Catatan Dropadi; Pementasan Teater Sintenasmane

Tanggal 8 Desember 2012 jadi semacam hari bersejarah buat Teater Sintenasmane karena di malam itu mereka mengadakan pementasan Catatan Dropadi di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Ini juga jadi hari bersejarah buat gue, karena pertama kalinya nonton pertunjukan teater (mana tepuk tangannyaaa dooonggg?). Gue diajakin seorang teman buat nonton dan memang beberapa orang dari Sintenasmane gue kenal gitu deh. So, ya daripada malam minggu nangkring di bioskop doang, mending sebagian waktu gue bagi. Nonton bioskopnya tengah malem aja, secara pada premiere.

Harga tiket masuk Catatan Dropadi beragam sesuai dengan kelasnya, gue milih beli yang VIP walaupun itu nggak baris paling depan seharga Rp50.000. Paling depan itu buat undangan, entah itu orang-orang yang pernah berada di teater tersebut atau famili dari si pemain. Durasi pertunjukan hampir dua jam, dimulai dari jam 8, dan pintu sudah dibuka sejak 18.30.

Catatan Dropadi; Pementasan Teater Sintenasmane
Sumber gambar: Dok. TapakRantau

Tempat duduk terisi cukup banyak dan gue rasa penonton terpuaskan dengan apa yang ditampilkan teater yang semuanya perempuan ini. Dari contekan gue, ada beberapa informasi yang gue dapatkan, mulai dari inti dari lakon Catatan Dropadi ini, nama semua orang di balik layar dan para pemain tentu saja, juga tentang sejumlah pertunjukan yang pernah diadakan sebelumnya. Lembaran yang dibagikan bersama tiket ini baru gue baca ketika pertunjukan dimulai. Dengan memakai lampu hape, gue secara kilat dan terbatas membaca alur ceritanya karena gue nggak tahu Dropadi itu siapa dan apa hubungannya sama Pandawa.Ternyata, begitu ceritanya (loh gimana?).

Raja Dropada (Rhere) memiliki putri bernama Dropadi (Monica Federica Ghiotto) yang menurut gue sangat religius melihat dia tipe yang selalu berdoa. Salah satu isi doanya adalah meminta lelaki yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Dia menginginkan lelaki itu memiliki kesempurnaan, terwakili dalam 5 unsur, di antaranya kesetiaan dan kebijaksanaan. Sayembara pun diadakan dan berbondong-bondonglah pemuda yang datang. Mereka kebanyakan para pangeran atau bangsawan yang songong. Tantangannya adalah mencabut busur dan panah. Mereka semua tenyata gagal. Lalu datanglah Arjuna (Agil Tri) yang kemudian mengikuti sayembara itu. Arjuna berhasil dan dia pun boleh membawa pulang Dropadi sebagai istri.Ketika sampai di rumahnya kembali, dia kemudian mengumpulkan keempat saudara-saudaranya, ya siapa lagi kalau bukan Yudistira (Tutri Juni), Bima (Ikeu Novianti), Nakula (Marini), dan Sadewa (Ucil). Ketika dia memanggil sang ibu, Kunti (Erlita Hapsari), sang ibu kemudian memerintahkan untuk membagi rata apa yang dia bawa… jeng jeng!!! Ketika melihat apa yang dibawa pulang Arjuna, Kunti pun kaget. Rupanya perempuan dan bukan barang yang bisa dibagi-bagi. Tapi apa mau dikata, Arjuna pun merelakan istrinya juga menjadi milik saudara-saudaranya alias berpoliandri.Lalu suatu hari, para Korawa datang. Biasalah mengajak Pandawa berjudi dan Pandawa ini kan terkenal kalah mulu dalam berjudi (terlalu!). Korawa ini dipimpin oleh Sangkuni (Sofie). Oh ya Sofie juga merupakan penulis dari Catatan Dropadi. Sangkuni merupakan sosok yang tahu betul karakter Yudistira yang mudah dirayu (maksudnya buat berjudi). Dia lalu menyiapkan arena perjudian dan sudah bisa ditebak, Yudistira mau saja duduk di meja judi menghadapi Duryudana eh apa Dursanana ya? Pihak Korawa bisa dibilang tidak tanggung-tanggung dalam berjudi berbeda dengan Yudistira.

Jika Yudistira menawarkan Nakula sebagai budak Korawa, maka Korawa menawarkan puluhan pasukannya untuk jadi budak.Dalam perjudian itu, Yudistira berulang kali kalah dan Bima juga berulang kali memperingatkan agar permainan itu dihentikan. Tapi Sangkuni terlalu licik. Dia menertawakan Yudistira yang selalu tampak ragu-ragu hingga akhirnya mau juga terus berjudi. Akhirnya Pandawa kalah telak sampai Yudistira pun meletakkan mahkotanya sebagai tanda ia akan mengabdi pada Korawa.Sangkuni belum puas. Dia tahu Pandawa masih punya sesuatu yang berharga, yaitu Dropadi. Saudara-saudara Yudistira segera mencegah kakak sulung mereka agar tidak memasang Dropadi karena mereka sudah berjanji pada Dropada untuk menjaga harga diri Dropadi. Tapi yah begitulah Yudistira, dia masih saja berharap bisa menang. Dan, pada permainan terakhir, dia kalah.Dropada pun diseret dibawa keluar oleh salah seorang Korawa. Efek dramatis pun dimunculkan ketika Dropada dibawa si Korawa (duh lupa gue namanya siapa, maap yaa) dari arah belakang kursi penonton sampai ke panggung. Dropadi yang nggak tahu apa-apa pun menanyakan pada Pandawa. Dia marah besar ketika tahu dirinya dijadikan bahan pertaruhan. Dia lalu hendak ditelanjangi di depan para Korawa tetapi tidak berhasil. Dropadi lalu membuat sumpah di mana para Korawa ini akan menderita akibat perbuatan mereka. Klimaksnya lalu terjadi ketika Perang Baratayudha. Korawa kalah dan Pandawa akhirnya mendapatkan apa yang pernah direbut oleh Korawa, termasuk si Dropadi.

Jam 22.00 pertunjukan Catatan Dropadi selesai dan secara garis besar gue suka dengan semuanya, dengan musik, tariannya, tata lampu, dan dramatikal, dan lainnya. Kalau pun ada beberapa minus yang terjadi di panggung, hanya perkara teknis aja.Gue berharap sih bakal nonton pementasan dari Sintenasmane lagi karena menurut gue, pertunjukan yang dilakoni dengan semuanya cewek itu ya pasti akan berkesan berbeda meski lakonnya bukan sesuatu yang baru.So, always good luck Sintenasmane!

 

My room, Yogyakarta, 9 Desember 2012, 12.10 AM

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response