percintaan Panjang Remaja Prancis

Blue is the Warmest Color (2013); Film Percintaan Panjang Remaja Prancis
Blue is the Warmest Color (2013). Sumber gambar: IMDB

Blue is the Warmest Color adalah salah satu film LGBT yang mencuat dengan faktor kontroversialnya. Sineas Prancis selalu memberikan sentuhan artistik berbeda ke dalam film dengan sesederhana apa pun inti utama dari ceritanya. Tidak ada yang istimewa dengan cerita cinta antara Adele dan Emma. Mereka jatuh cinta karena pandangan pertama lalu menjalin hubungan lalu berakhir karena kekhilafan salah satu dari mereka, apa lagi sih kalau bukan selingkuh. Film Blue is the Warmest Color yang berdurasi 179 menit ini—semacam nonton film India saja—tidak melulu menyorot tentang percintaan keduanya. Isu LGBT di kalangan pelajar menjadi salah satu sorotan yang merepresentasikan homophobia. Kesinisan dan kebencian yang berlebihan, bahkan terhadap teman yang sudah begitu akrab.

Ada pula isu tentang penolakan privatisasi lembaga pendidikan, yang diwujudkan dalam long march para pelajar dan pengajar. Privatisasi berdampak pada mahalnya biaya sekolah. Sepertinya, pemerintah setempat perlu mencontoh Jerman yang semuanya serbagratisan dan lulusan yang mudah mencari kerja. Tidak hanya itu, profesi seni di mata orang tua yang konvensional masih dianggap tidak bisa dijadikan penghasilan utama. Sedikit kurang beruntung dibandingkan orang-orang yang memilih sastra dan bisa mengajar di universitas. Ada pula pemikiran-pemikiran eksistensialisme yang direpresentasikan dengan halus oleh Emma mengenai kebebasan diri. Adele lebih banyak merepresentasikan keseriusan dalam merencanakan masa depan. Silakna menginterpretasi lebih dalam tentang karakter keduanya berdasarkan dialog-dialog mulai dari yang ringan sampai yang saya sendiri tidak paham.

Blue is the Warmest Color berjudul asli La vie d’Adèle rilis pada tahun 2013. Mendapatkan Palme d’Or kembar di ajang Cannes Film Festival, untuk dua aktris sekaligus, Adèle Exarchopoulos (Trouble at Timpetill, Insecure, Les Anarchistes, Down by Love) dan Léa Seydoux (Spectre, Beauty and the Beast, Mission Impossible, The Lobster). Ini pertama kalinya terjadi dalam sejarah Cannes 2013.

Sebagai pasangan, saya akui chemistry antara Emma dan Adele terbilang menyatu sedari awal. Tidak banyak adegan ranjang yang mereka lakukan, tapi asal tahu saja, pertama kali adegan bercinta berdurasi 7 menit. Naked tanpa penutup selimut. Sama saja dengan menonton semi-porn, hanya saja sutradara bisa menampilkannya dengan artistik yang pas sehingga penonton tidak perlu merasa mual-mual. Perkembangan hubungan keduanya juga terasa alamiah. Emma sibuk dengan pekerjaannya, dan Adele frustrasi dengan mengasuh anak-anak. Itu konflik yang alamiah terjadi ketika hubungan dirasa sudah sama-sama nyaman. Di satu sisi, Emma terlalu tampan dan ramah. Senyumannya itu menarik. Adele seorang remaja yang masih mencari jati diri. Pernah jalan tidur dengan kakak kelasnya namun tidak jatuh cinta. Dengan Emma, dia merasakan sensasi yang berbeda.

Kesederhanaan ide film Blue is the Warmest Color memang tidak sanggup mengalahkan film asal Italia: La grande bellezza untuk meraih Best Foreign Language Film dalam ajang Golden Globes 2014. Tapi paling tidak, setidaknya menurut saya sih, Emma ini bisa menyamai kekuatan karakter Shane McCutheon soal menaklukkan hati perempuan.

Perkara apakah warna biru memang benar warna yang paling hangat, mungkin Anda bisa menemukan jawabannya dalam film Blue is the Warmest Color.

Trailer Blue is the Warmest Color:

Yogyakarta, 1 Mei 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response