Call Me by Your Name (2017); Cinta di Saat Musim Panas

in Film/Film LGBT by
Call Me by Your Name (2017); Cinta di Saat Musim Panas
Call Me by Your Name (2017). Sumber gambar: IMDB.

Call Me by Your Name mendapatkan 3 nominasi Golden Globes 2018 untuk kategori Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Drama; Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture; dan Best Motion Picture – Drama dengan sejumlah pesaing kuat Dunkirk, The Post, The Shape of Water, dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.

Memenangkan sejumlah penghargaan, antara lain Movie of the Year di AFI Awards, USA 2018; Best Actor dan Ten Best Films of the Year di Boston Society of Film Critics Awards 2017; menang 3 kategori di Chicago Film Critics Association Awards 2017; Gotham Awards 2017; Hollywood Film Awards 2017, dan banyak nominasi yang ditujukan kepada sang sutradara Luca Guadagnino,  Armie Hammer, maupun Timothée Chalamet.

Diadaptasi dari novel karya André Aciman. Call Me by Your Name mendapatkan penghargaan di 20th Lambda Literary Awards tahun 2007 untuk kategori Gay Fiction. Saya belum pernah membaca novel ini baik versi Indonesia yang diterjemahkan menjadi Cinta Terlarang (serambi, 2008), terjemahan bahasa Ibrani, Ceko, apalagi bahasa aslinya.

Menonton film adaptasi tanpa membaca bukunya dahulu punya kelebihan dan keuntungan. Eh, sama ya. Kelebihan tidak membaca bukunya terlebih dahulu adalah, tidak mengharap-harap apa yang sudah terbayang dalam fantasi kita. Adegan-adegan yang kita suka banget eh ternyata di film malah tidak ada. Tokoh yang dalam khayalan kita begini eh ternyata begitu. Di sisi lain, kekurangan ketika tidak membaca bukunya terlebih dahulu adalah, ketika kita merasa ada part yang hilang, atau kok ujug-ujug begini-begitu, ini tokoh namanya siapa perannya sebagai siapa, semalam di mana, berbuat apa.

Termasuk dengan Call Me by Your Name, saya-setelah menonton filmnya dan sebelum membuat tulisan ini-kepo dengan ringkasan dari novelnya. Di Wikipedia ada, ada juga review bukunya versi WN Rahman di sini nih.

Saya menonton Call Me by Your Name sampai dua kali. Pertama, dengan skip-skip karena belum ada subtitle, kecuali subtitle bawaan saat percakapan bahasa Italia maupun Prancis, jujur saya tidak memahami setiap dialognya. Mungkin karena telinga saya bermasalah, ataukah memang tokoh-tokoh ini berbicara tidak dengan pronunciation yang jelas padahal tokoh utamanya orang Amerika. Lalu yang kedua, ketika sudah mendapatkan subtitle dan barulah saya paham akan jalan ceritanya.

Bersetting cerita di Italia Utara, musim panas 1983. Datanglah Oliver (Armie Hammer) seorang akademisi dari Amerika, dia orang Amerika, usianya sekitar 30-an tahun. Bertubuh jangkung, berambut cokelat, memberikan kesan arogan kepada Elio (Timothée Chalamet) saat mengatakan, “Later.” Dia menetap di rumah keluarga Perlman, ayah Elio adalah seorang profesor bidang sejarah, selama enam minggu kalau tidak salah.

Perlman adalah satu-satunya keluarga multiras dengan campuran Yahudi yang disembunyikan dari penduduk lainnya. Tidak dijelaskan kenapa, mungkin di bukunya ada, mungkin juga tidak. Dan Oliver juga seorang pria berdarah Yahudi, saya nggak tahu campuran apa saja yang ada dalam darahnya karena tidak disebutkan di dalam film.

Oliver menempati kamar Elio, sementara Elio di kamar sebelah, dan mereka berbagi kamar mandi. Jangan mengira bahwa di kamar mandi itu mereka akan ada adegan yang diinginkan penonton, atau adegan-adegan ranjang yang ditampilkan secara eksplisit. Sebagai pencinta film bertema gay, saya merasa agak kecewa. Oke, kata “agak” saya hapus deh.

Metamorfosis hubungan antara anak sang profesor sama calon profesor berlangsung lambat dan kadang mereka tiba-tiba saja saling mengambil jarak tanpa ada kejadian yang mampu membuat saya paham akan pemicunya, lalu tiba-tiba sudah akrab kembali. Ini cukup mengganggu saya. Hmm, diganti “banget” gimana? Runtutan-runtutan cerita yang hilang tadi membuat penilaian film yang saya pikir bakal wah, emosional, dan tidak terlupakan jadi berantakan sudah. Meskipun saya paham dengan jalan ceritanya. Tapi untuk sebuah film drama, yang katanya dari novel erotis, tidak memuaskan saya.

Permainan Armie Hammer tidak buruk, saya pun suka dengan bagaimana cara Timothée Chalamet menghidupkan karakter remaja berwawasan sejarah luas, yang jatuh cinta pada pria yang arogan lalu menjadi senang gelendotan manja tiap kali mereka berdekatan tapi di sisi lain memberikan harapan pada seorang gadis Prancis bernama Marzia. Chemistry di antara kedua laki-laki ini terbangun dengan baik. Saya pun menyukai setting tempat dengan panorama pedesaan, rumah yang dikelilingi kebun aprikot dan buah-buahan lain. Oh ya, buah aprikot ternyata bisa dipakai lelaki untuk onani lho. Hm ya ya ya. Kemudian karakter-karakter lain yang mendukung cerita ini, termasuk pasangan gay yang sempat menjadi cameo hingga akhirnya asumsi saya bahwa saat itu pasangan gay masih hidup dalam kerahasiaan terpatahkan begitu saja.

Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah, apa yang sebenarnya Oliver kerjakan selama berada di sana? Dan ketika dia pulang, apakah yang dia kerjakan itu sudah selesai atau bagaimana? Okelah kalau Elio jelas dia punya bakal musik yang cukup mumpuni, dia tipe remaja Italia yang gaul, dia tahu sejarah kota karena ayahnya seorang profesor bidang sejarah. Oliver hanya terlihat sesekali menulis sesuatu, marah-marah, lalu sisanya hepi-hepi.

Pertanyaan terakhir saya adalah, bagaimana ayah Elio bisa tahu kalau anaknya punya hubungan khusus dengan Oliver? Nah!

Trailer Call Me by Your Name:

Jogja, 30 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co