Cerita Secuil Kisah Kebersamaan Bersama Sahabat

in Personal by
Cerita Secuil Kisah Kebersamaan Bersama Sahabat
Kisah Kebersamaan. Sumber gambar: pixabay.com

7 Hari Tantangan Menulis Basabasi Store (LINE @zog5070k)

 

Tema hari kedua adalah Cerita Secuil Kisah Kebersamaan Bersama Sahabat. Kalau mau protes kenapa ada pengulangan kata, silakan langsung ke Mimin Suparmin.

Jujur, saya jarang punya sahabat yang bertahan lama. Bukan kenapa-kenapa. Waktu sekolah, kami pasti terpisah setelah lulus sekolah. Padahal sekolah kan tiap 3 tahun lulus. Kuliah juga gitu. Atau karena pernikahan memisahkan kami. #eaaaa. Serius deh, ketika sudah menikah, segalanya akan berubah. Teman baikmu pasti meletakkanmu ke nomor kesekian.

Saya cerita tentang satu teman saya saja di SMP. Namanya Halima. Bukan Halimah, apalagi Jessica Iskandar. Kami kenal sejak kelas 5 kalau tidak salah. Dia pindahan dari kecamatan tetangga. Badannya kecil, kurus banget, tapi secara kecerdasan inteligensia, saya angkat tangan. Tapi kami nyambung. Itu yang penting. Dia anak yang menghuni 10 besar ranking kelas. Kalau saya, yah, anak rata-rata.

Halima adiknya banyak, 7 apa berapa gitu. Selisihnya setahun-setahun. Tiap main ke rumahnya, saya pusing dengan keramaian itu. Maklum, saya kan anak tunggal. Kakak-kakak saya udah minggat sekolah ke luar kota maksudnya. Dia itu jarang berbicara tentang dirinya sendiri. Orangnya pendiam. Sama pendiamnya sama saya. Jadi kami cuma diam-diaman ampe bosen. Kalau udah bosen, barulah kami ngobrol. Weirdo kan kami hahahaha.

SMP kami masih melanjutkan pertemanan. Soalnya itu satu-satunya sekolah bagus di kampung halaman saya. Ada yang lain tapi, ah tidak perlu saya bahas. Tapi kami tidak satu kelas. Kami pisah kelas karena pembagian berdasarkan NEM. Dia sekelas sama yang cerdas-cerdas. Saya sama yang…sisa-sisanya. Memang tidak adil sih jika kemudian ada kelas unggulan. Guru-guru pun senang dengan kelas itu. Tapi ketimbang bersaing sama mereka, ya lebih baik berkompetisi dengan yang setara. Toh akhirnya saya bisa merasakan dapat peringkat kelas beberapa caturwulan. Ternyata menyenangkan dan berpotensi menumbuhkan kecongkakan permanen. Astaghfirullah!

Satu yang ingat dari Halima ini adalah ketika seolah memahami isi kepala saya. Jadi ceritanya gini. Pertama kali masuk SMP kan ada namanya MOS. Panitianya kakak-kakak kelas OSIS. Di situ saya mengalami pandangan pertama yang tidak terlupakan dengan salah satu dari mereka. Saya suka banget melihat dia. Nggak sok keren. Nggak sok galak. Malah sering senyum. Siapa yang nggak meleleh coba. Dari hari pertama saya sudah tahu namanya karena dia bagian baris-berbaris. Badannya tegap. Tingginya mungkin hampir 170-an senti. Saya juga tahu kelasnya. Teman-teman satu gengnya. Saya lupa nama gengnya apa, tapi mereka punya satu meja yang menjadi milik mereka ketika jam istirahat. Di depan tiap-tiap ruang kelas ada meja dan kursi. Nah, meja mereka paling ujung. Dia dan teman-temannya selalu ada di situ. Nggak usah repot nyari ke mana-mana. Saat pergantian pelajaran, kelas saya dan dia juga sering papasan. Nah saatnya buat lirik-lirik manja. Saya suka banget sama dia.

Pas acara peloncoan, kan anak-anak baru disuruh minta tanda-tangan panitia OSIS sebanyak-banyaknya. Kalau panitia yang lain jual mahal, dia itu ngasih tanpa syarat, ke semua yang minta ama dia. Tapi harus berbaris rapi. Yallah, dia berdiri sambil tanda tangan aja keren gitu. Maka, gimana nggak grogi ketika dia jalan di sebelah saya, atau duduk di sebelah saya. Apa iya nggak sesak napas. Dok, tolong pernapasan buatan! Saya suka suaranya, suka cara dia menatap, ternyata semakin mukanya dekat dengan muka saya, saya makin merasa bak debu yang terisap vacuum cleaner.

Nah, suatu hari saking cintanya, saya nulis inisial nama dia di tangan. Itu hanya inisial tapi sangat mudah dikenali karena satu sekolah yang punya inisial itu hanya dia. Saya kasih lihat ke Halima. Dia cuma senyum-senyum. Ya saya nggak butuh reaksi berlebihan sih. Saya hanya ingin dia tahu sebagai teman dekat saya. Tapi cerobohnya, tulisan itu terbaca teman saya yang lain. Dan reaksinya berbeda jauh, cemburu mungkin? Halima juga tahu, saya sering ngirimin si kakak kelas itu lagu. Di sana ada radio lokal. Penyiarnya teman seangkatan saya juga. Untuk menyamarkan modus yang-yangan yang nggak kesampaian, saya ngirim juga ke teman-teman segeng sang pujaan hati. Waktu itu zamannya Base Jam dan Dewa 19 masih vokalisnya Ari Lasso. Padahal, ya radio saya di rumah malah bisanya menangkap siaran Voice of America. Setahun kemudian, si kakak kelas lulus, dan saya pun beralih ke temannya si Halima. Tapi dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Tidak akan pernah sama. Tidak deg-degan. Mungkin udah habis energi saya untuk si kakak kelas. Tapi saya bahagia kok.

Lulus SMP, mau nggak mau, saya sama Halima pisah jalan. Saya ke Jogja, dia ke Makassar. Kami sempat kehilangan kontak hingga saya tahu kalau dia kuliah di Jogja. Tapi ya, semuanya sudah berubah. Dulu, belum ada HP dan saya nggak tahu dia tinggal di mana. Kami sempat terhubung kembali tapi hanya sebentar, lalu saya dengar dia kembali ke Makassar untuk S2.

 

Jogja, 24 Juli 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Personal

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co