Club STRAVA; Tempat Kumpul dan Berkompetisi Maya Para Pesepeda

Club STRAVA memberikan benefit yang positif bagi diri kita dan juga memacu semangat berlatih setiap minggunya.

Sebelumnya saya pernah membahas tentang STRAVA secara keseluruhan. Sekarang yang akan saya bahas adalah satu keasyikan baru yang tidak saya temukan di aplikasi sport tracker lainnya. Di STRAVA selain menampilkan profil personal, juga ada club-club maya yang sengaja dibentuk untuk berkompetisi. Nah, jangan berpikir kompetisi itu seperti sesuatu yang menakutkan. Justru sangat menyenangkan, selagi kita membawanya ke suasana yang demikian.

Club STRAVA; Tempat Kumpul dan Berkompetisi Maya Para Pesepeda
Sumber gambar: ilovebicycling.com

Saya gabung dengan beberapa club STRAVA Yogyakarta, Komunitas Sepeda Polygon, Women’s Cycling Community, dan STRAVA Runners Jogja. Masing-masing club ada anggota yang aktif maupun tidak. Di club STRAVA Yogyakarta misalnya. Ada 78 pesepeda yang tergabung, tapi yang tercatat pada leaderboard hanya 10-20 pesepeda. Leaderboard hanya mencatat mereka yang menempuh jarak-jarak jauh secara mingguan secara komulatif. Jadi, menariknya, kita akan termotivasi untuk latihan dan latihan lagi. Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling rajin latihan. Setidaknya, kita bisa menjadikan catatan teman yang lain sebagai pembanding dengan diri kita. Apakah kita memang hanya bersepeda seperlunya, atau ada semangat untuk melatih kekuatan dan bersaing. Dan rajin latihan jelas ada benefitnya. Misal, saya menganggap bahwa rata-rata speed saya akan mentok di 19kph. Saya memperhatikan grafik pergerakan saya, banyak turun naiknya. Ketika kecepatan saya turun, maka akan mempengaruhi hasil keseluruhan nantinya. Kalaupun saya bisa memaksimalkan saat turunan, tidak akan banyak membantu. Lalu saya coba terus, sampai menemukan strategi yang paling mungkin saya lakukan. Cukup lama hingga saya mampu stabil di 21kph. Itu saya harus benar-benar menjaga endurance. Sepanjang 40 kilometer, saya tidak boleh gegabah menghabiskan tenaga di awal. Tidak pula menghabiskannya dengan santai-santai. Kemarin saya bisa naik ke 22kph dengan menjaga emosi untuk bermain high gear. Saya bukan Lance Amstrong yang spesialis high gear. Saya ke depannya masih menyimpan keinginan untuk bisa mencapai 25kph. Harus benar-benar sabar dengan sepeda saya itu.

Kembali ke bahasan, masing-masing club ada jagoannya. Saya yang hanya termasuk rata-rata rajin, sulit menembus urutan 5 teratas. Waktu yang saya punya untuk latihan hanyalah sepulang dari kantor. Pagi hari, tidak mungkin sempat jika ingin 30-40 kilometer. Itu pun tidak setiap malam saya latihan. Tubuh butuh recovery (pemulihan) yang cukup. Khawatirnya, saya malah sakit gara-gara memaksakan diri. Club yang saya sukai adalah Women’s Cycling Community. Isinya pesepeda perempuan. Setidaknya kami memiliki kesamaan jenis kelamin. Bagi saya, bersaing dengan laki-laki itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Di sini pun saya bisa mengadu porsi latihan dengan atlet triathlon Novita Lestari.

Dengan bergabung dengan beberapa club, saya jadi lebih sering mengecek STRAVA. Biasanya setiap pagi hari akan muncul update dari teman-teman saya. Seberapa jauh mereka latihan. Jika sanggup saya kejar, akan saya kejar. Di malam hari, saya bisa menempuh 40 kilometer dalam 2 jam kurang dengan mengelilingi Ring Road. Ada rute lain untuk jarak 30 kilometer dan 20 kilometer. Ada banyak wacana tentang kekurangan dari latihan malam, utamanya yang outdoor. Tapi bukan hanya saya lho yang melakukannya. Beberapa atlet saya tahu juga punya jadwal rutin di malam hari. Baik-baik saja asalkan tahu bahwa angin malam dan polusi adalah dua hal yang akan ditemui di jalan.

Coba saja bergabung di club atau mau membuat club dengan teman-teman dan berlomba-lomba menjadi yang terkuat di leaderboard.

 

Jogja, 16 Agustus 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response