Buku Laris dan Euforia Penulis yang Berlebih-lebihan

Buku Laris dan Euforia Penulis yang Berlebih-lebihan
Buku Laris. Sumber gambar: pixabay.com

Ehm ya, buku laris itu impian semua penulis. Karya yang dihasilkan dengan susah payah, melewati sekian banyak proses, ketika dilempar ke pasar dan voila! Laris!

Ngikutin News Feed di facebook bukan hobi saya. Ya, saya pengguna facebook, tapi abangan (ceileh). Karena saya merasa bukan orang penting di mana orang akan mencari saya lewat jejaring sosial itu untuk menanyakan hal-hal seputar pekerjaan. Dan kalau pun aktif, itu hanya komunikasi dengan sejumlah teman dekat, sesekali. Posting foto sudah semakin jarang karena aktivitas traveling banyak menurun.

Tapi sore ini, saya tersenyum karena melihat sebuah postingan foto dari seorang penulis yang (tampaknya sangat) bangga jika karyanya diletakkan di rak buku laris. Ehm ya, buku laris impian semua penulis. Karya yang dihasilkan dengan susah payah, melewati sekian banyak proses, ketika dilempar ke pasar dan voila! Laris!

Tapi tunggu dulu, buku laris versi toko buku atau nasional? Bedanya apa? Versi toko buku, misalnya satu judul buku yang distok bisa dari 5-100 eksemplar (tergantung toko buku yang bersangkutan sih) habis dalam waktu cepat. Untuk nasional (bahkan internasional) tentu lingkupnya lebih global.

Contohnya untuk penjualan Harry Potter:

Novel Harry Potter and the Deathly Hallows, the seventh – and final – terjual 8,3 juta eksemplar dalam 24 jam pertama (atau 345.833 buku per jam), setelah rilis di Amerika Serikat pukul 00.01 pada 21 Juli 2007. (sumber: sourceflame.com)

Bagi JK Rowling, hal seperti ini sudah bisa ia prediksi. Siapa coba yang nggak nungguin seri terakhir si penyihir muda berkacamata bulan dengan bekas bentuk petir di dahinya?

Kembali ke orang yang tadi saya bahas. Oke dia mau heboh dan menyebut buku laris versi entah mana, buat saya nggak masalah. Saya punya data lengkap mana buku yang penjualannya tertinggi sampai yang 0 eksemplar. Kalaupun memang ada buku dengan penjualan tinggi yang signifikan di banyak titik (toko buku dalam konteks ini), marketing tentu akan secara khusus mengabarkan saya untuk follow up. Buku itu kan asal usulnya dari penerbit, diurutkan lagi maka akan sampai di redaksi. Redaksi yang bikin barang, marketing yang jualan. Simbiosisnya seperti itu.

Maksudnya seperti ini, buku A, ketika laporan penjualan nasional bulan lalu diterima  lalu menunjukkan angka sebut saja 700 eksemplar, marketing akan langsung bertanya, siapa penulis ini dan dia punya naskah lain nggak yang belum terbit. Kalau iya, kalau bisa segera diterbitkan. Kalau tidak, ya diusahakan supaya ada. Tugas saya adalah mengejar orang itu supaya naskah lainnya bisa diterbitkan dalam selang waktu dekat.

Selain itu, proses penyebaran buku tidak ada yang hanya dalam sekejap mata. Untuk setiap buku reguler (kita bicara di luar konteks karya milik orang-orang yang sudah punya nama besar dan fans ratusan ribu orang ke atas), butuh waktu penyerapan pasar (istilah populernya demikian) rata-rata 2 bulan ke atas. Ada penjelasan tentu saja mengapa bisa sampai selama itu.

Pertama, untuk waktu distribusi ke seluruh Indonesia butuh 2-4 minggu, kemudian ada waktu display di toko, dilihat, lalu dibeli orang. Cetakan pertama buku-buku DIVA adalah 3000-4000 eksemplar (tergantung kesepakatan yang tertulis di dalam MoU). Jumlah segitu akan dibagi ke sejumlah toko buku baik moderen maupun tradisional. Moderen itu contohnya adalah Gramedia, dan tradisional adalah Toga Mas. Orang yang akan membeli buku itu ada 2 jenis, yang memang sudah tahu info tentang keberadaan buku itu, atau yang sedang ke toko buku lalu tertarik untuk membeli.

Jika beruntung, posisi buku akan selalu di display utama, dalam arti, yang mudah dilihat oleh para pengunjung toko buku. Tapi jika dalam perjalanannya buku itu tidak banyak dibeli atau di bawah standar jumlah yang ditetapkan toko, jangan heran kalau seminggu kemudian petugas toko buku akan memindahkan ke bagian rak yang bisa jadi tidak dilihat orang ketika sedang jalan-jalan. Semakin nggak jelas nasibnya buku itu. Dan jika benar-benar tidak laku, tinggal pasrah aja buku akan diretur ke ke penerbit. Kalau sudah diretur, butuh syarat-syarat khusus sampai buku itu bisa nangkring kembali di toko buku, antara lain permintaan costumer akan produk tersebut. Yah itulah sedikit cerita perjuangan sebuah buku di toko yang di luar orang-orang penerbitan tidak paham betapa beratnya.

Saya menceritakan semua ini supaya orang tidak dengan mudah berkoar-koar buku laris, kalau ternyata hanya habis terjual 20 eksemplar sementara 3 ribuan eksemplar lainnya masih ada di gudang toko atau bahkan penerbit yang bersangkutan. Contohlah Raditya Dika yang semakin karyanya laris, semakin dia tidak berhenti berkarya. Dia punya potensi dan tahu potensi itu tidak akan habis jika terus dikembangkan. Ini teladan yang sangat ideal tentunya buat para penulis baru di luar sana.

 Pagi hari di Jogja, 6 Oktober 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response