Close-Knit (2017); Seorang Anak dan Seorang Perempuan Transeksual

Close-Knit (2017); Seorang Anak dan Seorang Perempuan Transisi
Close-Knit (2017). Sumber gambar: IMDB.

Close-Knit berjudul asli Karera ga honki de amu toki wa. Memenangkan Teddy Jury Award pada ajang Berlin International Film Festival 2017. Sang sutradara, Naoko Ogigami, bukan nama baru di Berlin International Film Festival. Di tahun 2008, dia membawa pulang Manfred Salzgeber Award untuk film Megane. Di tahun 2004 memenangkan Deutsches Kinderhilfswerk – Special Mention untuk film Barber Yoshino.

Ini adalah film LGBT Jepang pertama, kalau tidak salah ingat, yang saya tonton di tahun 2017. Terbilang langka juga yang masuk ke festival film kelas internasional sehingga saya tidak banyak tahu. Durasinya 2 jam 7 menit. Cukup panjang untuk menceritakan seorang anak perempuan bernama Tomo, yang tinggal sementara bersama sang paman, Maki, seorang pegawai kasir toko buku, karena ibunya tiba-tiba pergi begitu saja dari rumah.

Sang paman sudah paham betul kelakuan saudara perempuannya, Hiromi, yang sering menelantarkan anak satu-satunya. Maka, ketika Tomo datang, dia dengan senang hati membawanya ke rumah. Itu sesuatu yang biasa. Tapi, Tomo terkejut ketika mengetahui bahwa pamannya tinggal bersama dengan seorang perempuan tranfomasi dari laki-laki. Secara fisik, Rinko sudah menjadi seorang perempuan dengan sejumlah operasi. Tapi secara hukum, dia masih tercatat sebagai laki-laki. Sehingga, ketika terjadi apa-apa dengannya, dia adalah lelaki. Salah satu ketika masuk rumah sakit, Rinko tidak diizinkan satu bangsal dengan peremuan. Sementara untuk membayar kamar VIP, tarifnya ribuan yen.

Sebagai anak kecil yang belum pernah bersinggungan dengan warna-warninya kaum LGBT, Tomo merasa tidak siap. Sebaik apa pun dan sepintar masak bagaimana pun juga si Rinko, dia tidak dengan mudah bisa akrab.

Awal pertemuan Rinko dan Maki adalah panti jompo tempat ibu Maki dirawat. Rinko adalah salah satu perawat favorit di sana. Dia telaten dan sabar menghadapi tingkah orang-orang yang usianya sudah lanjut, termasuk ibu Maki yang sering kali tidak mengenali orang-orang di hadapannya.

Semenjak kecil, Rinko sudah merasa jiwanya perempuan. Dia benci dengan aktivitas sekolah yang berhubungan dengan kemaskulinan. Dia bolos karena ketidaknyamanan. Ibunya bukanlah tipe yang bersikap antipati. Malah sebaliknya. Jarang sih ada orang tua yang sedari awal bisa menerima bahkan mendukung isi pemikiran anak yang tidak biasa seperti ini. Hingga dewasa, kedua orang tuanya selalu mendukung.

Rinko bukan satu-satu LGBT di dalam kehidupan Tomo. Seorang teman sekolah dan juga tetangga yang sering bermain dengannya, menyukai teman sekolahnya yang sesama laki-laki. Tapi, Kai, masih menyimpan rapat-rapat mengenai orientasi seksualnya dari sang ibu. Di sekolah, Kai sering di-bully homo dan tidak ada yang membela.

Rinko berkeinginan untuk mengurus surat-surat untuk mengesahkan identitas dirinya yang baru setelah membuat 108 rajutan berbentuk penis yang dibakar sebagai bagian dari ritual. Hobinya merajut pun ditulari ke Tomo dan Maki. Mereka bertiga bersama-sama membantu Rinko menyelesaikan misinya. Jika sudah sah menjadi perempuan, Rinko dan Maki bisa menikah. Rinko bahkan berkeinginan mengadopsi Tomo ketimbang luntang-lantung tidak jelas. Hiromi juga tak sedikit pun datang dan mencemaskan putrinya.

Close-Knit bisa dibilang sebagian sedih, sebagiannya lagi mengharukan. Untuk sebuah genre LGBT, penonton tentunya menunggu-nunggu kapan akan terjadi adegan ranjang. Bagaimana bisa beradegan ranjang jika Rinko, Maki, dan Tomo tidur satu kamar? Seharian, Maki dan Rinko bekerja. Tôma Ikuta cukup lihai memerankan seorang perempuan tanpa harus berdandan berlebihan dan terlihat genit, memperlihatkan lembutnya seorang perempuan, dan kehangatan seorang ibu walaupun tidak mudah membuat seorang perempuan bisa menerima kehadirannya.

Jogja, 18 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response