Comedy of Juno (Moka Media, 2014); Perjuangan Comic untuk Menjadi Lucu

Comedy of Juno (Moka Media, 2014) Perjuangan Comic untuk Menjadi Lucu
Comedy of Juno (Moka Media, 2014)

Di dalam buku Comedy of Juno setebal 291 halaman, terbagi ke dalam 15 bab dan saya harus jujur kalau menghentikan pembacaaan hingga bab 8, artinya lebih dari setengah perjalanan. Sebelum mengungkapkan alasan melakukan hal itu, saya ceritakan dulu storyline dari Comedy of Juno.

Juno adalah seorang anak band yang pada suatu hari didepak oleh personel band lainnya karena terlalu idealis dengan musik rock yang dibawakannya, membuat orang yang tertarik mengundang mereka perform pun sangat terbatas. Dalam waktu 3 tahun, mereka hanya tampil 2 kali. Pihak yang paling keras kontra adalah Rano, cowok ini juga kakak dari pacarnya Juno, Renzi. Selang beberapa bab, Renzi kemudian minta putus dengan Juno. Lengkaplah, karier, cinta, dan sahabat hilang.

Merasa kecewa dengan perlakuan itu, ia pun mengadu pada sahabatnya, Stevan dan Juno kemudian mulai berkenalan dengan dunia stand up comedy, menjadi comic, itu sebutannya-bukan pelawak. Papa adalah tokoh comic yang kemudian menjadi mentor Juno yang sama sekali tidak mengerti teori-teori dalam dunia stand up comedy. Salah satu hal yang dituntut Papa adalah supaya Juno mulai menulis, terserah dalam bentu apa saja, asal bukan puisi. Awalnya susah, kemudian ia pun bisa melakukannya.

Lagi asyik-asyiknya belajar, teman masa SMA Juno hadir kembali. Ozi namanya. Katanya pas perpisahan SMA, si Ozi pernah meluk Juno sambil nangis. Ozi awalnya hadir untuk mengundang band Botani Bonsai untuk tampil di acaranya. Belum tahu kalau Juno sudah dikeluarkan dengan sadisnya dan Rano dengan mudah mendapatkan vokalis baru. Ozi tampak berempati begitu tahu kalau Juno bukanlah musisi rock lagi. Ia mendukung niat Juno untuk menjadi comic.

Sekarang, alasan saya menamatkan Comedy of Juno sebelum cerita benar-benar berakhir, adalah satu hal. Ceritanya terlalu sentral pada Juno. Dia sebagai sorotan utama sementara tokoh lainnya ada dalam porsi kecil dan tidak ada eksplorasi khusus. Konfliknya hanya Juno dan hidupnya. Sementara novel, bagi saya, butuh sub-konflik untuk memancing sewaktu-waktu pembaca jenuh “bertemu” tokoh utama. Saya suka dengan kerumitan yang ada dalam sebuah novel. Itu tidak ada dalam Comedy of Juno.

Ada banyak celah yang sebenarnya bisa diisi dengan adegan dramatis atau konflik-konflik minor tokoh lain. Saya paham kalau Juno ingin mengubah hidupnya dari rocker menjadi comic, tapi kan bukan berarti tidak boleh ada selingan cerita lainnya yang bisa jadi nanti ujung-ujungnya akan terkait dengan tokoh utama, kan? Hingga di tengah perjalanan saya tidak melihat ada tanda-tanda akan ada perubahan kiblat penceritaan. Dan rasanya sudah terlambat jika memasukkan itu di bab 10 dan seterusnya. Seharusnya dari bab 2 sudah ada tanda-tanda itu.

Yup, saya tidak bisa menulis lebih banyak dari ini. Dan saya harap Jacob Julian tidak ngambek guling-guling dan bergalau ria dengan lagu Aku Ora Popo-nya Jupe membaca tulisan saya. Terus berkarya, Jacob.

 

Yogyakarta, 1 Juni 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response