Carol (2015); Film Tentang Cinta Beda Usia yang Sulit Dipersatukan

Carol (2015); Film Tentang Cinta Beda Usia yang Sulit Dipersatukan
Carol (2015). Sumber gambar: IMDB

Usia tak menjadi batas seseorang untuk menemukan cinta yang paling diinginkannya. Jika orang lain menganggapnya sebagai dorongan puber kedua belaka, mengapa harus didengarkan? Musim dingin tak selalu identik dengan kebekuan. Tak melulu pergantian tahun sebatas perayaan tanpa makna. Mungkin saja, di saat itulah sebuah keputusan baru diambil. Keputusan yang akan mengubah segalanya. Keputusan yang harus mengorbankan hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Saya benar-benar senang bisa menonton Carol cukup awal, setidaknya sebelum perhelatan Golden Globe berlangsung tanggal 10 Januari 2016. Film dibahas habis-habisan di situs shewired.com jauh-jauh hari sebelum dirilis 20 November tahun lalu. Trailer film ini boleh dibilang biasa-biasa saja. Maksud saya, terkadang untuk kepentingan mengangkat sebuah produk, si produsen memperlakukannya secara berlebihan dengan membuat trailer yang seolah-olah asyik punya dan ternyata filmnya biasa saja. Dalam trailernya menampilkan cerita utama film ini. Seorang perempuan bersuami yang jatuh cinta pada seorang penjaga toko mainan, pada pandangan pertama.

Cinta pada pandangan pertama adalah alasan yang sangat mudah untuk mengalirkan sebuah kisah cinta manusia. Tak perlu didasari dengan simpati, empati, atau kedekatan. Sekali pandang dan sulit melupakan, itulah yang terjadi.

Cate Blanchett dipasrahi untuk menghidupkan karakter Carol Aird. Seorang perempuan dari kelas atas yang menyimpan rahasia dalam hal asmara. Pernikahan bukan sesuatu yang membuatnya merasa berarti. Kehidupannya setelah menikah menjadi begitu sempit. Terlebih suaminya tipe pria overprotektif. Hadirnya seorang putri di antara mereka seharusnya bisa menjadi perekat hubungan mereka yang mulai dingin. Tidak sesederhana itu. Carol ingin melepaskan dirinya, menemukan jati dirinya yang terkungkung. Carol dan Harge tinggal terpisah sembari menunggu perceraian.

Pernikahan, sebaliknya, menjadi hal yang akan terjadi dalam kehidupan Richard dan Therese Belivet. Keduanya ini berpacaran, tapi belum pernah sama sekali melakukan hubungan seks. Padahal dengan pacar sebelumnya, Richard sudah kehilangan keperjakaannya. Cinta sejati membuat Richard mau menunggu hingga Therese menjadi istrinya kelak.

Mengambil setting tahun 1950-an, Carol masuk dalam jejeran film-film drama percintaan rasa zaman dahulu. Pertemuan antara Carol dan Therese terasa begitu mudah. Kita pun bisa mengalaminya. Saat berada di suatu tempat, melihat seseorang di kejauhan, menemukan sesuatu yang menarik darinya, ingin mengajaknya berkenalan, mencari alasan untuk bertemu kembali.

Therese yang masih belia diperankan oleh Rooney Mara. Saya harus bilang, dia mampu menghidupkan karakter gadis muda dan lugu dengan wajah polos dan penurut. Rambutnya ditata kaku dan gesturnya jauh dari kesan penuh percaya diri. Sementara Carol yang sudah matang dan berpengalaman dalam kehidupan, tidak bertingkah berlebih-lebihan. Dia punya selera yang tinggi. Cara ia menatap pun meninggalkan kesan berkelas. Pergaulannya tidak dengan sembarang orang. Tapi cinta membuatnya harus melihat kehidupan yang lain. Dia jatuh cinta di saat ia harus meyakinkan pihak pengadilan bahwa dirinya layak mengasuh putrinya, bukan di tangan sang suami yang gampang mabuk. Harge bagai pungguk merindukan bulan. Di tahun-tahun itu, hubungan di luar dengan lawan jenis jelas merugikan.

Carol diberi pilihan, menyerahkan dirinya pada psikiater demi mendapatkan hak asuh atau memastikan asmaranya dengan seorang gadis yang sudah punya pacar.

Dalam durasi 118 menit. Sang sutradara Todd Haynes memvisualkan novel karya Particia Highsmith menjadi sebuah drama yang lengkap. Tidak hanya melulu menyoroti Carol-Harge-Therese-Richard dalam bingkai hubungan yang semakin lama semakin retak. Therese pun mampu menyalurkan bakatnya dalam hal fotografi yang awalnya iseng-iseng belaka menjadi sesuatu yang serius. Menjadi kariernya setelah dirinya harus patah hati ditinggalkan cinta. Ia tidak mau berlama-lama menunggu seseorang yang belum tentu akan mencarinya lagi setelah meninggalkannya begitu saja di sebuah kamar hotel di suatu pagi. Si pegawai toko mainan itu telah menjelma sebagai seorang jurnalis andal.

Trailer Carol:

Jogja, 6 Januari 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response