Bungee Jumping of Their Own (2001): Menunggu Reinkarnasi yang Tepat

Bungee Jumping of Their Own (2001) Menunggu Reinkarnasi yang Tepat
Bungee Jumping of Their Own (2001). Sumber gambar: IMDB

Bungee Jumping of Their Own berjudul asli Beonjijeompeureul hada agak membuat saya ragu memasukkannya pada kategori film LGBT. Setelah berpikir cukup lama dengan mata menyipit dan kening berkerut, saya iyakan saja deh.

Saya jujur saja tidak begitu paham dengan konsep reinkarnasi itu seperti apa. Sederhana alasannya, itu adalah ranah agama lain. Namun jika benar aplikasinya serupa dengan yang ada dalam film ini, seseorang yang meninggal akan lahir kembali dalam jiwa yang sama namun rupa yang berbeda, cukup menarik ya?

Di tengah kesulitan saya menghafalkan nama-nama si tokoh, film-film Korea punya alur cerita yang juga kuat. Oke, saya tidak akan membandingkannya dengan film Prancis deh. Segi sinematografisnya patut dapat pujian. Akting para pemerannya juga yeah, lumayan. Belum ada yang bagi saya bagus banget sampai membuat saya ingin menonton film-film dari aktor yang sama. Padahal secara tampang, mereka lebih minim kerutan ketimbang Isabelle Huppert hahaha.

Bungee Jumping of Their Own adalah flash back seorang guru yang pernah mencintai seorang perempuan namun dia kehilangan tanpa pernah tahu sebabnya. Hubungan Seo In-woo (Byung-hun Lee) dengan perempuan bernama In Tae-hee (Eun-ju Lee) berawal ketika keduanya masih kuliah. Di sore yang hujan, In Tae-hee “memaksa” sepayung berdua dengan Seo In-woo sampe halte bus. Tidak sempat keduanya berkenalan, In Tae-hee sudah naik bus duluan. Berhari-hari Seo In-woo menanti pertemuan keduanya, dan itu lama kemudian baru terjadi. Seo In-woo berbohong jika dirinya adalah mahasiswa bahasa Korea, dan sayangnya ketahuan. Ah itu tidak menjadi masalah.

Hubungan keduanya kemudian berkembang makin dekat dan dekat lalu kita dibawa melompati waktu dari tahun 80-an ke tahun 2000-an. Seo In-woo sudah bertransformasi menjadi seorang guru SMA yang misterius. Di sekolah itu ada seorang siswa yang senang mengusili seorang siswi dan dia juga senang menggambar perempuan telanjang.

Kita akan dibawa terbingung-bingung dengan hubungan antara Kim Chul-Sung (Namgoong Min) dengan Seo In-woo. Itulah sebabnya saya ragu menyebut ini film LGBT. Mengapa Seo In-woo tiba-tiba berubah menjadi penyuka lelaki tanpa ada riwayat sebelumnya? Mengapa Seo In-woo seolah menjadi begitu ingin berdekatan selalu dengan Kim Chul-Sung yang jelas-jelas nggak doyan laki? Keduanya sama-sama straight. Hanya saja, perasaan cinta yang belum selesai menjadi alasan keduanya dekat dan tidak terhentikan lagi.

Seo In-woo pun pernah memeriksakan seksualitasnya. Tidak ada yang bermasalah. Kalau pun dia merasa penasaran dengan laki-laki, itu bukan sesuatu yang patut dicemaskan. Kata dokter. Sementara Kim Chul-Sung lama-lama risih dengan si Pak Guru yang naksir berat sama dia. Rumor bahwa gurunya gay dan naksir padanya jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. Lagi asyik-asyikan main basket eh si Pak Guru datang. Siapa yang nggak emosi?

Cukup lama memang kita harus menunggu sampai jawaban reinkarnasi itu muncul ke permukaan. Setelah penolakan demi penolakan, sampai pada momen di mana jiwa In Tae-hee muncul dan mencari pasangan jiwanya yang menunggu bertahun-tahun di stasiun. Reinkarnasi memang tidak bisa bohong. Keduanya lalu melanjutkan cita-cita yang pernah mereka rancang sebelum terpisahkan tanpa rencana. Saya tidak suka dengan ending-nya. Rasanya, seolah reinkarnasi itu adalah sesuatu yang bisa diatur sehingga kematian hanyalah sebuah batu loncatan untuk kembali ke dunia dalam rupa yang lain. Akan terus berulang jika tidak sesuai dengan keinginan, mati, bangkit, mati, bangkit, mati, dan seterusnya.

Trailer Bungee Jumping of Their Own:

Jogja, 25 Juli 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response