Chevalier (2015) Mengangkat Tentang Kompetisi Kesempurnaan

Chevalier (2015) Mengangkat Tentang Kompetisi Kesempurnaan
Chevalier (2015). Sumber gambar: moviepostershop.com

Jika sebelumnya saya mengulas film The Neon Demon tentang dunia modeling yang mengutamakan kecantikan paras, maka Chevalier merupakan sebuah film drama berbumbu komedi dengan 6 pria yang berusaha memenangkan kompetisi orang yang paling hebat dalam hal apa pun.

Chevalier yang ditangani sutradara perempuan berdarah Yunani Athina Rachel Tsangari, mengajak kita untuk menikmati damainya Laut Aegea dari sebuah yacht sewaan 6 pria. Hanya 2 yang bersaudara, sisanya adalah kolega. Perlahan-lahan kita akan tahun hubungan antara satu tokoh dengan lainnya. Sabar saja, itu sebenarnya tidak sedemikian penting.

Chevalier adalah sebuah cincin yang dijadikan hadiah untuk siapa pun yang berhasil memenangkan kompetisi bisa segalanya ini. Kompetisi yang berlangsung selama mereka berada di kapal tersebut. Bahkan hingga kapal telah merapat kembali di Athena, mereka masih di dalam bersama pada kru kapal.

Asal usul kompetisi ini adalah komplain yang dilakukan Yorgos ketika suatu malam mereka memainkan sebuah game dan dimenangkan satu orang terus-menerus. Dia berkata dengan sinis, wajar saja menang, kawannya memang jago di permainan itu. Untuk mengisi waktu luang selagi tidak ada jadwal menyelam atau memancing, terpikirkan permainan yang akan mengukur siapakah yang paling hebat dalam hal apa pun. Hadiahnya adalah cincin Chevalier kesayangan si dokter. Tentu saja cincin itu jika berpindah pemilik akan dibeli.

Sumber gambar: IMDB

Awalnya, kompetisi ini berjalan menyenangkan. Tiap-tiap orang boleh menyiapkan tantangan dan buku penilaian. Mana yang lebih dulu menyelesaikan kompetisi, itulah yang mendapat pon tinggi. Jika kalah, menjadi poin minus. Cara berperilaku pun juga dinilai. Mereka benar-benar ingin menampilkan sisi baik-baiknya saja. Jangan ketawa jika ada salah satu mereka harus menyembunyikan mabuk lautnya dari yang lain agar tidak dapat poin minus.

Apa saja kompetisi yang harus mereka jalani? Ada kompetisi kecepatan bersih-bersih kapal, tes kesehatan dengan mengambil sampel darah, melempar koral ke laut, ereksi paling lama, paling gesit saat ada yang butuh bantuan, gaya tidur, hingga menahan amarah.

Kompetisi tidak hanya mencambuk masing-masing individu agar menyembunyikan aibnya, tapi saling mencari kawan untuk berkonspirasi dan menebak-nebak siapakah yang akan memenangkan kompetisi itu. Beberapa kru kapal pun tidak mau kalah menebak pemenangnya.

Film dari negeri asal para filsuf dunia, Yunani, ini masuk dalam sejumlah penghargaan, seperti Cartagena Film Festival, Hamburg Film Festival, IndieLisboa International Independent Film Festival, London Film Festival 2015.

Meski disutradarai seorang perempuan, semua tokoh dalam filmĀ Chevalier adalah laki-laki.

Trailer Chevalier:

Jogja, 28 Januari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response