Candi Prambanan; Destinasi Candi Terpopuler di Yogyakarta

Candi Prambanan; Destinasi Candi Terpopuler di Yogyakarta
Candi Prambanan. Sumber gambar: wikipedia.com

Candi Prambanan buat penduduk Jogja seperti gue nggak terhitung kunjungan spesial . Sama halnya kalau berkunjung ke Malioboro, Taman Sari, Keraton, atau Pantai Parangtritis. Tapi bukan berarti situs sejarah seperti ini terlupakan begitu aja.

Hari ini, gue ke Candi Prambanan. Enola alias Alone. Yup. Gue start dari Malioboro (sedikit cuci dompet heheh). Kalau mau ke Candi Prambanan, kebetulan ada Trans Jogja. Naik jalur 1A, cukup bayar 3.000, perjalanan 45 menit, sampai deh di Terminal Prambanan.

Pintu masuk sama terminal ya lumayan jauh kalau jalan kaki. Tapi berhubung hari nggak begitu panas, gue nggak perlu nyewa ojek (karena nggak becek, halah!). Tiket masuk ke Candi Prambanan buat per orangan lumayan mahal, 30.000. Dulu pernah ke sini tapi dibayarin, sekarang baru tahu kalau lumayan juga tuh. Tapi, jangan khawatir, worth it kok, dibandingin masuk bioskop, duduk dalam gelap, cuma ngeliatin layar selama 2 jam, bayarnya sama.
Tiket masuk Candi Prambanan bentuknya itu seperti tiket sekali pakai Trans Jogja, jadi nggak bisa dibawa pulang. Padahal lumayan tuh buat koleksi.

Sebelum memasuki wilayah Candi Prambanan, bagi kaum narsis, silakan foto-foto dulu di air mancur yang ciamik dengan bergaya alay.

Perlu diketahui, area Candi Prambanan sangat luas. Bagi Anda yang selalu dimanjakan dengan kendaraan bermotor atau mobil, mengelilingi wilayah ini pasti bakal membuat kaki Anda pegal luar biasa. Coba saja kalau tidak percaya. Berhubung gue seorang pejalan kaki dan pengendara sepeda yang baik, pegel udah bukan masalah lagi. Oh ya, kalau Anda belum tahu sejarah Candi Prambanan, cek di wikipedia atau sumber-sumber lainnya ya, soalnya gue juga kagak ngarti.

Candi pertama yang akan Anda temui dan bisa terlihat dari jalan besar adalah Prambanan. Yup sebuah situs sejarah yang sangat terdengar gaungnya sebagai candi terindah di dunia, ya walaupun waktu terus menggerogoti keindahan bangunannya. Candi boleh dibilang identik dengan bangunan yang menjulang. Dan untuk pemegang kamera saku seperti gue, untuk mengabadikan keindahannya menjadi agak sulit. Diambil dari jarak jauh, nggak oke. Dari dekat malah ga utuh.

Area Candi Prambanan boleh dibilang titik paling ramai dikunjungi. kalau mau ngambil gambar, pasti deh ada orang yang kena potret. Berhubung pas kemarin agak gerimis, gue pas mau ngambil gambar rada rempong juga, tangan satu megang payung, tangan satu pegang kamera. Tu kamera yang ada cuma pindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Ternyata gue jago juga motret pake tangan kiri (apa sih loh?).

Buat para pencinta fotografi, motret candi emang jauh lebih penting dari pada motret orang-orang narsis. Gue sebenarnya nggak begitu suka sama bangunan-bangunan bersejarah, tapi karena nemu sisi yang keren, ternyata asyik juga ternyata motretnya. BTW, cuma perasaan gue doang apa emang modelnya seperti itu, menurut gue, bangunan Candi Prambanan itu  kok kayak nggak simetris ya? Mungkin memang karena ada beberapa bagian candi yang udah rusak dan masih renovasi kali. Atau mungkin para fotografer ada yang berpendapat lain?

