Bunga Ngarot yang Menjadi Layu; Hilangnya Keperawanan Seorang Gadis pada Suatu Hari

Bunga Ngarot yang Menjadi Layu; Hilangnya Keperawanan Seorang Gadis pada Suatu Hari
Bunga Ngarot yang Menjadi Layu. Sumber gambar: pixabay.com

Karya kelima belas yang akan saya bahas kali ini berjudul Bunga Ngarot yang Menjadi Layu karya Frida Kurniawati. Jika Umar Affiq membawa kita menjauhi ibu kota ke sisi timur Pulau Jawa, Frida membawa kita ke barat, tepatnya Indramayu. Daerah tersebut memiliki sebuah tradisi Ngarot, di mana keperawanan seorang perempuan dapat “terbaca” lewat bunga.

Keperawanan memang masih menjadi perkara besar tidak hanya berlaku di sejumlah daerah di Indonesia dengan adat ketimuran yang kuat. Saya teringat cerpen yang membawa saya resmi menjadi seorang sarjana, berjudul Kaanat Hiyal Ad’af atau Dia yang Terlemah. Dalam cerpen tersebut, ada seorang lelaki cacat yang berhasil mempermalukan pengantin perempuannya dalam tes keperawanan di malam pertama, karena perempuan yang dinikahinya tidak mengeluarkan darah dari vaginanya. Nawal Saa’dawi menyoroti betapa orang-orang Arab di daerah pedalaman masih kurang pengetahuannya seputar selaput keperawanan dan kualitas selaput keperawanan itu sendiri yang berbeda-beda terhadap setiap perempuan. Bahkan tidak selalu selaput dara yang robek mengeluarkan darah. Keperawanan adalah simbol dari kesucian seorang perempuan. Sebab, perempuan itu harus suci. Harus. Karena kalau tidak, dia tidak berhak mendapat pria terhormat.

Sama halnya dengan Kinan yang tahu betul dirinya sudah tidak perawan dan harus mengikuti tradisi Ngarot. Tradisi yang akan membuat semua orang tahu, gadis ini perawan, gadis itu tidak. Gadis ini orang baik-baik, gadis itu kelakuannya bak sundal. Panjang urusannya, dan selalu menjadi pembicaraan orang-orang. Menjadi aib keluarga. Negara kita masih terkurung dalam konsep-konsep seperti itu. Tidak salah, memang, sebab itulah ketimuran kita.

Kualihkan pandang pada catatan yang kuletakkan di atas meja. Kinanthi, penderita skizofrenia paranoid  yang sudah parah. Usia 18 tahun. Menjadi penghuni rumah sakit jiwa ini sejak enam bulan yang lalu. Ini adalah kunjungan pertamaku, sebagai psikiater yang baru ditugaskan untuk memantau kondisinya. Kuulurkan tangan kananku padanya, sambil berujar dengan senyum lebar, “Aku Mala, psikiater yang akan memantau kamu mulai sekarang.”

Cerpen Bunga Ngarot yang Menjadi Layu dibuka dengan pertemuan perdana antara Mala, seorang psikiater, dengan Kinan yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia paranoid. Usia Kinan masih sangat belia untuk mengidap gangguan jiwa seberat itu. Tidak diceritakan sebelum Mala, siapa yang menangani gadis itu, selama 6 bulan sebelumnya.

Kukeluarkan sebuket mini bunga dari saku dalam blazer kremku. Kenanga, melati, bunga kertas warna-warni. Merah jambu, ungu, kuning, oranye. Masing-masing bunga satu tangkai.

Aku menjerit seketika. Perempuan itu telah berada di depanku, tangannya terulur, merenggut bunga-bunga itu. Cengkeramannya menggugurkan kelopak-kelopak, menciptakan pola tak beraturan warna-warni di lantai putih.

Mala melakukan sebuah kesalahan besar ketika dia yang baru pertama kali menemui Kinan namun sudah membawa benda-benda yang membawa gadis itu pada kenangan buruk. Komposisi buket bunga yang dibawanya mirip dengan apa yang pernah terpasang di kepala Kinan saat mengikuti tradisi Ngarot. Hingga di sini saya merasa ada yang janggal dengan sosok Mala. Apakah dia memang seorang psikiater atau seseorang yang menyamar sebagai psikiater untuk berbicara pada Kinan?

Di bagian depan, mengitari tepian dahi saya, melati demi melati ditancapkannya. Ke belakang, naik ke atas, ia menata sederetan bunga kertas warna merah jambu, kemudian bergilir warna ungu, warna oranye, dan kuning.

Bukan karena tak sabar akan dimulainya kirab Ngarot. Bukan, melainkan karena sesuatu yang saya pendam di balik lidah, berharap mereka tak bisa mengintipnya.

Mengintip yang dimaksudkan Kinan adalah hal yang sangat pribadi dan seharusnya orang lain tidak perlu tahu. Tradisi mengharuskan orang banyak tahu. Tapi orang-orang tidak menyadari, bunga-bunga Ngarot tidak bisa berbicara apa-apa. Mereka hanya menunjukkan dengan layunya atau tidak. Mereka tidak mampu menjelaskan mengapa seseorang kehilangan keperawanan. Ingat dengan Topi Seleksi di Hogwards yang akan menentukan di asrama mana mereka akan berada? Topi itu hanya memilih tapi tak bisa menjelaskan. Seperti pula pada ujian pilihan ganda, hanya memilih tapi tak usah menjelaskan. Padahal, memilih dan menjelaskan harusnya menjadi satu paket tak terpisahkan. Karena setiap pilihan akan selalu ada konsekuensi di belakangnya.

