Bukit Klangon; Tempatnya Para Pesepeda Downhill Bersenang-senang

Bukit Klangon; Tempatnya Para Pesepeda Downhill Bersenang-senang
Bukit Klangon. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Di hari Minggu, mobil-mobil pick up berbondong-bondong menuju Bukit Klangon, dengan muatan sepeda-sepeda yang akan dipakai downhill. Dari titik start, jika hari cerah, kita bisa melihat puncak Gunung Merapi yang kroak dan pegunungan di sekitarnya. Jika tertutupi kabut, tunggulah sejenak sampai dia terlihat lagi. Orang-orang yang datang tidak hanya untuk kesenangan menuruni bukit melewati jalan setapak, melewati kebun-kebun penduduk setempat, mengendarai sepeda gunung khusus. Saya sih belum melihat ada yang memakai cyclocross.

Saya salah memilih belokan, sehingga berakibat nyasar entah ke mana-mana. Padahal, jika mengambil belokan di sebelah barat Candi Prambanan, tinggal lurus saja maka akan sampai ke tempat tujuan. Ketika pulang, barulah saya tahu. Saya mengambil belokan sebelumnya sehingga agak bingung ketika mencocokkan dengan Google Map. Sering saya harus memutar balik karena jalan di depan bukan ke arah Bukit Klangon.

Saya berangkat dari kosan jam 8, tapi jebakan macet menjelang flyover Janti menghambat saya hampir sejam lebih. Saya baru bisa sarapan di sebuah warung nasi uduk seberang SPBU sebelum Candi Prambanan.

Lagi-lagi, jika saya tidak salah mengambil jalan, tidak perlu nyaris 2 jam mencari-cari Bukit Klangon. Jalanan juga tidak begitu menanjak, menurut saya yang naik motor, tapi begitu melihat pesepeda yang menuntun sepeda, tentu pendapat mereka akan berbeda.

Jalanan terbilang baik, meski tidak mulus sempurna. Ada yang beraspal, ada yang coran. Saya hanya perlu membayar tiket parkir 2.000. Tidak ada tiket masuk sama sekali, padahal pengunjung cukup banyak ketika saya datang. Dan ternyata, ada pos retribusi yang entah kenapa saya tidak temui. Sewaktu pulang, saya melewati pos tersebut. Ini mungkin hikmah salah ambil jalan.

Saya tiba sudah pukul 11.00. Merapi terlihat jelas tapi puncaknya kadang tertutup kabut. Ketika difoto, puncak itu kadang tak tertangkap kamera. Bukan gaib, tapi perkara pencahayaan semata. Di dekat tempat parkir ada spot untuk selfie, tapi saya tidak berminat ke sana. Saya memilih naik ke bukit di mana si Merapi bisa terlihat dengan angle lebih ciamik, sekaligus saya mau melihat pesepeda yang downhill. Jangan salah, di tengah hari pun, masih ada 1-2 pick datang men-drop sepeda. Mungkin mencari waktu yang lebih sepi karena pagi hari pastilah padat.

Kemarau ini, tanahnya menjadi kering dan berdebu. Gesekan ban sepeda dengan tanah membuat debu-debu itu naik ke udara. Saya kembali mengenakan masker ketimbang hidung saya tersumbat debu. Berlebihan ya?

Sepeda-sepeda di-drop kemudian para pesepeda membawanya ke titik start berupa rumah-rumahan dari bambu dengan jembatan untuk naik dan meluncur turun lalu menyusuri rute yang tersedia dengan kontur bergelombang hingga sepeda-sepeda itu bisa terlihat melayang-layang. Menggiurkan memang untuk mencobanya sendiri. Tapi saya belum punya nyali.

Berlama-lama di Bukit Klangon bukanlah ide yang bagus. Panas sekali dan saya yakin sublock di muka saya sangat terbatas durasi perlindungannya. Setelah memastikan kamera saya sudah mengambil gambar-gambar yang layak untuk diposting di blok, sejam kemudian saya pun memutuskan meninggalkan Bukit Klangon.

Oh ya, fasilitas mushala, toilet, tempat berjualan makanan ada di sana. Saya tidak tahu soal harga makanan dan minumannya. Berhubung masih kenyang, saya belum terdorong untuk mampir di salah satu warung. Kalau mau piknik, membawa rombongan besar, ada gazebo yang bisa dimanfaatkan. Di rerumputan juga asyik kok.

Oh ya, kalau kamu suka downhill dan lagi main ke Jogja tapi nggak bawa sepeda, tinggal sewa aja di Bike Camp Adventure.

Jogja, 27 Agustus 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response