Cuaca sore itu mendung, beberapa gambar yang gue ambil jadinya gelap nggak karuan. Sebel deh. Berkali-kali gue coba, hasilnya sama. Jadilah gue sibuk ngatur arah cahaya (padahal matahari pun entah di mana. Lupa pula gue kalau di HP ada kompasnya). Pengunjung laen pada sibuk pacaran, gue sibuk melangkah ke belakang, kanan, kiri.
Setelah memastikan dapat gambar yang oke, gue pun beralih ke candi berikutnya. Sebelum sampai ke Candi Sewu, ada beberapa candi lain, namun hanya candi kecil dan itu pun juga renovasi. Nggak begitu menarik. Yang menarik menurut gue adalah perjalanan menuju Candi Sewu. Full green. Sejuk. Tapi rada serem juga karena cuma ada gue sendiri di sana. Sekitar 200 meter di depan, ada rombongan orang bule. Di belakang nggak ada siapa-siapa (hiyaaa). Udah gitu, gue tiba mules. Efek parno kali ya. Gue pun berjalan cepat. Tapi berhubung jarak yang ditempuh memang jauh banget, tetap aja nyampenya lama. Ketika gue melihat tulisan Candi Sewu plus tanda panah, maka seketika hilanglah rasa mules gue (nah, bener kan gara-gara parno).

Sesuai namanya, Candi Sewu adalah candi yang jumlahnya seribu. Gue sih nggak niat ngehitung, gue mah percaya aja ama legenda si Roro Jonggrang. Keadaan Candi Sewu boleh gue bilang agak mengenaskan, karena sebagian besar adalah puing-puing. Ya butuh waktu memang untuk mengembalikannya seperti semula. Meski nggak akan 100% bisa. Menurut dosen gue, bagian candi banyak yang dicuri orang. Ya biasalah buat dijual. Nah kalau ada patung nggak ada kepala pun juga korban pencurian. Sayang banget. Piramida itu kok nggak ada yang nyuri ya? (hush!)

Di Candi Sewu juga sepi. Sepertinya orang emang nggak begitu tertarik sama candi selain Prambanan karena notabene landmark Yogyakarta. Nggak jauh dari arena Prambanan juga ada yang namanya Candi Plaosan. Sepi Juga. Candi Boko juga sepi. Eh ngomong-ngomong soal wilayah, Candi Prambanan ini ternyata terletak di perbatasan Yogyakarta dan Klaten. Tapi sepertinya tidak ada aksi berebut candi antar pemda.

Setelah dari Candi Sewu, gue melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah restoran yang menurut gue, asyik. Jawa banget dekorasinya. Di bagian depan ada sepeda onthel. Lalu ada pondok-pondok di mana tersedia kursi untuk rombongan. Berhubung restoran udah tutup, gue jadi bebas ambil gambar. Next time, gue pengen nyoba makan di sini deh. Kalau dari daftar menunya sih standar lah harganya.

Restoran ala Jawa itu adalah objek terakhir dari tur gue. Berhubung udah semakin sore, gue pun memutuskan pulang, naik Trans Jogja lagi.

Bagi Anda yang ingin ke Candi Prambanan, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan:

1. Kalau Anda dilema untuk memutuskan pergi sendiri atau rombongan, lebih baik rombongan. Supaya kalau hujan Anda tidak kerepotan megang payung dan kamera bersamaan. Nggak bakal parno juga kalau kebetulan lokasi sedang sepi.

2. Perhatikan petunjuk jalan. Kalau setelah dari Candi Prambanan Anda ingin langsung keluar, maka pilihnya jalan keluar. Kalau ingin melanjutkan ke candi-candi lainnya termasuk berinteraksi dengan rusa-rusa, ya silakan lanjutkan. Kalau bingung, silakan istikharah.

3. Sebelum masuk candi, ada baiknya Anda melihat peta area yang disediakan sebelum loket pengambilan tiket. Setidaknya Anda punya gambaran rute yang akan Anda lalui. Ini juga penting kalau Anda tidak terbiasa berjalan kaki 10.000 langkah per hari. Nggak lucu kan tiba-tiba Anda “mogok” di tengah perjalanan.

4. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan bikin malu ah!

5. Perhatikan tanda larangan. Ada beberapa bagian candi yang nggak boleh dimasuki. Please banget jangan dilanggar karena bisa jadi daerah itu sedang direnovasi atau karena alasan tertentu tidak boleh dimasuki. Ada pula tanda larangan tidak boleh menginjak beberapa bagian candi. Jadi patuhi saja karena kalau rusak, mungkin Anda nggak akan sanggup menggantinya dengan barang yang sama.

6. Jangan memberi makan rusa dengan makanan yang aneh-aneh. Jangan juga mengganggu mereka. Biarkan mereka hidup dengan tenang sentosa.

 

Jogja, 18 Februari 2012

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response