Malah, sedetik kesyahduan terperenyak di sudut hati kala pandangan saya berengkuhan dengan sepasang mata milik Marwan. Lelaki itu berada di antara para perjaka lain, seperti saya berada di antara para perawan…. Marwan sepantaran dengan saya. Bentuk wajahnya lonjong, dengan dagu lancip yang mulai ditumbuhi rambut-rambut tipis, pun di atas bibirnya.

Kita diperkenalkan kepada sosok pemuda bernama Marwan. Penggambaran wajahnya khas lelaki Sunda pada umumnya. Kaum lelaki tentu saja tidak akan pernah mengikuti tradisi Ngarot. Apa pentingnya keperjakaan pada lelaki? Siapa yang merasa perlu tahu, maksud saya. Mau perjaka atau tidak, ada hal yang lebih penting, mereka bertanggung jawab pada keluarga atau tidak. Lelaki yang membuat aturan dalam adat, tentu saja tidak mau dirinya direpotkan. Mungkin juga, karena kaum lelaki merasa keperjakaan itu hanyalah hal kecil dan tak perlu dibesar-besarkan.

Perlahan, jari kami bertemu. Marwan menautkan jemarinya pada rengkuhan jemari saya. Selama beberapa saat, kami berpegangan tangan seperti itu sambil memandangi bulan. Jarinya kemudian menyabdakan rabaan. Bibirnya mendekat, napas kami saling bergelut.

Marwan dan saya sudah saling mengenal sejak balita. Kami teman main sejak kecil, sebelum akil balig mengambil alih pertemanan, dan menebar jarak di antara kami.

“Lihatlah, bunga Kinanthi ada yang layu!”

Pertemanan semenjak kecil yang berlanjut hingga dewasa, menghanyutkan keduanya hingga melewati batas wajar yang ditoleransi masyarakat setempat. Mereka berdua-duaan di sebuah malam yang syahdu, di tempat tersembunyi, hingga berakhir dengan sebuah percintaan rahasia. Lalu rahasia itu terbongkar tidak lama setelahnya, di depan orang-orang.

“Seharusnya Bapak tidak usah menyuruh Kinan ikut acara Ngarot, Pak.”

“Aku awalnya tidak terlalu percaya, Bu. Awalnya kukira mitos belaka. Dan mau ditaruh di mana martabatku sebagai kuwu desa jika anak gadisku tidak ikut acara ini?”

“Cukup, Pak! Yang Bapak pikirkan memang melulu martabat kuwu desa! Apa Bapak pernah sekali saja memikirkan betapa menderitanya Kinan setelah yang ia alami?”

Ketidakperawanan Kinan memicu pertengkaran kedua orang tuanya. Di satu sisi, sang ayah yang menjabat kepala desa merasa fakta putrinya sudah tidak perawan mencoreng mukanya. Sementara sang ibu membela putrinya. Di sini, kita diajak untuk menganalisis ada sebuah fakta lain yang masih disembunyikan. Ucapan: “…menderitanya Kinan setelah yang ia alami?” Mengapa Kinan sampai pada tahap penderitaan sementara apa yang dilakukannya dengan Marwan adalah atas persetujuannya dan unsur suka sama suka. Kejadian apa yang menimpa Kinan?

Saya masih tak paham ketika tangan-tangan menyeret saya. Lalu mereka menampar saya saat saya mulai menendang-nendang sambil berteriak minta tolong.

“Diam kamu, Cina! Tidak ada yang akan menolongmu!” bentak seorang laki-laki sambil tersenyum lebar hingga barisan geligi kekuningannya kelihatan.

“Saya bukan Cina, saya Sunda! Tolong, lepaskan saya!” teriak saya sambil menangis. Ujung jari, bibir, dan lutut saya gemetaran.  

Di Indonesia, kulit putih dan mata sipit tidak hanya milik keturunan etnis Cina. Mereka yang tidak bisa membedakan, memang sepertinya sering bolos pelajaran sosiologi di sekolah maupun mata kuliah etnografi di kampus. Orang-orang Sumatra yang bertampang “mirip Cina” jumlahnya banyak sekali. Di Jawa juga banyak. Di pulau-pulau lain saya rasa juga pastilah ada. Pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Cina memang sifatnya random. Asal mata sipit dan putih, sikat. Kinan adalah korban salah sasaran, seperti juga dalam cerpen Menjahit Bibir Marie. Pelaku perkosaan lebih percaya pada tampilan fisik ketimbang kata-kata gadis itu, atau boleh jadi si pelaku sebenarnya tahu tapi nafsunya untuk memperkosa sudah tidak bisa ditahan.

Kejadian itu mengguncang kejiwaan Kinan hingga dia harus masuk rumah sakit jiwa dan kemudian bertemu Mala sang psikiater yang langsung dituding ingin merebut anak dalam kandungan Kinan. Frida membawa kita melompat dari satu masa ke masa lainnya untuk sebuah permainan kisah yang apik.

Kisah percintaan Kinan dan Marwan, saya sisakan untuk para pembaca saja ya.

 

Jogja, 21 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response